Be Mine

Be Mine
Calon Ayah yang Posesif part 1



Di sepanjang perjalanan, Kiara tampak terdiam dan hanya melihat pemandangan di luar jendela. Sedangkan Mega masih tetap memeluk lengan tangan Elang yang sedang mengemudi.


"Kiara, bagaimana dengan kuliah kamu hari ini? Aku dengan itu salah satu kampus favorite, apa keadaan di sana sesuai dengan apa yang orang-orang katakan?"


"Kampusnya sangat bagus, Lang, fasilitasnya juga sangat lengkap, dan aku berkenalan dengan seseorang, dia sangat baik."


"Hati-hati saja dia berteman sama kamu, Kiara. Jangan membohonginya lagi," sindir Mega.


"Aku tidak bermaksud membohongi siapapun, hanya saja aku memang belum siap menjelaskan dan aku sudah katakan hal itu," jawab Kiara datar.


"Sudahlah! Yang dulu itu tidak perlu dibahas lagi. Kita ini tidak lama akan menjadi sebuah keluarga besar, jadi, tidak perlu membahas hal yang sudah lewat."


"Aku hanya mengingat agar dia tidak kehilangan teman lagi."


Kiara hanya diam saja tidak mau melanjutkan berdebat dengan Mega.


"Kiara, apa kamu sudah mengetahui bayi kamu laki-laki atau perempuan?"


"Belum, Lang, usia kandunganku masih beberapa Minggu. Jadi, belum terlihat jelas, lagi pula aku tidak terlalu ingin mengetahui dia laki-laki atau perempuan, aku sudah sangat puas mengetahui dia sehat. Soal jenis kelaminnya biar menjadi kejutan saja."


"Pasti menyenangkan sekali membayangkan bisa menjadi ayah atau ibu. Aku dan Mega nanti kalau sudah menikahi, aku tidak akan menunda untuk memiliki anak. Kamu mau, kan Mega kalau kita cepat memiliki seorang anak?"


"Tentu saja aku mau, Lang."


Kiara tampak bahagia melihat Elang yang sepertinya memang telah benar-benar berubah dan dia sudah menerima Mega.


"Kiara, sudah sampai di apartemenmu."


"Terima kasih ya, Lang. Mega, terima kasih."


"Sama-sama, Kiara. Kamu hati-hati kalau naik ke atas karena kamu sedang hamil."


Kiara menganggukkan kepalanya dan dia keluar dari mobil Elang. Kiara melihat mobil Elang pergi dari sana dan kemudian Kiara masuk ke unit apartemennya.


"Kamu kenapa perhatian begitu pada Kiara?"


"Mega, kita akan menikah, kalau sikap kamu selalu menaruh curiga seperti ini, apa kita bisa menjadi pasangan suami istri yang harmonis nantinya?"


"Aku hanya masih takut saja, Lang."


"Kalau kamu mau menikah denganku, kamu harus bisa percaya denganku, Mega karena sebuah rumah tangga itu harus ada rasa saling percaya dan jujur. Begini saja, kamu sebenarnya mau menikah denganku apa tidak?" tanya Elang tegas.


"Lang, tentu saja aku mau menikah sama kamu. Aku sangat mencintaimu, Lang." Mega memeluk Elang.


"Kau juga sudah mulai mencintaimu, Mega." Tangan Elang mengusap lembut kepala Mega dan menyematkan kecupan kecil. Memang mulut Elang berkata mencintai Mega, tapi raut wajah Elang menunjukkan hal yang lainnya.


Bibi Yaya membukakan pintu dan dia terkejut melihat ada Kiara di depan pintu. "Loh, kok sudah pulang, Kiara."


"Aku tadi pingsan di sana, Bi dan aku disuruh untuk pulang dan beristirahat sama ketua panitia OSPEKnya."


"Kamu pingsan? Ya ampun! Sekarang keadaan kamu bagaimana?" Bibi Yaya langsung menyuruh Kiara duduk dan mengambilkan segelas air.


"Aku tidak apa-apa, Bi. Aku tadi sudah beristirahat di ruang kesehatan, mungkin aku hanya kelelahan saja." Kiara duduk sembari menghabiskan minumnya.


"Kalau begini, Bibi jadi mendukung Arthur yang melarang kamu kuliah dulu. Memang lebih baik kamu kuliah setelah melahirkan saja."


"Jangan begitu, Bi. Bibi nanti jangan cerita sama Mas Arthur kalau aku pingsan, kalau Bibi cerita, bisa-bisa aku tidak boleh kuliah beneran."


"Hm...! Kamu itu memang sangat keras kepala. Apa kamu tidak takut kalau nanti ada apa-apa sama kandungan kamu kalau kamu kecapekan?"


"Aku dan bayiku tidak akan kenapa-napa. Bibi juga harus selalu mendoakan aku agar aku dan bayiku baik-baik saja."


Tangan wanita paruh baya itu mengusap lembut pucuk kepala Kiara. "Bibi akan selalu mendoakan kamu dan bayimu karena kalian sudah seperti anak serta cucu bibi."


"Kiara, maaf, tadi aku sedang ada rapat penting dan aku tidak membawa ponselku. Pekerjaanku juga sangat banyak. Ada apa, Sayang?"


"Mas, aku sudah pulang. Jadi, kamu tidak perlu nanti menjemputku."


"Sudah pulang? Kenapa cepat sekali?"


"Iya, tadi soalnya hanya ada sedikit kegiatan, hanya mencatat saja untuk tugas besok." Kiara terpaksa berbohong pada suaminya.


"Benarkah?"


"Iya, Mas! Tadi aku menghubungi Mas supaya bisa dijemput, tapi tidak Mas jawab."


"Lalu, kamu pulang naik apa? Mobil online?"


"Aku tadi bertemu dengan Elang dan--."


"Apa? Elang? Dia yang mengantar kamu?" suara Arthur sangat kerasa sampai membuat Kiara menjauhkan ponselnya dari daun telinganya.


"Ih ... Mas ini! Dengarkan aku dulu!"


"Kiara, kamu katakan dengan jujur sekarang berada di mana? Kamu tidak sama Elang, kan?"


"Aku di apartemen, ini sama Bibi Yaya."


"Ganti! Ganti ke video call!"


"Iya-iya! Posesif sekali." Kiara menerima permintaan video call dari Arthur. "Sudah lihat aku di apartemen, kan?"


"Istri kamu ada di apartemen, Arthur dan dia baru saja datang karena tadi dia pingsan, jadi dia disuruh pulang," terang Bibi Yaya yang membuat Kiara terkejut.


"Bibi! Tadi katanya tidak akan bilang! Kenapa malah mengatakan pada Mas Arthur?" Wajah Kiara langsung cemberut.


"Bibi tidak mau disalahkan kalau ada apa-apa sama kamu dan bayimu. Arthur kalau marah lebih menyeramkan." Bibi Yaya berjalan pergi dari sana.


"Apa? Kamu tadi pingsan?"


"Aku sudah salah mengajak Bibi untuk bekerja sama."


"Kiara, tunggu aku di sana! Aku akan segera pulang, dan kamu jangan melakukan apapun." Wajah Arthur tampak marah. Dia segera mematikan panggilan teleponnya.


Arthur segera menghubungi Tante Maura dan dia meminta tolong agar Tante Maura datang ke apartemennya sekarang untuk memeriksa Kiara. Wanita cantik itu yang hari ini sebenarnya libur praktek, tapi karena mendengar jika Kiara baru saja pingsan, akhirnya mau datang ke sana.


"Mas Arthur kenapa jadi marah seperti itu? Dia marah karena aku sudah berbohong atau karena aku diantar oleh Elang ya, Bi?"


Kiara yang duduk di ruang makan sembari menikmati buat apel yang dikupas bibi Yaya bertanya pada wanita paruh baya yang sedang berdiri di depannya.


"Dia marah pada semuanya. Kamu juga sih! Kenapa tidak bilang saja kalau tadi pingsan dan menjelaskan jika tidak hanya Elang yang mengantarmu, tapi ada Mega juga?"


"Aku tadi mau menjelaskan, tapi Mas Arthur saja yang keburu cemburu hanya karena mendengar aku menyebut nama Elang."


"Wajar kalau Arthur masih cemburu karena bagaimanapun Elang itu mantan kekasih kamu."


"Tapi dia sudah benar-benar berubah loh, Bi. Dia lebih manis sikapnya, sama seperti Elang yang pertama kali aku kenal."


"Tapi kamu tidak jatuh cinta lagi sama dia, kan?"


"Tentu saja tidak, Bi! Cinta aku hanya buat si ayah bayiku ini, walaupun hari ini dia sangat menyebalkan!"


Bibi Yaya tersenyum melihat wajah Kiara dengan ekspresi kesalnya pada Arthur.