Be Mine

Be Mine
Pernikahan Mba Tami part 2



Kiara mendengar di telepon jika Arthur sangat bahagia saat bersama dengan Dean. Arthur seolah sedang bersama dengan putranya saja. Andai saja Kiara hamil dan mereka memiliki anak, pasti suaminya akan sangat bahagia.


"Sayang ... Kiara, kamu masih di sana, kan?"


"Oh iya, Mas!" Kiara yang sedang melamun tampak kaget dengan panggilan Arthur.


"Kamu sedang melamun? Sayang, kamu jangan melamun di dalam mobil online seperti itu."


"Aku tidak melamun, hanya sedang memikirkan sesuatu."


"Sama saja, Kiara. Ya sudah kalau begitu kamu tunggu aku di rumah. Nanti setelah urusanku di restoran selesai, aku akan segera pulang, dan kita bersama-sama datang ke acara resepsi pernikahan Tami."


"Iya, Mas, hati-hati di jalan."


Arthur mematikan panggilan teleponnya. Mobil Arthur sudah sampai di toko ice cream dan dua pria yang berbeda usia itu sedang menikmati ice creamnya dengan bersenda gurau. Dean tampak senang bisa makan ice cream ditemani oleh Arthur. Pun Arthur sangat senang karena ini, dia seolah sedang bersama dengan putranya. Dia seolah menjadi seorang ayah.


"Ice creamnya enak, kan?"


"Enak sekali, Om Arthur."


Tidak lama ponsel Arthur berdering dan itu ternyata dari Manda. Manda bingung karena Arthur dan Dean belum sampai di restoran, padahal jarak sekolah Dean ke restoran juga tidak terlalu jauh.


"Manda, aku lupa belum memberitahumu. Aku mengajak Dean pergi sebentar untuk membeli ice cream. Dia ingin makan ice cream karena katanya kalau meminta sama kamu, pasti tidak kamu perbolehkan."


"Pak Arthur saya minta maaf jika Dean malah menyusahkan Pak Arthur. Saya bukannya tidak memperbolehkan, tapi membatasi saja, Pak. Dean memang suka sekali sama ice cream. Sekali lagi saya minta maaf."


"Tidak apa-apa, Manda. Nanti aku akan berbicara dengannya agar menurut apa yang maminya katakan. Sebentar lagi aku dan Dean akan segera ke restoran."


"Iya, Pak."


"Mami pasti nanti memarahiku."


"Mami kamu tidak akan memarahimu karena Om Arthur nanti akan memberitahunya agar tidak memarahimu, tapi Dean harus menurut apa kata mami kamu. Mami Dean marah karena sayang pada Dean dan tidak ingin Dean kenapa-napa."


"Iya Dean mengerti. Om Arthur, Om Arthur kenapa tidak jadi papi Dean saja? Mami Dean pasti senang kalau Om Arthur menikah dengannya."


"Menikah dengan mami Dean?" Bocah itu mengangguk cepat. "Om Arthur tidak bisa menikah dengan mami Dean karena Om Arthur sangat mencintai Tante Kiara."


"Padahal Dean ingin memiliki papi seperti Om Arthur. Kata mami, Om Arthur itu baik seperti papi Dean yang sudah meninggal."


"Oh ya? Mami kamu pernah bicara seperti itu?"


"Iya. Makannya, aku mau kalau Om Arthur menjadi papi Dean."


"Kalau Om Arthur menjadi papi Dean. Tante Kiara sama siapa?"


Bocah kecil itu seketika meletakkan sendok ice creamnya. "Orang tua Tante Kiara sudah tidak ada ya, Om?" Om Arthur mengangguk karena memang Kiara pernah bercerita pada Dean jika dia sudah tidak memiliki kedua orang tua. "Kasihan Tante Kiara kalau Om Arthur menikah dengan mamiku. Kalau begitu Om Arthur jangan menikah dengan mamiku, Om Arthur tetap bersama tante Kiara saja. Mami masih ada aku, kalau Tante Kiara hanya Om Arthur yang dia punyai."


"Jadi, kamu sudah tidak ingin Om menjadi papi Dean?"


"Tidak jadi. Om bersama Tante Kiara saja, lagi pula walaupun Om tidak menjadi papi Dean, Dean bisa tetap berjalan-jalan dan bermain dengan Om Arthur, kan?"


"Tentu saja. Tante Kiara juga senang bersama dengan Dean."


"Iya, Om." Dean kembali melanjutkan makan ice creamnya.


Arthur tidak mau menolak permintaan Dean dengan bahasa yang kasar atau seolah dia tidak mau menjadi papi bagi Dean karena pasti akan bisa melukai perasaan Dean. Jadi, dengan cara seperti ini pasti Dean bisa mengerti.


"Kak Arthur," sapa seseorang di sana.


"Mega, kamu ada di sini?" Arthur melihat juga siapa yang datang dengan Mega di sana, tapi Arthur melihat dengan pandangan tidak suka. Pun dengan seseorang yang bersama Mega.


"Iya, aku mau beli ice cream. Kakak di sini sama siapa?" Mega melihat heran pada Dean yang duduk di sana.


"Aku sedang bersama Dean, dia anak dari Manda--managerku restoranku."


"Jadi, kekasih Kak Arthur sudah punya anak?"


"Tentu saja Manda bukan kekasihku, Mega. Kebetulan aku mau ke restoran dan melewati sekolah Dean. Jadi, aku jemput dia sekalian agar bisa bersama-sama ke restoran."


"Kamu mau menjemput anak dari manager kamu, Kak? Seperti bukan kamu saja, Kak."


"Mega, biarkan saja apa yang Kakak kamu mau lakukan, kita tidak perlu ikut campur. Sebaiknya kita pesan ice cream saja."


"Iya, kalau begitu aku akan memesankan ice cream untuk kita dan kamu cari saja tempat duduknya, Lang."


Mega berjalan pergi dari sana untuk memesan ice cream. Sekarang Elang dan Arthur saling memandang.


"Kamu memang pria yang pandai bermain permainan seperti ini Arthur. Kasihan sekali gadis yang sangat aku cintai itu telah salah memilih pasangan hidupnya, tapi nanti aku akan katakan pada Kiara, bahwa aku akan selalu menunggunya jika kamu menyakitinya, aku akan selalu ada untuk menyembuhkan hatinya."


Arthur mendekat dan menatap tajam pada Elang. "Jika tidak ada Mega atau Dean di sini, aku pasti akan membuat mulutnya pelajaran agar tidak berkata hal yang tidak mungkin akan bisa terjadi. Bersikaplah selayaknya gentleman dan terima semuanya."


"Kamu pikir semua ini mudah dan bisa aku terima dengan baik. Bagaimanapun aku masih sangat mencintai Kiara dan sekali lagi aku katakan, jika Kiara dalam hatinya yang paling dalam juga masih sangat mencintaiku."


"Dasar, sakit jiwa!"


Arthur tidak mau membuat keributan di sana karena pasti akan membuat Mega bersedih dan bahkan mamanya nanti turun tangan. Arthur membawa Dean pergi dari sana.


"Kak Arthur mana?" Mega yang menghampiri meja Arthur mengedarkan pandanganya mencari sosok kakaknya.


"Dia sudah pergi karena mau mengantar anak kekasihnya itu."


"Jadi, itu anak dari kekasih Kak Arthur?"


"Tentu saja, Mega. Tidak mungkin seorang Arthur mau dengan anak kecil kalau tidak ingin merayu ibu dari anak itu." Elang tersenyum miring.


"Iya juga, sih! Kakak aku bukan orang yang seramah itu. Dia dingin dan cuek."


Elang dan Dean sampai di restoran dan Dean segera berlari memeluk pinggang maminya.


"Kamu kenapa menyusahkan Om Arthur lagi?"


"Aku tidak menyusahkan, Om Arthur. Om Arthur yang menawarkan ingin membelikan ice cream."


"Tidak apa-apa. Manda, mata kamu kenapa?"


"Oh ini tidak apa-apa, Pak." Manda seolah menutupi sesuatu yang ada di wajahnya.


"Tumben kamu memakai kaca mata?" Arthur melihat curiga.