Be Mine

Be Mine
Makan Malam Romantis part 1



Arthur mengizinkan Bibi Yaya untuk pulang dan tidak perlu menyiapkan makan malam karena malam ini Arthur ingin mengajak Kiara makan malam di luar.


Arthur menggendong Kiara ke dalam kamar agar mereka dapat bersiap-siap. Beberapa menit kemudian Arthur yang sudah siap, dia malam ini menggunakan kemeja warna hitam tanpa mengancingkan dua kancing kemejanya.


"Mas, aku sudah siap?"


Arthur berbalik dan melihat istrinya mengunakan gaun berwarna hitam model rok selutut dan atasan u can see.


"Blazernya mana? Bukankah gaun itu ada blazernya?"


"Aku tidak mau pakai karena aku ingin tampil sexy di depan suamiku," ucap Kiara dengan wajah sumringah.


"Ok! Kalau begitu kita makan malam di sini saja dan nanti aku akan pesankan makannya. Ganti saja gaun kamu dengan memakai lingerie. Kamu akan sangat terlihat sexy." Arthur mengedipkan salah satu matanya dengan genit.


Wajah Kiara seketika ditekuk kesal. "Mas menjengkelkan!" Kiara berbalik badan berjalan menuju walk in closetnya untuk mengambil blazernya.


"Aku itu tidak mau kamu nanti masuk angin, Sayang."


"Alasan! Bilang saja cemburu!" teriak Kiara sembari berjalan dengan wajah kesalnya.


Arthur malah tertawa kecil, dia tampak senang melihat istrinya menggerutu marah seperti itu.


Di dalam mobil melihat Kiara yang wajahnya masih ditekuk kesal. "Sayang, ini pertama kali kita keluar bertiga. Kamu pasti senang sekali." Tangan Arthur sedang mengelus lembut perut Kiara yang tampak menonjol dengan gaun di mana bagian pinggangnya melingkar pita berwarna merah.


"Hm!" dehem Kiara pelan.


Arthur menjalankan mobilnya dan tidak lama dia menghentikan mobilnya tepat di depan toko bunga. Arthur turun dan Kiara tampak melihat suaminya sedang berbicara dengan seorang wanita di toko bunga itu.


Tidak lama dia kembali dan memberikan setangkai bunga mawar pada Kiara. "Untuk kamu."


"Mau merayuku?"


"Aku tidak sedang merayumu, tapi aku sedang menunjukan rasa cintaku." Kiara hanya diam saja. "Mau atau tidak menerima bungaku? Kalau tidak mau aku berikan saja sama wanita pemilik toko bunga itu." Arthur melihat pada wanita yang berada di toko bunga.


"Berikan saja sama dia, sekalian Mas bilang suka sama dia."


"Em ... ya sudah, kalau begitu aku berikan saja sama dia."


Arthur yang mau turun dari mobil tangannya langsung ditahan oleh Kiata dan Kiara dengan cepat mengambil bunga dari tangan Arthur. "Mas! Jangan bercanda terus! Apa mau aku menangis lagi?" Butiran air mata siap keluar dari kelopak mata Kiara.


"Aku hanya bercanda." Arthur memeluk istrinya itu. "Lagi pula untuk apa aku berikan bunga sama wanita itu, dia saja sudah punya banyak sekali bunga."


"Jangan bercanda terus, aku lapar, kita pergi sekarang saja."


"Iya, Tuan putri."


Arthur tersenyum dan dia mulai menjalankan mobilnya. "Mas, kamu benar sudah tidak marah soal Kak Kiano?"


"Aku sudah melupakan hal itu."


"Aku lega Mas sudah tidak marah. Oh ya, Mas! Saputangan milik Kak Kiano mana?"


"Sudah aku buang."


"Apa? Kenapa Mas buang?"


"Memangnya kenapa? Mau kamu simpan?"


"Bukan begitu, Mas! Itu saputangan mau aku bersihkan dan kembalikan pada pemiliknya. Kak Kiano itu tidak memberikan saputangan itu, dia hanya meminjamkan dan aku harus mengembalikannya. Kenapa malah Mas buang?"


"Aku marah dan tentu saja aku buang."


"Ya ampun!" Kiara sampai menepuk jidatnya.


"Nanti aku berikan yang baru saja dan nanti biar aku yang kembalikan."


"Apa?" Arthur tampak terkejut, dan dia menepikan mobilnya.


"Iya, Mas. Kak Kiano memiliki ibu yang dirawat di rumah sakit jiwa. Ayahnya selingkuh dan karena hal itu ibunya yang tidak bisa menerima sampai akhirnya menderita gangguan pada mentalnya."


"Oh Tuhan, kasihan sekali."


"Jadi, bagiamana ini? Aku tidak bisa mengganti begitu saja saputangannya karena itu pemberian ibunya. Kak Kiano pasti kecewa sama aku karena tidak menjaga benda berharga dari ibunya yang dia pinjamkan padaku."


"Kenapa kamu tidak bilang tadi?"


"Bilang bagaimana? Mas saja sudah marah dan langsung pergi begitu saja.


Arthur tampak berpikir, bagaimanapun juga ini tentang pemberian seorang ibu dan Arthur yang memang sangat sayang pada mendiang ibunya, jadi merasa bersalah juga sudah membuang saputangan itu.


"Mas buang di mana?"


"Di jalan menuju kampus kamu."


"Kalau begitu kita ke sana saja dan mencarinya, siapa tau masih ada. Ayo, Mas!"


"Lalu, makan malam romantis kita?"


"Besok juga bisa yang terpenting aku kembalikan dulu itu saputangannya. Ayo, Mas!" seru Kiara meminta suaminya menjalankan mobilnya.


Arthur akhirnya menurut dan mereka pergi ke arah di mana kampus Kiara berada. Di sepanjang perjalanan, Kiara melihat jalanan untuk mencari saputangan itu.


"Kita turun saja dulu dan mencari di mana saputangan itu berada."


Kiara dan Arthur akhirnya turun dan berjalan perlahan-lahan sembari menunduk untuk mencari saputangan milik Kiano.


Hampir setengah jam mereka tidak mendapatkan hasilnya. "Bagaimana ini, Mas? Aku harus bilang apa sama kak Kiano?"


"Kamu bilang jujur saja, kalau aku sudah membuang saputangan itu karena cemburu."


"Mas ini! Tetap saja tidak semudah itu. Masalahnya itu pasti saputangan yang penting dan berharga buat Kak Kiano."


Arthur melirik pada istrinya. "Kalau berharga, kenapa malah diberikan sama kamu? Apa karena menganggap kamu istimewa?"


"Jangan mulai deh, Mas! Posesif kamu dikurangi dulu. Bisa saja dia memberikan karena hanya itu yang bisa aku gunakan agar tidak terlihat aneh dengan lipstik itu. Kak Kiano itu hanya ingin menolong," Kiara menekankan kalimat terakhirnya.


"Iya. Lalu, kalau tidak ketemu bagaimana? Apa aku buatkan yang sama saja seperti itu?"


Kiara menghela napasnya dan tidak lama kedua matanya menangkap sesuatu seperti yang dia cari dan itu ada di dalam selokan kecil di dekat orang berjualan.


"Itu, Mas!" Kiara tampak senang dan langsung mengambilnya.


"Kiara itu kotor!"


"Saputangannya kotor, Mas. Nanti aku cuci saja."


Arthur mengambil saputangan itu dan memasukkan di bagasi. Dia memegang tangan Kiara dan mencuci tangan istrinya itu dengan tempat air yang memang ada di setiap jalan di sana. Kiara tampak tersenyum melihat pada suaminya yang dengan sangat perhatian membersihkan tangannya.


"Mas, kita pergi makan malam sekarang saja. Aku lapar," ucapnya manja dengan bibir mengerucut.


"Iya, kita akan pergi makan malam. Lagi pula masih belum terlalu malam. Aku juga tidak mau kamu dan calon bayi kita kelaparan."


Di dalam mobil, Kiara tampak tidak melepaskan pandangannya pada Arthur yang tengah mengemudikan mobilnya.


"Aku sayang sekali sama kamu, Mas."


"Mas juga sayang sama kamu, Kiara." Arthur mendaratkan kecupannya pada dahi Kiara. Arthur akan membawa Kiara ke restoran miliknya.