
Kiara segera berlari menuju di mana mobil Arthur sudah menunggunya. Kiara masuk ke dalam mobil dan segera menyuruh Arthur untuk pergi dari sana.
"Apa tadi Elang menemuimu?"
"Kenapa kamu tanyakan hal itu?" Kiara mengambil bukunya dan membaca dengan serius.
Arthur melihat istri kecilnya yang masih sekolah serius membaca bukunya. "Kalau Elang menemui kamu terus, sebaiknya kamu bersikap tegas padanya."
Kiara tidak menjawab pertanyaan Arthur, dia malah serius membaca buku pelajarannya. Pria itu akhirnya kembali fokus mengemudi.
Tidak lama mobil Arthur berhenti. Kiara yang melihat pada luar jendela tampak bingung. "Ini di mana?"
"Di kantorku, aku mau menyelesaikan sebentar pekerjaanku dan kamu bisa belajar di dalam ruanganku."
"Tapi Arthur, aku--." Kiara yang hendak bicara malah di tinggal keluar oleh Arthur. Arthur membuka pintunya dan mengajak istrinya itu keluar.
"Arthur, antarkan saja aku pulang dan nanti kamu bisa kembali ke kantormu."
"Nanti saja pulangnya karena aku masih ada urusan sama kamu." Arthur menggandeng tangan Kiara dan membawanya masuk ke dalam gedung besar itu. Beberapa karyawan Arthur yang melihat bosnya itu menggandeng seorang gadis dengan seragam putih abu-abunya tampak heran, apa lagi mereka tau jika itu bukan adiknya Arthur.
Kiara sadar jika dirinya dari tadi menjadi pusat perhatian di sana mencoba melepaskan tangan Arthur, tapi suaminya itu seolah tidak mau melepaskan pegangan tangannya, hingga mereka masuk ke dalam lift khusus untuk direktur utama di perusahaan itu.
"Arthur! Kenapa menggandeng tanganku seperti itu? Apa kamu tau, jika tadi orang-orang di sana melihat kita aneh?"
"Biarkan saja. Kalau mereka berani menggosip sesuatu yang tidak baik tentangku dan kamu, aku tinggal memecatnya," jawab Arthur santai.
"Mereka itu tidak menggosip, tapi melihat fakta yang ada. Mereka pasti mengira aku sugar baby kamu, seperti waktu kita makan itu."
Arthur hanya terdiam tidak menanggapi ucapan Kiara. Pintu lift terbuka dan Arthur sekali lagi menggandeng tangan Kiara. Arthur sekali lagi menggandeng tangan Kiara.
"Arthur, tidak perlu menggandengku."
"Bersikaplah biasa agar tidak ada yang menarik perhatian mereka."
Kiara akhirnya terdiam dan dia tidak mau malah terlihat seperti ada masalah antara dirinya dan Arthur.
"Pak Arthur," sapa sekretaris Arthur.
"Bawakan dokumen hasil rapat tadi ke ruanganku, dan jangan lupa makan siang yang aku pesankan ke kamu juga jangan lupa bawa ke ruanganku."
Mata sekretaris itu melihat sekilas pada Kiara. "I-iya, Pak."
Arthur kembali berjalan dengan Kiara masuk ke dalam ruangannya.
"Kamu belajar saja di sana sambil menunggu makan siangmu datang, dan aku akan menyelesaikan sebentar pekerjaanku." Arthur melepaskan suitnya dan dengan cepat menggulung kedua lengan bajunya.
Kiara memperhatikan pria di depannya itu yang sedang membaca dengan serius beberapa kertas yang ada di tangannya.
'Kenapa dia terlihat sangat gagah dan tampan jika seperti itu?" celetuknya dalam hati.
Arthur yang merasa ada yang memperhatikannya seketika mengangkat kepalanya
"Kiara, ada apa? Apa kamu sedang kesal padaku?"
"Iya, aku kesal sekali sama kamu! Kenapa malah mengajak aku ke sini?" Kiara yang tidak mau merasa Arthur sedang dia perhatikan mencari alasan dengan berbohong.
Arthur malah memberikan smirknya. Kiara yang melihat hal itu malah kesal beneran jadinya.
Gadis itu berkeliling melihat sekeliling ruangan kerja Arthur yang lumayan besar, bahkan lebih besar dari rumah Kiara.
"Iya, itu ibuku." Arthur melihat pada Kiara yang sedang memegang bingkai foto ibunya.
"Cantik sekali," puji Kiara.
"Kamu juga cantik," celetuk Arthur yang langsung membuat Kiara melihat ke arah pria yang sekarang melihat kembali pada kertas di tangannya.
"Apa tadi dia mengatakan sesuatu?" Kiara melihat bingung karena dia seolah mendengar Arthur mengatakan dirinya juga cantik.
Kiara duduk di sofa panjang dan dia mengeluarkan buku sekolahnya. Kiara mencoba mengerjakan latihan soal yang tadi ditugaskan oleh gurunya.
Arthur duduk di kursinya, dia sibuk menuliskan sesuatu di sana. "Selesai," ucapnya lirih. Dia kemudian melihat pada istrinya yang sedang serius belajar. Dia tidak berkedip sama sekali dari tadi memperhatikan Kiara.
"Ini dan ini dan--." Kiara seketika terdiam saat melihat pada pria yang sedang duduk agak jauh darinya, tapi masih satu garis lurus di hadapannya. "Kenapa melihatiku seperti itu?" Kedua alis Kiara mengerut.
"Tidak ada apa-apa. Aku melihati istriku sendiri adalah hal yang wajar 'kan? Yang tidak wajar itu jika seorang suami melihati wanita atau gadis lain."
"Terserah kamu." Kiara melihat malas dan dia kembali melanjutkan mengerjakan pelajaran sekolahnya.
Tok ... tok
Pintu ruangan Arthur diketuk oleh seseorang dan Arthur menyuruhnya masuk karena Arthur tau, itu pasti sekretarisnya.
Wanita yang adalah sekretaris Arthur itu masuk dengan dua orang OB yang membawa beberapa hidangan makan siang, dan mereka meletakkan di atas meja bundar di sana.
"Sudah semua yang Pak Arthur inginkan. Apa ada lagi yang bisa saya lakukan, Pak?"
"Tidak ada, terima kasih."
Wanita itu keluar dari ruangan Arthur. Kiara melihat ada beberapa hidangan makanan di atas meja. "Kiara, kita makan dulu dan nanti kamu bisa belajar lagi."
"Kenapa banyak sekali? Lagi pula aku tidak mau makan, nanti saja aku makan di rumah dengan Mba Tami."
"Nanti aku juga akan belikan makanan untuk Tami, tapi sekarang kamu makan siang dulu di sini. Aku juga sudah memesankan nasi kuning lengkap dengan ikan pelengkapnya."
"Apa?" Kiara agak kaget karena Arthur bisa tau makanan yang Kiara sukai.
Arthur menggandeng tangan Kiara dan mendudukkannya di depan meja makan yang memang ada nasi kuning lengkap dengan pelengkapnya.
"Apa kamu diam-diam mencari tau segalanya tentang aku, Arthur?"
"Apa hal itu dilarang?" Arthur mengambilkan sendok untuk Kiara.
Kiara mau tidak mau akhirnya makan siang bersama dengan suaminya, walaupun bukan suami yang dia harapkan.
Makan siang mereka berjalan dengan baik tanpa ada pembicaraan yang berarti.
"Arthur, tolong tanyakan tentang motorku. Kapan motorku bisa aku ambil?"
"Nanti akan aku tanyakan. Kalau memang mereka tidak bisa memperbaiki atau masih lama menunggu sparepart yang mereka butuhkan, aku akan pindahkan ke bengkel lain."
"Tidak perlu, aku bawa pulang saja karena pasti nanti biayanya akan lebih mahal. Aku tidak memiliki uang lebih untuk membayarnya nanti. Jadi, lebih baik aku bawa pulang saja."
Arthur mengeluarkan sesuatu dari dalam dompetnya. "Aku sudah mengurusnya agar kamu bisa menggunakannya. Kamu bisa mengganti nomor PINnya karena aku memakai nomor pin dari tanggal ulang tahunmu."
"Kartu ATM?" Kiara melihat heran pada kartu ATM yang disodorkan oleh Arthur di atas meja.
"Iya, itu aku sudah membuatkan untukmu dan kamu bisa menggunakan sesukamu. Terimalah."