
Setelah membeli baju yang disebut lingerie itu. Kiara dan Mega pergi ke toko aksesoris karena Mega ingin mencari tas dan beberapa aksesoris lainnya yang bisa digunakan nanti di sana.
"Topi ini bagus, kan?"
"Bagus, tapi bukannya kamu masih punya banyak topi di rumah? Aku waktu menginap di rumah kamu melihat satu lemari isinya topi semua."
"Nanti aku mau berikan pada anak dari salah satu pelayanku, tapi kalau kamu mau, kamu boleh ambil."
Kiara menggeleng cepat. "Aku tidak membutuhkan topi, lagi pula aku tidak suka memakai topi."
"Tapi kita besok ke pantai, nanti kepanasan kita kalau tidak pakai topi." Mega mengambil dua buah topi ala Noni Belanda.
"Banyak sekali. Kita mau ke sana cuma tiga hari, Mega."
"Untuk kamu dan juga aku, Kiara."
"Mega, aku tidak perlu kamu belikan juga. Tadi baju dan sekarang topi, tidak perlu, Mega." Kiara mengambil topi satunya dan mengembalikan pada tempatnya.
"Serius tidak mau?"
"Iya, Mega, aku tidak membutuhkan topi dan yang lainnya."
Bagi Kiara apa yang disediakan oleh suaminya sudah lebih dari cukup.
"Ya sudah! Bagaimana kalau setelah ini kita makan siang di lantai atas. Ada banyak hal yang ingin aku ceritakan sama kamu, Kiara." Kiara mengangguk dengan cepat.
Setelah membayar, mereka naik ke lantai atas, tapi saat melewati sebuah toko kue, Kiara ingat dengan kue yang disukai oleh suaminya. Dia akhirnya mengajak Mega untuk membeli kue itu yang nantinya ingin Kiara nikmati bersama dengan Arthur.
"Kamu suka kue rasa mocca? Sejak kapan? Setahu aku kamu suka rasa coklat, blueberry."
Kiara bingung menjawabnya. "Aku mau coba rasa baru karena waktu itu tetanggaku pernah memberikan cupcake rasa mocca dan ini ada kue rasa mocca siapa tau rasanya juga sama enaknya." Kiara meringis. Dia terpaksa berbohong lagi pada Mega.
"Oh ... kalau kakakku suka sekali rasa mocca, padahal aku pernah merasakan seperti ada rasa pahitnya. Jadi, aku tidak suka."
Itu memang Kiara beli buat Arthur, tapi nanti dia akan ikut menemani suaminya makan kue itu.
"Kiara, kamu kenapa tidak belanja yang lainnya, hanya membeli lingerie itu dan kue saja? Apa uang kamu tidak cukup? Kamu mau beli apa, biar aku yang membelanjakannya."
"Tidak perlu, Mega, aku masih ada uang, tapi aku memang tidak membutuhkan barang-barang lainnya dulu."
Kiara bisa saja membeli segalanya di sana, tapi hal itu tidak mungkin dia lakukan karena dia memang tidak mau Mega nanti curiga jika dia belanja sangat banyak.
Namun, tidak hanya itu. Dari dulu Kiara memang bukan gadis yang suka menghambur-hamburkan uang dengan belanja walaupun dulu saat masih ada ayahnya perekonomian keluarga Kiara sangat baik.
"Mega, biar aku pesankan makanannya, dan kamu duduk di sini saja. Kali ini aku yang akan mentraktirmu." Kiara tersenyum dan pergi ke stand penjual makanan yang disukai oleh Mega dan dia sendiri.
Mega yang tengah asik dengan ponsel di tangannya mendadak mendengar suara bunyi dari ponsel Kiara.
"Ini nada dering Kiara, dan sepertinya dia meletakkan di dalam tasnya."
Beberapa kali suara nada dering terdengar. Mega melihat Kiara masih mengantri di stand makanan.
"Apa aku angkat saja, Ya? Dari tadi berdering, takutnya itu penting." Mega tampak berpikir sejenak. "Apa itu dari Elang, ya?"
Mega yang ingin tau segera melihat lagi Kiara yang sedang berbicara dengan kasir di sana. Dia kemudian mengambil tas Kiara dan mencari di mana ponsel Kiara.
Ponsel Kiara yang masih berdering memperlihatkan nama panggilan di sana. "Mas Kesayangan? Siapa yang dimaksud Kiara dengan Mas Kesayangan?"
Mega yang mau menjawab panggilan itu, terlambat karena panggilannya tiba-tiba berhenti.
"Apa dia Elang? Tapi kata Kiara dia sudah tidak peduli pada Elang." Mega dengan cepat memasukkan ponsel Kiara pada tempatnya dan seolah-olah dia tidak melakukan apapun.
Tidak lama Mega melihat Kiara berjalan ke arah meja mereka dengan membawa satu nampan berisi penuh makanan.
"Maaf agak lama, tadi banyak sekali yang memesan makanan. Ini makanan kamu dan aku juga membeli ice cream untuk kita." Kiara tampak tersenyum senang.
"Terima kasih, Kiara. Kiara, dari tadi aku mendengar ponsel kamu berbunyi."
"Dari tadi berdering dan sepertinya penting."
Kiara melihat ada hampir tujuh panggilan tak terjawab dari suaminya. Kiara melirik pada Mega karena dia takut Mega tau siapa yang menghubunginya.
"Kenapa tidak kamu telepon balik? Siapa tau itu penting karena dari tadi berbunyi."
"Nanti saja, aku sudah mengirim dia pesan. Kita makan saja dulu karena aku sudah lapar."
"Dari Elang, ya?" tanya Mega cepat.
"Bukan, Mega. Kamu tau sendiri kalau aku dan Elang sudah tidak memiliki hubungan apapun dan aku juga tidak mau dekat dengannya."
"Lalu, dari siapa?"
Kiara tampak bingung menjawab pertanyaan Mega. "Ini dari kekasihku."
"Jadi kamu serius tentang kekasih barumu itu?" Mega melihat Kiara dengan serius.
Kiara mengangguk. "Aku sangat serius dengannya dan sangat mencintainya."
"Apa di hatimu benar-benar sudah melupakan Elang? Elang apa tidak ada sedikitpun di sana?"
Kiara menggeleng dengan cepat. "Hanya ada kekasihku yang sekarang sangat aku cintai."
Mega tampak bernapas lega. "Semoga Elang juga bisa melupakan kamu, Kiara. Aku ingin menjalani pertunangan ini dengan baik bersama Elang, tanpa ada yang menggangu."
"Kamu juga serius akan sampai setuju menikah dengan Elang?"
"Iya, Kiara." Mega menatap Kiara serius. "Aku akan menerima semua ini dan berharap Elang juga bisa menjalani semua ini denganku, tapi jika kamu malah memberi kesempatan padanya secara diam-diam dariku, aku pasti tidak akan bisa membuat Elang menerimaku." Sekarang Mega menatap Kiara dengan tatapan yang Kiara belum pernah lihat selama dia berteman dengan Mega.
"Mega, aku tidak akan menyakiti sahabatku sendiri. Aku tidak memiliki perasaan apapun lagi dengan Elang." Tangan Kiara menggenggam tangan Mega.
"Terima kasih, aku harap kamu juga bisa membuat Elang melupakan kamu dengan menjauh darinya."
"Pasti hal itu akan aku lakukan karena aku juga tidak mau orang yang aku sayangi salah paham jika aku terus sampai menanggapi Elang."
"Kalau begitu, coba kamu ceritakan bagaimana ciri-ciri kekasih kamu itu, dan bagaimana kalian bisa sampai jatuh cinta? Aku mau dengar sedetail-detailnya."
"Kita makan saja karena aku sangat lapar." Kiara malah melahap makanannya dengan sangat menikmatinya.
"Kiara! Jangan pelit begitu! Aku mau tau kisah cinta kamu sama kekasih rahasiamu itu." Tangan Mega menggoyang-goyangkan tangan Kiara yang hendak memasukkan sendok ke dalam mulutnya.
"Mega! Aku tidak bisa makan kalau begini. Nanti saja aku ceritakan detailnya, biar aku makan dulu."
"Nantinya kapan?"
"Kapan-kapan," jawab Kiara sembari terkekeh.
"Menyebalkan!" Mega langsung cemberut dan malah menumpahkan makanan pada baju Kiara.
Kiara akhirnya izin ke kamar mandi, dengan begitu pula Kiara mendapat kesempatan untuk menghubungi suaminya yang pastinya dari tadi menunggu panggilan dari Kiara.
"Halo, Mas."
"Ara, kamu masih di Mall dengan Mega?"
"Iya, Mas, aku masih makan siang dengan adik iparku."
"Adik ipar. Aku senang kamu menyebut Mega seperti itu."
"Dia 'kan memang adik iparku. Oh ya, Mas! Apa kamu sudah makan siang?"
"Aku belum makan siang, aku masih menunggu Gio karena dia mau mengajak makan siang di restoran kami sekalian dengan Manda nanti makan siangnya."