Be Mine

Be Mine
Tanda Tangan yang Menyusahkan



Kiara dan Momo berdiri berhadapan, mereka bingung mencari ke mana lagi ini para Kakak angkatan yang menjadi anggota panitia OSPEK?


"Kamu dapat berapa?" tanya Momo yang melihat Kiara duduk sambil minum air.


"Dapat tujuh dan aku benaran capek mencari tiga orang lagi. Mereka sepertinya sengaja menghilang agar kita susah mendapatkan tanda tangannya."


"Iya, sepertinya memang begitu. Aku sebaiknya menghubungi Kiano saja untuk membantu kita mencari tanda tangan lagi, tapi dia juga sepertinya menghilang. Haduh!" Momo menghela napasnya.


"Memangnya kamu kurang berapa?"


"Aku kurang satu dan ini aku sisakan buat Kiano, tapi dia sepertinya mau mengerjai kita para mahasiswa baru."


"Kan memang seperti itu. Para senior mengerjai para junior, seperti kita waktu pertama kali masuk SMA."


"Iya, juga dan kita harus menurut apa yang mereka lakukan, asal jangan keterlaluan saja. Eh, kamu kurang tiga, kan, kenapa tidak minta tanda tangan si judes itu? Pasti kamu belum minta tanda tangannya."


"Siapa maksud kamu, Momo?"


"CK! Itu si Delia."


"Oh ... Kak Delia?"


"Tidak perlu memanggilnya, Kak. Lihat saja kalau nanti aku sudah menjadi mahasiswi di sini, aku pastikan dia tidak akan sok."


Kiara malah terkekeh. Kamu itu kenapa? Aku lihat kamu benci sekali dengan Kak Delia itu."


"Habisnya dia sok dan judes sekali, apa lagi sama kamu. Kamu tidak benci sama dia?"


Kiara menggelengkan kepalanya pelan. "Aku tidak membencinya sama sekali, dan aku juga tidak ada dendam sama dia."


Momo menepuk jidatnya. "Seharusnya kamu benci saja sama dia dan supaya kamu punya motivasi yang kuat buat mengalahkan dia di kampus ini. Kata Kiano dia kakak angkatan yang cukup populer di sini, dan aku yakin dengan kecantikan dan kelembutan hati kamu, dia bakalan mendapat saingan yang berat."


"Ya ampun, Momo! Kenapa malah pikirannya sampai ke sana? Aku di sini niatnya untuk menuntut ilmu agar kelak ilmu pendidikanku ini berguna untuk orang lain, terutama anak-anakku. Saat mereka sekolah, aku bisa mengajari mereka kalau ada tugas sekolah karena pendidikan itu sangat penting."


"Kamu sudah punya pacar, makannya pemikiran kamu dewasa sekali. Pacaran, menikah dan memiliki anak, Kalau aku masih jomlo dan belum ada pemikiran seperti itu."


"Terserah kamu mau berpikir apapun, yang terpenting jangan pernah menaruh rasa benci atau bahkan dendam pada orang yang melukai kita karena itu nanti akan membuat hidup menjadi tidak tenang."


Momo menatap Kiara dengan mulut menganga seperti orang terpukau. "Kenapa melihatku seperti itu?"


"Aku baru pertama kenal orang seperti kamu. Em ...! Sebenarnya orang kedua sih karena yang pertama si Kiano itu. Dia sangat baik, apa lagi sama ayahnya yang aku itu pengen banget tonjokin mukanya kalau ketemu." Sekarang Momo terlihat marah sendiri.


Kedua alis Kiara tampak mengkerut melihat bingung padamu Momo. "Memangnya kenapa kamu membenci Ayah Kiano?"


"Ayah Kiano itu pria brengsek, dia tega meninggalkan ibu Kiano karena selingkuh dengan sahabat ibunya Kiano sendiri, tapi kamu tahu Kiano itu masih memaafkannya padahal gara-gara hal itu ibu Kiano sampai jatuh sakit dan akhirnya harus dirawat di rumah sakit jiwa, tapi kamu jangan cerita ini pada siapapun ya? Kasihan Kiano jika harus nanti dihina karena hal ini. Tidak ada yang tau apa yang terjadi pada Kiano."


Kiara sampai melongo tidak percaya dengan apa yang baru dia dengar. Di balik sikap Kiano yang seperti itu, ternyata dia memiliki kesedihan yang mendalam karena perbuatan ayahnya.


"Kasihan sekali Kak Kiano."


Momo mengangguk. "Iya, makannya waktu kenal kamu, entah kenapa aku melihat kamu itu cocok sama Kiano, apa lagi Kiano belum pernah aku lihat dekat sampai berpacaran sama dia. Banyak yang suka sama dia, tapi tidak ada yang sampai jadi pacarnya."


"Pikiran kamu jangan berjalan jauh-jauh. Aku itu tidak mungkin sama Kiano karena aku sangat mencintai kekasihku."


"Setia sekali. Sayang sekali ya Kiano terlambat ketemu kamu, dia dikalahkan sama Om-om." Momo malau tertawa seenaknya.


"Hei, kalian berdua!"


Seketika dua orang yang sedang bercanda itu beranjak dari tempatnya, mereka pun berjamaah menoleh ke belakang. Sekarang di depan mereka sudah berdiri kakak angkatan mereka dengan wajah marah.


"Enak sekali kalian berdua malah duduk santai dan bercanda di sini! Tugas kalian sudah selesai belum?" Delia bertanya dengan suara marah.


"Maat, Kak, kami tadi hanya duduk sebentar karena capek dari tadi mencari kakak angkatan untuk meminta tanda tangan. Mereka semua susah dicari soalnya," terang Kiara.


"Ya berusaha donk! Kamu jangan minta yang instan saja! Kamu pasti kebanyakan makan mie instan ya, sukanya yang instan!"


"Memang ada hubungannya sama mie instan? Aneh," gerutu Momo.


"Hei, Si Komo! Kamu bicara apa?"


"Kok si Komo? Nama aku itu Momo, Kak."


"Terserah aku mau manggil kamu apa! Tugas kalian sudah selesai apa belum?"


"Maaf, Kak, aku baru mengumpulkan tujuh tanda tangan dan Momo masih kurang satu."


"Dasar pemalas! Cepat kalian selesaikan karena tinggal setengah jam lagi dan tugas itu harus di kumpulkan di kelas yang sudah aku beritahu tadi. Kalau sampai kalian belum selesai, aku akan memberi hukuman buat kalian berdua. Kalian mau tau hukumannya?"


"Tidak mau tau," celetuk Momo.


"Kalian akan membersihkan kamar mandi yang sudah tidak terpakai di gudang belakang sekolah ini."


"Apa?" Momo tampak mendelik kaget. "Kalau tidak terpakai kenapa harus dibersihkan?"


"Terserah aku mau memberi hukuman apa sama kalian. Sekarang kerjakan tugasnya!"


"Iya, Kak," jawab mereka serentak.


"Kapan sih acara seperti ini berakhir. Menyebalkan!" ujar Momo kesal.


"Kamu kan kurang satu, kenapa tidak minta tanda tangan Kakak Delia saja? Tidak perlu menunggu Kiano."


"Cih! Tidak akan, sok jadi artis kalau aku mintai tanda tangan dia."


"Kalau begitu aku saja karena aku belum minta tanda tangan Kak Delia, tadi aku cari tidak ketemu."


"Dia kan memang jelangkung. Di cari tidak ketemu, tidak dicari dia muncul sendiri." Momo malah tertawa dengan senangnya.


Kiara akhirnya memutuskan mencari Kak Delia. Momo sebenarnya malas, tapi karena ditakuti oleh Kiara dengan hukuman yang Delia sebutkan tadi. Momo akhirnya mau mengikuti Kiara."


Kiara sudah mengatakan dengan sopan maksud dirinya menemui Delia. Delia melihat Kiara dari atas sampai bawah. "Kamu bisa mendapat tanda tanganku, tapi kamu harus melakukan apa yang aku perintahkan. Bagaimana?"


"Melakukan apa, Kak?" tanya Kiara sopan. Momo yang juga berdiri di samping Delia tampak melihat jika ada hal tidak enak yang bakal menimpa Kiara.


"Kamu tunggu sebentar." Delia mencari sesuatu dari dalam tasnya. Di tangannya sekarang ada sebuah lipstik berwarna merah menyala.


"Untuk apa itu, Kak?"