Be Mine

Be Mine
Kucing-Kucingan



Kiara benar-benar kaget saat dia terbangun di kamar hotel milik suaminya--Arthur. Mata Kiara langsung melihat ke arah jam di tangannya.


"Ya ampun! Sudah jam sepuluh malam."


Kiara segera bangun dan memunguti semua baju-bajunya. Kiara masuk ke dalam kamar mandi untuk berganti baju, setelah rapi dia segera menemui suaminya, tapi ternyata Arthur masih tertidur dengan lelapnya.


"Mungkin dia kecapekan karena perjalanan dari apartemen ke sini sangat jauh, apa lagi dia menyetir sendiri, sebaiknya nanti aku hubungi dia saja dan aku lebih baik sekarang kembali ke kamarku daripada nanti Mega melihatku tidak ada di kamar malah makin runyam."


Kiara menyelimuti tubuh polos suaminya, dia juga mengecup pipi Arthur, kemudian dia perlahan keluar dari kamar hotel suaminya dan menuju ke kamarnya.


Kiara melihat kanan kirinya, ternyata di sana sepi dia bisa bernafas sedikit lega, dia berharap semoga saja Mega sudah tidur jadi tidak tahu Kiara kembali ke dalam kamar.


"Tiara," panggil seseorang dari arah belakang. Kiara seketika langkah kakinya terhenti, dan dia perlahan menoleh untuk melihat siapa yang memanggilnya.


"Bu guru? Bu guru ada apa di sini?"


"Kiara, kamu dari mana? Ini sudah jam sepuluh malam. Kenapa belum tidur?"


Kiara bingung harus menjawab apa?


"Maaf, Bu, tadi saya sedang keluar jalan-jalan untuk mencari pembalut karena saya sedang halangan dan lupa membawa pembalut. Saya melihat suasana di luar sangat indah jadi saya berhenti sejenak untuk menikmati pemandangan malam di sini karena itu saya sampai tidak sadar jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam."


"Kamu itu jangan keluar malam-malam sendirian, Kiara, apa lagi ini di tempat asing, nanti kalau ada apa-apa bagaimana?"


"Iya, Bu, ini sekarang saya mau kembali ke kamar."


"Ya sudah kalau begitu, kamu cepat kembali ke kamar dan langsung tidur, besok pagi kita akan pergi ke daerah perbukitan untuk menikmati suasana yang indah di sana, bukankah kamu pernah bilang sama bu guru ingin mendaki di atas bukit dengan teman-temanmu.


"Iya, Bu, kalau begitu saya permisi dulu. Selamat malam, Bu."


"Selamat malam." Wanita paruh baya itu tersenyum pada Kiara.


Kiara mengelus dadanya lega. Sekarang dia sudah berdiri di depan pintu kamarnya. "Ya ampun! Aku lupa kalau kamar ini 'kan hanya memiliki satu ID card dan itu dibawa Mega, terus aku masuknya bagaimana? Kalau aku mengetuk pintu pasti akan membangunkan Mega, tapi kalau tidak mengetuk aku tidur di luar."


Tidak lama pintu kamar terbuka, Mega terkejut melihat ada Kiara di depan pintu.


"Kiara, kamu barusan pulang? Aku mau mencari kamu tadi, habisnya ponsel kamu tidak bisa aku hubungi."


Kiara nyengir di depan Mega. "Aku minta maaf, tadi bateraiku dayanya lemah, jadi aku matikan ponselku." Padahal Kiara mematikan ponselnya agar tidak dihubungi lagi oleh Mega atau siapapun.


"Kamu dari mana saja, Kiara? Kenapa juga baru kembali? Ini sudah jam sepuluh malam."


"Aku tadi melihat pemandangan di depan sangat indah, Mega, aku sampai lupa kalau sudah malam. Saat ingat aku langsung masuk ke dalam hotel. Sekarang aku mau tidur, mataku sudah ngantuk sekali."


Kiara berjalan masuk. Mega pun akhirnya ikut masuk ke dalam kamar. "Aku mau mandi dulu, Mega, rasanya tidak nyaman sekali."


"Ya sudah mandi sana, aku mau menghubungi Mamaku karena aku tadi sampai lupa belum menghubungi Mamaku sama sekali."


Kiara menyalakan ponselnya dan meletakkannya di atas meja laci dekat ranjangnya. Dia juga tidak lupa mencharger agar Mega percaya jika baterai ponselnya memang habis, lalu Kiara masuk ke dalam kamar mandi.


"Mega, kamu kenapa tidak membuka kamar sendiri di sana? Kenapa juga harus mau tidur satu kamar dengan Kiara? Apa Mama perlu menghubungi wali kelas kamu agar kamu dipindahkan ke kamar yang lebih bagus di sana? Dan biar nanti mama yang mengurus biayanya."


"Ck!" Tidak perlu, Ma, lagi pula hanya tiga hari dan tiga hari itu sangat cepat."


"Aku hanya bicara sedikit sama Elang, dia tetap saja yang diperhatikan adalah Kiara, Ma."


"Gadis itu benar-benar tidak tau diri. Kenapa dia harus ada antara kamu dan Elang, dan Elang juga. Apa yang membuat Elang sampai sangat mencintainya? Apa Kiara pernah tidur dengan Elang, sehingga sekarang Elang sangat susah untuk melupakannya. Dasar gadis murahan tidak tau diri. Bisa-bisanya dia menjual dirinya agar pria kaya takluk dengannya," suara Mama Alexa tampak marah.


"Ma, sudah dulu ya, aku mau tidur karena besok harus bangun pagi-pagi sekali."


"Sayang, nanti mama akan menghubungi Tante Kella agar dia menasehati Elang supaya melupakan Kiara atau Elang akan hidup menderita karena semua fasilitas yang sekarang dia miliki di tarik oleh mamanya."


"Ma, tapi jangan bilang aku yang mengadu pada mama karena hal itu malah akan membuat Elang semakin membenciku."


"Kamu tenang saja, Sayang karena mama punya cara sendiri. Sekarang kamu tidur dengan nyenyak dan kamu jangan menyerah untuk terus mendekati Elang. Kalian berdua itu pasangan yang sangat cocok."


"Terima kasih, Ma. Aku sayang sama Mama."


"Mama juga sangat sayang sama kamu, Mega."


Mega mematikan panggilannya, dan tidak lama dia mendengar suara bunyi ponsel milik Kiara. Ponsel milik Kiara berbunyi beberapa kali.


Arthur mencoba menghubungi Kiara, dia berani menghubungi karena mengira Kiara hanya menyalakan getaran saja. Jadi, pada saat Kiara tidur, dia masih terasa ponselnya bergetar.


"Mas Kesayangan?" Mega melihat ke arah pintu kamar mandi dan dia masih mendengar suara air dari shower gemericik, itu tandanya Kiara masih asik mandi.


"Sebaiknya aku terima saja, lagi pula siapa tau ini telepon penting untuk Kiara." Mega menjawab panggilan Arthur. "Halo," ucap Mega.


Arthur yang mendengar suara adiknya menutup mulutnya dengan saputangan untuk merubah suaranya.


"Ini bukan Kiara?"


"Iya, aku memang bukan Kiara, aku teman satu kamarnya. Namaku Mega, dan kamu siapa namanya?"


"Aku Max, Kiara ke mana?"


"Dia baru saja pulang dari jalan-jalan dan sekarang masih mandi. Apa ada yang penting? Kamu tenang saja, nanti akan aku sampaikan pada Kiara."


"Tidak ada, nanti aku akan menghubunginya lagi. Mega, terima kasih."


"Iya, sama-sama."


Mega mematikan ponsel Kiara dan dia tampak berpikir sejenak. "Kenapa aku merasa mengenal suaranya, Ya?" Mega sekarang terlihat bingung sendiri.


Tidak lama Kiara keluar dari dalam kamar mandi dengan memakai baju tidurnya. Dia melihat Mega yang wajahnya tampak seperti orang bingung.


"Mega, kamu kenapa? Kesambet?" Kiara duduk dengan tangan yang masih mengeringkan rambutnya dengan handuk.


"Tadi, Mas Kesayanganmu menghubungi berkali-kali. Jadi, terpaksa aku jawab saja."


"Apa?" Kiara tampak mendelik mendengar hal itu. Dia langsung menuju ponselnya dan melihat memang ada beberapa panggilan dari suaminya. Kiara lupa belum mengganti mode silent sehingga nada deringnya menjadi terdengar.


"Dia aku tanya apa ada pesan yang mau aku sampaikan pada kamu, tapi dia bilang nanti akan menghubungimu lagi."


"Kalau begitu aku akan menghubunginya dulu. Sebentar ya?" Kiara berjalan keluar dari kamarnya dan Mega tau mungkin Kiara tidak mau pembicaraannya dengan kekasihnya di dengar oleh orang lain.