
Mega menjadi bingung kalau begini. Dia apakah harus menyusul Elang atau menemani sahabatnya yang sedang berduka.
Mega melihat Kiara masuk ke dalam kamar tidurnya.
"Mba Tami, aku minta tolong jaga Kiara sebentar, aku mau mengantar Elang pulang dulu, dia tadi datang bersamaku dan aku kasihan jika membicarakan dia pulang dalam keadaanya seperti ini."
"Iya, kamu tenang saja."
"Nanti malam aku akan datang ke sini bersama dengan kakakku." Mega pergi dari sana.
Mba Tami hanya bisa menghela napas. Dia harus mengingatkan Kiara jika dia adalah seorang istri dan harus menjaga hati dan perasaannya kepala Elang, dan mba Tami harus membuat Kiara agar tidak berpikiran ingin bercerai dari Arthur.
Malam itu Kiara dibantu Mba Tami dan beberapa tetangga menggelar acara pengajian, dan acaranya berjalan dengan lancar.
Setelah acara berakhir, Mega yang ternyata dari tadi datang, tapi menunggu di luar karena melihat masih ada acara pengajian digelar, masuk ke rumah Kiara bersama dengan pria yang adalah suami Kiara.
"Kiara, maaf, tadi aku hanya bisa menunggu di luar bersama dengan Arthur."
"Tidak apa-apa. Terima kasih kamu sudah mau datang ke sini. Sebenarnya aku juga tidak ingin membuatmu repot, Mega."
"Kamu ini bicara apa, sih? Sikap kamu jangan berubah hanya karena tadi aku ke sini bersama Elang. Aku mengantar Elang ke sini bukan berarti aku membelanya. Aku tetap teman kamu dan menerima keputusan yang kamu ambil."
"Aku tidak berpikiran seperti itu Mega. Aku minta maaf jika ucapanku membuatmu kesal."
Mega memeluk Kiara. "Aku tau apa yang sedang kamu rasakan sekarang, semua itu pasti sangat berat. Malam ini biar aku menemani kamu tidur di sini, kalau perlu selama seminggu aku di sini tidak apa-apa."
Kiara menggeleng. "Tidak perlu seperti itu, Mega. Di kamarku sangat panas dan tidak senyaman di kamar kamu. Aku tidak mau nanti kamu malah tidak bisa tidur dengan baik dan akhirnya bisa membuat kamu sakit."
Mega terkekeh. "Jadi teringat waktu dulu aku menginap di sini, dan yang ada aku malah menyusahkan kamu karena merasa panas dan tidak nyaman dengan tempat tidurmu."
"Kamu tidak perlu khawatir, Kiara. Aku akan menginap di sini dalam beberapa hari sampai acara pengajian untuk ibu Kiara selesai. Kiara tidak akan sendirian."
"Iya, kamu tidak perlu khawatir padaku."
"Ya sudah! Em! Bagaimana kalau sekarang aku mengajak kamu makan malam di cafe favorite kita, Kiara? Kamu pasti belum makan dari tadi pagi. Aku itu tau siapa kamu, Kiara." Mega mencubit pipi sahabatnya itu.
"Aku tidak lapar, Mega. Kalau kamu mau makan, kamu makan saja, aku mau di rumah saja."
"Aku juga belum makan dari tadi siang karena bingung ingin segera pulang sekolah dan ke rumahmu setelah wali kelas kita memberitahu tentang kabar duka tentang ibumu."
"Kiara, aku juga lapar dan kebetulan juga tidak punya uang. Aku mau sekali kalau ditraktir," celetuk Mba Tami yang sebenarnya ingin Kiara mau makan.
"Tadi aku tawari untuk membeli makanan, tapi Mba tidak mau, dan ada uang di amplop yang sudah ibu siapkan untuk gaji mba Tami."
"Gampang soal itu, di sini kamu masih membutuhkan uang untuk acara ibumu. Soal gajiku nanti saja dipikirnya."
Kiara masuk ke dalam kamar dan mengambil amplop di dalam lemari ibunya. Kemudian dia keluar dan memberikan amplop itu pada mba Tami.
"Kiara tidak perlu sekarang, aku sebenarnya belum terlalu membutuhkan, kamu gunakan saja." Mba Tami tau jika pasti Kiara setelah ini tidak akan mau menerima bantu Arthur dan dia pasti pusing nanti memikirkan soal perekonomiannya.
"Ini hak, Mba Tami. Jadi, Mba harus menerimanya, atau kalau tidak ibuku pasti marah padaku."
Mereka sampai di cafe yang memang Mega sering makan di sana dan sering juga mentraktir Kiara di sana.
"Arthur kamu kenapa dari tadi diam saja?"
Arthur melihat pada Kiara. Pun dengan gadis itu yang sebenarnya takut jika Mega akan mengetahui tentang pernikahan antara dirinya dan kakaknya.
"Memangnya aku harus berbicara tentang apa?"
"Hm, Dasar! Kamu itu kalau sudah suka sama satu wanita, tidak bisa membuka hati lagi, dahal si Selena itu sudah menyakiti kamu."
"Aku sudah lama melupakan Selena, dia juga sudah bahagia dengan pasangannya."
"Kalau begitu kamu juga harus segera mencari pasangan, daripada nanti keburu dijodohkan mama sama anak dari temannya."
"Hah? Dijodohkan?" Mba Tami melihat kaget pada Arthur.
Kiara yang mendengarnya malah biasa saja. Dia berharap Arthur dijodohkan dan menikah dengan wanita itu sehingga mereka dapat berpisah.
"Aku tinggal menolaknya saja dan mengatakan jika aku sudah memiliki pilihan sendiri."
"Oh ya? Jadi, kamu sudah mempunyai kekasih?" Mega mendelik penasaran.
Arthur hanya terdiam dan melihat pada Mba Tami dan Kiara. Kiara berharap Arthur tidak membuka mulutnya pada Mega.
"Oh ... apa kamu sebenarnya ada hubungan dengan Mba Tami?" seloroh Mega asal saja.
"Apa?" Arthur wajahnya seketika kaget.
"Jangan-jangan kamu dan mba Tami ada hubungan, Ya? Kalau sama Kiara juga tidak mungkin, dia itu cintanya cuma sama Elang. Sok-sokan saja dia tadi serius putus sama Elang."
"Aku memang serius putus dengan Elang."
"Hm! Iya, tapi nanti jangan menyesal kemudian jika Elang punya kekasih baru karena aku tidak mau melihat kamu sedih.
Kiara terdiam sejenak. "Itu akan lebih baik jika Elang memiliki kekasih yang lebih baik dari aku," ucap Kiara lirih dengan kepala menunduk.
Beberapa detik di sana tampak hening. "Mega, kita pesan makanan saja sekarang karena aku sudah benar-benar lapar." Mba Tami ingin mencairkan suasana di sana, dan supaya tidak perlu membahas kisah cinta Kiara dan Elang karena hal itu sudah tidak pantas dibahas di depan suami Kiara, walaupun Mega tidak tau.
Mereka memesan makanan di sana dan menikmatinya bersama. Mega sesekali menyuapkan makanannya pada Kiara. Mega ingin supaya Kiara mukanya tidak terlihat sedih terus.
"Ara, lihat itu." Lengan tangan Mega menyenggol Kiara agar melihat pada meja yang dia tunjuk dengan isyarat kedua matanya.
"Ada apa?" Kiara tampak bingung.
"Sepertinya para cowok di sana melihat ke arahmu, Kiara. Lihat yang pakai sweater putih itu, dia dari tadi melihat ke arahmu," ucap Mega dengan berbisik pada Kiara.
"Biarkan saja, Mega." Kiara seolah tidak mau peduli, bukan karena ada Arthur, tapi Kiara memang gadis yang tidak gampang tertarik dengan cowok ganteng, apa lagi dia baru putus dengan Elang.