Be Mine

Be Mine
Kecurigaan



Kiara agak terkejut mendengar apa yang baru saja mamanya Mega katakan. Dia tidak menyangka jika kata-kata seperti itu akan dikeluarkan oleh mama dari sahabat baiknya.


"Mama, jangan bicara seperti itu. Kiara, kan tidak sengaja. Kami juga tadi sama sekali tidak melihat kalau mama datang. Lagi pula mama masih punya banyak baju yang lain."


"Tapi ini baju kesayangan mama, hadiah dari ayah kamu waktu ulang tahun pernikahan."


"Tante, sekali lagi saya minta maaf."


"Kamu jangan mengajak Mega melakukan hal yang sama sekali Mega tidak pernah lakukan. Permainan seperti ini tidak cocok untuk gadis sekelas Mega."


"Mama!" suara Arthur tiba-tiba terdengar di sana.


"Kak, tadi Kiara tidak sengaja melempar tanah liat ini dan terkena baju Mama. Mama marah karena ini baju kesayangan Mama pemberian ayah."


"Menjijikan sekali! Kamu juga, Mega. Jangan lakukan lagi permainan menjijikan dan kampungan seperti ini!"


Wanita itu berjalan pergi dari sana dan Mega berlari mengikuti mamanya. Kiara menatap pada suaminya dengan air mata yang berkaca-kaca.


"Arthur, aku benar-benar tidak sengaja." Kiara memperlihatkan tangannya yang masih belepotan sisa tanah liat yang dia tadi bawa.


Arthur tidak menjawab, dia dengan cepat menarik tangan istrinya itu karena Arthur tau jika istrinya itu membutuhkan tempat bersandar untuk menangis.


Benar saja, air mata Ara langsung meluncur dengan keras dan terdengar suara tangisnya yang coba diredam oleh Arthur.


Arthur membicarakan Kiara menangis dalam pelukannya beberapa menit sampai akhirnya Kiara yang sudah puas menangis menarik tubuhnya dan dia melihat pada suaminya.


"Bajumu kotor semua."


"Memangnya kenapa kalau kotor? Aku tidak peduli akan hal ini, yang aku pedulikan tentang perasaanmu saat ini. Apa sudah lebih baik?"


"Arthur apa aku boleh bertanya sesuatu?"


"Mau tanya apa?"


"Berapa harga baju mama kamu yang tadi sudah aku kotori?"


"Harganya bisa mencapai seratus juta, Kiara."


"Apa? Kamu serius?" Kiara seketika mendelik, bahkan mulutnya sampai menganga.


"Kamu mau mengganti baju mamaku?"


Kiara terdiam sejenak. "Aku mau bertanggung jawab, tapi--." Kiara menunduk.


Arthur menundukkan tubuhnya agar dapat melihat wajah istrinya. "Tapi apa?"


Kiara melihat pada Arthur. "Aku tidak memiliki uang sebanyak itu."


"Kamu punya."


"Jangan bercanda Arthur."


"Kartu ATM yang aku buatkan untuk kamu ada uang lebih dari seratus juta. Kalau mau menggunakannya, kamu bisa menggunakannya."


"Itu uangmu, Arthur, bukan uangku."


"Memangnya, kamu siapaku? Istriku bukan? Jadi uang itu adalah milikmu karena apa yang aku punya adalah punyamu juga." Arthur hanya ingin Kiara mau menggunakan uang yang adalah haknya karena itu adalah nafkah yang Arthur berikan.


Mega yang sudah membersihkan diri menemui Kiara dan Arthur di sana. Dia melihat kakaknya sedang serius bicara dengan sahabatnya.


"Kiara, kamu belum membersihkan diri? Dan, Arthur, kenapa kamu bisa kotor seperti itu juga? Apa Kalian tadi berpelukan?"


"Aku tadi memeluk Kiara karena dia menangis. Mama bagaimana?"


"Mega, aku minta maaf soal kejadian yang tadi."


"Mama sudah agak tenang di kamarnya. Kiara, sudahlah! Aku tadi juga sudah bicara sama mamaku dan mamaku tidak akan mempermasalahkan masalah ini." Mega mengusap pundak sahabatnya itu.


"Baju mamaku sangat mahal, Kiara."


"Iya, aku tau." Wajah Kiara tampak sedih.


"Kiara, sebaiknya sekarang kamu membersihkan diri dan kita bertemu di ruang makan."


Kiara mengangguk dan dia berjalan menuju lantai atas kamar Mega. Mega melihat ke arah kakaknya yang masih berdiri di sana.


"Kakak tadi memeluk Kiara? Kamu sebenarnya suka ya sama Kiara?"


"Kiara gadis yang manis dan baik. Siapa yang tidak akan suka padanya?"


Arthur berjalan dari sana setelah membuat adiknya itu bingung dengan jawaban Arthur.


***


Kiara sudah berada di ruang makan dengan Mega dan juga Arthur. Mereka akan makan malam, tapi masih menunggu mamanya Mega untuk ikut bergabung di sana.


Tidak lama wanita yang sudah mereka tunggu turun dari kamarnya. Alexa duduk dengan elegan pada kursi utama di sana.


"Tante, saya mau minta maaf sekali lagi, dan kalau boleh saya mau mengganti baju itu, tapi tunggu saya mendapatkan uangnya dulu. Saya akan menabung untuk menggantinya."


"Kiara! Baju mamaku sangat mahal. Bagaimana kamu bisa menggantinya?"


"Aku akan berusaha, Mega."


Arthur melihat ke arah istrinya itu. Dia salut akan keberanian dan rasa tanggung jawab yang istrinya itu lakukan.


Alexa menghela napasnya kasar. "Walaupun kamu bisa mendapatkan uangnya, tapi kamu tidak akan bisa mendapatkan baju seperti itu lagi karena hanya beberapa saja baju itu di produksi dan sudah habis. Aku sudah tidak mempermasalahkan lagi tentang baju itu, tapi lain kali jangan berbuat ceroboh seperti itu."


"Iya, Tante, aku tidak akan berbuat hal ceroboh lagi."


"Dan jangan mengajak putriku bermain permainan seperti itu lagi karena hal itu sangat menjijikan."


"Ma, aku yang memulai permainan lempar tanah liat itu."


"Sejak kapan kamu mengenal hal semacam itu? Sejak Kiara menginap di sini?"


"Tante, bukan salah Mega, aku yang memang mengajak dia bermain seperti itu. Aku hanya membantu tukang kebun menyiram tanaman, tapi malah akhirnya bermain air dan tanah dengan Mega."


Kiara tidak mau jika sahabatnya itu mendapat masalah dengan mamanya. Lebih baik dia saja yang disalahkan.


^^^Mama berikan saja aku gambar baju itu, aku akan mencarikannya untuk Mama," ucap Arthur.^^^


"Tapi, Arthur, baju itu sudah tidak mungkin bisa kamu dapatkan lagi."


"Apa yang tidak bisa aku lakukan, Ma?" Arthur menikmati makan malamnya dengan santai.


"Kakak serius mau membantu Kiara mencarikan baju itu?"


Alexa memandang aneh pada putranya. Dia seketika teringat akan ucapan mamanya Elang.


"Kenapa kamu mau membantu Kiara? Kamu tau harga baju itu, bukan? Mama tau jika kamu pasti bisa membelinya, tapi ini bukan kamu yang membuatnya kotor seperti itu?"


Arthur seketika meletakkan garpu makannya dan melihat datar pada mamanya. "Mama ingin tau kenapa aku mau membantu Kiara?"


Kiara sudah melihat ketakutan saja pada Arthur. Dia tidak mau kalau sampai Arthur mengatakan tentang pernikahan mereka.


"Iya karena tadi mamanya Elang menghubungi mama dan mengatakan jika kamu ada masalah dengan Elang karena Kiara." Wanita bernama Alexa itu menatap tegas sekali lagi pada putranya.


"CK! Pasti mama juga beranggapan aku menyukai Kiara karena membantunya. Ma, aku mau mengganti baju mama itu agar mama tidak memikirkan tentang baju spesial pemberian ayah itu. Dan untuk Kiara, aku hanya tidak suka saja melihat seorang gadis yang hidupnya sudah susah harus memikirkan mencari uang hanya untuk mengganti sebuah baju yang pastinya dia sendiri tidak akan sanggup mendapatkannya. Kasihan dia jika dia akan terus merasa bersalah pada mama dari sahabat baiknya."


"Benar juga apa yang dikatakan Kakak. Kakak memang orang yang baik dan tidak tegaan melihat orang lain menderita."