
Kiara ada di ruang tengah sedang mendengarkan bibi Yaya bercerita, Kiara tampak tersenyum bahagia mendengar Bibi Yaya menceritakan tentang masa kecil Arthur, padahal tadi Kiara tidak tertarik, tapi akhirnya dia mendengarkan.
"Kenapa aku merasa semakin hari istriku ini semakin cantik saja? Apa benar calon bayiku berjenis kelamin perempuan kalau ibunya yang mengandung terlihat cantik?"
Arthur yang ada di ruang kerjanya sedang melihat Kiara dari CCTV yang dia pasang di setiap ruangan yang ada di apartemennya.
"Aku akan sangat senang sekali jika anakku perempuan. Keinginanku dan Kiara yang ingin memiliki anak perempuan akan terwujud jika benar terjadi." Arthur masih melihati istrinya itu.
Tidak lama Bibi Yaya izin pulang pada Kiara karena dia sudah dijemput dan menyuruh Kiara untuk segera tidur karena Kiara pasti sudah lelah sekali.
"Bibi tidak bisa ya menginap di sini untuk malam ini saja?" Kiara tampak cemberut.
"Tidak bisa, Kiara, lagi pula ada suami kamu di sini. Bibi juga tidak mau menganggu waktu berdua kalian."
"Aku lagi malas sama Mas Arthur."
Tangan wanita itu mengusap lembut kepala Kiara. "Bibi tadi sudah mengatakan tentang kenapa Arthur bersikap begitu terhadap wanita itu. Coba kamu berusaha memaafkan kesalahannya."
"Nanti saja aku pikirkan, sekarang aku benar-benar masih marah sama Mas Arthur. Masih sakit, Bi."
"Ya sudah tenangkan dirimu dulu kalau begitu. Bibi mau pamit pulang dulu, nanti sampaikan salamku pada suamimu, bibi tidak mau mengganggu kalau dia sedang berada di ruang kerjanya." Kiara hanya mengangguk perlahan.
"Bi, hati-hati," suara Arthur yang tiba-tiba ada di sana.
"Arthur, bibi pulang dulu." Bibi Yaya memberi isyarat dari matanya agar Arthur meminta maaf pada Kiara. Arthur mengangguk pelan.
Sesudah bibi yaya meninggalkan apartemen Arthur. Kiara tanpa melihat ke arah suaminya dia melangkah melewati suaminya.
"Aku minta maaf, Ara. Aku tidak akan membawa lagi kebiasaanku di luar negeri di sini, aku mengakui kalau yang aku lakukan itu salah." Arthur menahan tangan Kiara.
"Aku memaafkan Mas Arthur, tapi hanya sedikit karena sisanya hatiku masih terasa sakit." Kiara melepaskan pegangan tangan suaminya. "Mas, tidur di bawah saja karena aku mau tidur sendirian."
Arthur agak terkejut saat mendengar Kiara meminta dia tidur di bawah. "Oh Tuhan! Aku benar-benar tidak menyangka akan jadi seperti ini. Dia kalau sedang marah sangat membuat pusing."
Kiara menutup pintu kamarnya dan dia merasa puas memberi sedikit hukuman pada suaminya. "Enak saja mengatakan jika itu hal wajar. Aku yang digendong oleh Kiano dengan maksud menolong saja dia sudah seperti itu. Ini dia malah berpelukan hangat dan mencium pipi," gerutu Kiara kesal.
Kiara melihat sekeliling kamar tidurnya dan dia jujur saja tidak terbiasa tidur sendiri seperti saat ini, tapi dia tidak mau menyuruh suaminya tidur di sana.
"Malam ini tidur sama ibu saja ya, Nak. Ayah kamu biar menjalani hukuman dulu supaya tidak berbuat hal begitu lagi." Kiara mengusap perutnya.
Dia kemudian berbaring dan menyelimuti tubuhnya. Kiara mencoba memejamkan kedua matanya.
Tepat tengah malam, perut Kiara berbunyi, dan benar saja dia merasa lapar.
Kiara ingat dengan kue yang disiapkan oleh Bibi Yaya di dalam kamarnya. "Mas, aku minta tolong." Tangan Kiara mencoba mencari sosok suaminya, tapi tidak menemukan apapun. Dia baru sadar jika suaminya tidak diperbolehkan masuk ke dalam kamar.
Kiara turun ke lantai bawah karena dia ingin mengambil air minum di dapur, tapi saat melintasi ruang tengah dan tamu dia tidak melihat sosok suaminya? Kiara berpikir jika mungkin suaminya tidur di ruang kerja.
Langkah kaki Kiara terhenti saat melihat punggung polos seseorang sedang berdiri di sana, tepatnya di dapur dan dia sepertinya sedang membuat sesuatu.
"Mas Arthur?" ucap Kiara pelan, tapi Kiara kemudian tidak mau menyapa suaminya dan bermaksud langsung mengambil air saja.
"Sayang, kamu lapar ya? Mau aku buatkan susu ibu hamil?"
"Tidak perlu, aku bisa buat sendiri," ucap judes Kiara. Kiara memang belum minum susu ibu hamil hari ini. Jadi, dia ingin sekalian membuat agar hilang rasa laparnya.
"Kamu bisa tidur di kamar tanpa aku?"
Tiba-tiba Kiara merasakan pelukan dari belakangnya. Ya! Arthur memeluka Kiara dari belakang dan menyandarkan kepalanya pada pundak Kiara yang sedang membuat susu ibu hamil.
"Aku bisa tidur, malahan aku bisa tidur dengan nyenyak di kamar." Kiara mencoba berkata bohong.
"Jangan bohong, kamu pasti tidak dapat tidur dengan nyenyak, buktinya kamu terbangun." Arthur tentu saja tau karena dia bisa melihat pada CCTV di ponselnya.
"Aku terbangun karena bayiku tiba-tiba lapar. Kata Bibi Yaya nanti semakin besar akan sering merasa lapar."
"Kiara, aku boleh ke kamar ya? Di sini tidak enak."
Kiara melepaskan pelukan tangan Arthur. Dia kemudian berbalik dan menatap mata suaminya. "Mas tidur di bawah sampai nanti sakit hatiku redah."
Kiara berjalan meninggalkan Arthur yang terdiam di tempatnya.
"Huft! Dia kenapa kalau marah lama sekali? Aku saja marah sama dia tidak bisa lama karena aku tidak nyaman jika harus jauh darinya, tapi kenapa dia betah sekali? Jangan-jangan Kiara perasaanya mulai berubah gara-gara bertemu dengan Kiano? ****! Kenapa aku malah berpikir buruk tentang istriku? Kiara itu istri setia, Arthur dan ini semua karena murni kesalahanmu," Arthur berdialog sendiri.
Arthur kemudian kembali ke sofa ruang tengah untuk berbaring di sana. Dia kemudian membuka kembali ponselnya dan ingin melihat istrinya yang berada di dalam kamar sendirian.
Arthur tampak terkejut melihat apa yang ada di dalam ponselnya. Dia melihat Kiara duduk di sofa panjang sembari menangis.
"Dia pasti sangat sakit hati padaku karena kejadian itu. Kiara maafkan aku sudah membuat kamu sangat sedih." Arthur mengecup ponselnya seolah dia sedang mencium istrinya itu.
Beberapa menit Arthur melihat pada layar ponselnya dan sampai akhirnya Kiara tidur.
"Kiara sudah bisa tidur, sedangkan aku di sini sangat tidak nyaman dan aku tidak dapat tidur di sini." Arthur tampak marah sendiri.
Dia kemudian memutuskan naik ke lantai kamarnya dan tidak peduli jika nantinya Kiara marah. Arthur akan siap menerima segala kemarahan istrinya.
Arthur sudah sampai di depan pintu kamarnya dan dia mencoba membuka pintu kamarnya, tapi ternyata Kiara sudah menguncinya dari dalam.
"Oh God! Dikunci?" Arthur wajahnya tampak tidak percaya jika Kiara akan tega mengunci pintu kamar mereka.