
Acara pernikahan Mega berlangsung sampai malam karena langsung dilanjut dengan resepsi.
Mega dan Elang tampak sedang mendapat banyak ucapan selamat dari para tamu undangan yang datang ke sana.
"Selamat ya untuk pernikahan kalian berdua," ucap Karin yang ternyata tidak pergi dari tempat itu. Karin hanya kembali ke kamarnya yang dipesankan oleh Elang di hotel tempat acara pernikahan berlangsung.
"Terima kasih atas ucapannya." Mega tersenyum dan Elang mengajak Karin untuk berfoto bersama di sana. Setelah Karin pergi dari hadapan mereka Mega bertanya siapa Karin karena Mega tidak mengenalnya.
"Dia anak baru yang magang di perusahaanku dan cara kerjanya sangat baik."
"Kamu suka sama dia?"
"Mega, kenapa kamu malah curiga dan berpikiran seperti itu?"
"Aku hanya tidak suka saja jika kamu terlalu dekat dengan wanita lain."
Elang menarik napasnya dalam. "Mega, kita ini sudah menikah dan aku berharap kita saling mempercayai. Aku sekarang adalah pemilik perusahaan yang besar dan aku harus bersikap baik kepada semua karyawanku termasuk anak baru."
"Aku hanya cemburu saja."
Elang tersenyum pada Mega. Tangannya pun mengusap lembut wajah Mega. "Kamu tidak perlu cemburu karena aku sudah menjadi milik kamu. Ini hari pernikahan kita dan au harap kamu tidak membuat suasana menjadi tidak enak."
"Iya, Lang, aku minta maaf."
Resepsi pernikahan berjalan dengan lancar hingga hampir larut malam. Semua tamu pun satu persatu pulang dan sekarang tinggal keluarga inti dari Elang dan Mega.
"Mama senang sekali karena putri kesayanganku sudah menikah dengan pria yang sangat dia cintai."
Kiara yang ada di sana hanya terdiam mendengarkan pembicaraan dua sahabat itu. Arthur yang juga duduk di sana menggenggam tangan Kiara.
"Lang, mama sudah menyiapkan tiket untuk kita pergi bulan madu seminggu lagi."
"Bulan madu? Tapi sepertinya kita tidak akan bisa pergi bulan madu dalam bulan ini, Mega."
"Loh! Kenapa begitu, Lang?"
"Mega, aku baru saja memegang perusahaan ayahku dan ada banyak hal yang harus aku kerjakan dalam satu bulan ini."
"Tapi apa tidak bisa kalau kamu berikan pada sekretaris pribadimu di sana saja untuk mengurusnya, Lang?"
"Mama Alexa, aku minta maaf jika harus menunda dulu untuk berbulan madu karena aku harus bertanggung jawab dengan pekerjaanku. Mama harus tau jika aku lakukan semua ini juga karena ingin bisa membahagiakan Mega yang sekarang menjadi istriku." Elang menggenggam tangan Mega.
"Tidak apa-apa kalau Elang mau menunda bulan madu kita, Ma. Kita bisa berbulan madu di sini saja, lagi pula aku sekarang yang menjadi istri Elang harus bisa menjadi support sistem yang baik untuknya."
"Terima kasih, Mega, kamu bisa mengerti hal ini. Aku janji kalau pekerjaanku di sini sudah selesai, aku akan mengajak kamu keliling dunia."
"Benarkah, Lang?" Elang menganggu dan Mega memeluk suaminya itu.
Alexa sekarang melihat ke arah Kiara, dia seketika teringat akan rencananya untuk mengajak Kiara tinggal di rumah utama.
"Kiara sayang, seperti apa yang mama ucapkan waktu itu tentang mama ingin anak-anak dan menantu mama kumpul dsn tinggal satu rumah. Kamu kapan mau pindah ke rumah utama? Mama nanti akan menyiapkan kamar yang sangat nyaman untuk kamu."
Kiara tersenyum senang mendengar apa yang mama mertuanya katakan.