Be Mine

Be Mine
Kiara Sakit



Kiara akhirnya turun dari kamarnya dengan wajah dan sikap tampak datar seolah tadi dirinya dan Arthur tidak terjadi apa-apa.


"Kenapa belum makan?"


"Aku sudah bilang jika aku mau menunggu kamu. Bisa ambilkan aku supnya?" Arthur memberikan mangkuk makannya.


Kiara tampak melihat pada mangkuk yang disodorkan padanya. Ini Arthur sepertinya minta dilayani seperti layaknya seorang istri bersikap pada suaminya.


"Iya, aku ambilkan." Kiara mengambil mangkuk milik Arthur. Dia menuangkan sup dan memberikan pada Arthur. Kiara juga mengambil sup yang dia buat.


Mereka berdua makan bersama. "Sup kamu enak, dan lebih enak lagi aku makan tidak sendirian seperti biasanya."


"Kenapa kamu tidak ke rumah Mega saja? Kenapa memilih tinggal sendiri di rumah mending ibumu?"


"Di sana aku lebih merasa nyaman walaupun sendirian."


"Memangnya kamu tidak menemukan kenyamanan saat bersama Mega dan mamamu?"


"Tidak."


"Kenapa? Bukannya mereka juga keluarga kamu? Apa lagi mamamu dan Mega terlihat sangat sayang sama kamu."


"Aku sendiri tidak tau. Mungkin aku memang awalnya orang yang sulit menerima orang baru."


"Lalu, bagaimana dengan keberadaanku saat ini?" Setelah menanyakan hal itu, Kiara seolah merutuki kebodohannya sendiri. Kenapa dia malah bertanya hal yang seolah dia sedang memancing perasaan Arthur padanya?


Arthur meletakkan sendok makannya dan melihat pada Kiara.


"Aku menyukai keberadaanmu, dan jangan tanya kenapa bisa begitu karena aku sendiri tidak tau jawabannya."


"Oh iya." Kiara terdiam sembari mengaduk-aduk supnya.


"Habiskan supmu dan segera tidur siang, supaya nanti malam kamu bisa belajar dengan baik."


"Kamu mau pergi?"


"Tidak, aku juga mau tidur siang denganmu karena aku mengantuk sekali, dua hari ini aku tidak tidur dengan nyenyak."


"Apa? Kita tidur siang bersama?" Kedua mata Kiara mendelik.


"Iya, hanya tidur, Kiara. Kita tidak melakukan apa-apa. Atau kamu ingin kita melakukan sesuatu?"


"Pikiranku tidak sampai di sana, Arthur, dan tidak akan pernah sampai ke sana." Kiara segera menghabiskan makanannya dan membawa alat makannya ke arah wastafel untuk dia cuci.


Arthur tersenyum miring dan melanjutkan makan siangnya.


"Tidur siang? Aku tidak pernah tidur siang, waktuku lebih baik aku gunakan untuk membantu ibuku di toko dari pada harus tidur siang," oceh Ara sembari mencuci piringnya.


Piring dan alat masak lainnya sudah tertata dengan rapi.


"Biar aku yang mencuci alat makanku sendiri, kamu sebaiknya beristirahat di kamar saja dulu. Tunggu aku di sana," lanjut Arthur yang membuat wajah Kiara seketika terlihat kesal.


Kiara duduk di atas ranjang besar nan empuk milik Arthur, dia terus menatap ke arah pintu menunggu pria yang adalah suaminya masuk ke dalam sana karena Kiara masih saya takut dan was-was pada Arthur.


"Kiara, kenapa belum tidur?"


"Aku tidak bisa tidur siang."


"Mulai sekarang kamu harus biasakan tidur siang untuk menjaga kesehatan kamu."


Kiara ini sebenarnya tidak enak badan setelah pulang dari rumah Mega, tapi coba Kiara tahan dengan ditambah dia minum obat.


"Kamu tidur di sini juga?"


Arthur berjalan mendekat ke arah Kiara. Sontak saja Kiara menjadi takut dan langsung duduk mundur pada tepi ranjang.


"Aku akan tidur di sofa depan kamu. Aku hanya mau mengambil bantalku saja."


Tangan Arthur mengambil bantal miliknya dan langsung membaringkan tubuhnya di atas sofa panjang berwarna hitam yang tepat ada di depan tempat tidur Kiara.


Kiara mendongak mencoba memastikan bahwa Arthur sudah tidur. "Sepertinya dia sudah tidur."


Mereka berdua yang sama-sama terlelap sampai tidak sadar waktu sudah menunjukan pukul tujuh malam.


"Ibu ... ayah ... Kiara sendirian. Ibu dan ayah ke mana?" Kiara mengoceh dalam tidurnya.


Arthur yang mendengar suara rengekan seseorang, membuka kedua matanya perlahan. Dia langsung beranjak dari tempat tidurnya dan melihat pada gadis yang sedang tidur dalam keadaan mengigau.


"Kiara? Dia kenapa?"


Arthur mendekat dan duduk di samping gadis yang masih memejamkan kedua matanya, tapi mulutnya meracau tidak jelas.


"Kiara, bangun. Oh Tuhan! Badannya panas sekali. Dia sakit."


Arthur mencoba mengambil kompres untuk Kiara, dia mengompres dahi Kiara. "Kiara, bangun." Arthur menepuk lembut pipi gadis itu.


"Ayah, aku rindu ayah. Ibu aku ingin memelukmu," racaunya sekali lagi.


"Dia panas tinggi sampai mengigau tidak karuan. Oh Tuhan! Bagaimana ini?" Arthur tampak cemas dengan keadaan Kiara.


"Ayah, kita sudah bertemu, aku ingin bercerita banyak hal dengan ayah."


"Kamu tidak akan kubiarkan menemui ayahmu karena aku tidak mau kamu pergi meninggalkan aku, Kiara."


Arthur segera menggendong Kiara dan membawanya ke rumah sakit. Arthur menghubungi seseorang dan dia menyuruh agar segera menemuinya di rumah sakit di mana dia membawa Kiara.


"Aku di mana?" Kiara mencoba membuka matanya, tapi terasa sangat berat.


Arthur mendudukan Kiara tepat di sampingnya. Dia beberapa kali melihat ke arah istrinya itu. Kedua mata Kiara terpejam dan tampak tubuhnya juga lemas.


Sesampai di rumah sakit. Arthur segera menggendong tubuh Kiara dan membawanya masuk.


"Arthur, dia kenapa?" tanya seorang dokter wanita dengan rambut dikuncir ekor kuda.


"Aku tidak tau, bangun tidur tubuhnya panas tinggi dan dia sampai mengigau tidak jelas."


"Kalau begitu langsung bawa ke ruanganku saja, dan aku akan segera melakukan beberapa tes padanya."


"Elena, tolong dia."


Wanita itu mengangguk perlahan dan segera masuk ke dalam ruangan untuk memeriksa keadaan Kiara.


Arthur di depan menunggu dengan cemas. "Dia pasti baik-baik saja."


"Arthur, kamu baru datang?"


"Gio. Aku baru datang ke sini dan Kiara langsung diperiksa oleh Elena."


Arthur dan Gio menunggu di depan. Tidak lama wanita yang bernama Elena keluar dari ruangannya.


"Gio," sapa Elena.


Gio dengan cepat mendaratkan ciumannya tepat pada bibir dokter cantik blasteran Indo-Jerman itu.


"Sayang, bagaimana keadaan Kiara?"


"Dia sudah aku berikan suntikan untuk menurunkan panasnya, tapi aku belum bisa mengatakan apapun sampai hasil labnya keluar dan kita bisa menunggu sebentar."


"Dia tidak hamil, Kan?"


"Hamil? Apa maksud kamu dengan hamil, Gio?"


"Dia itukan istrimu dan kalian sudah pernah melakukan hubungan, siapa tau karena hal itu dia hamil. Biasanya wanita yang tiba-tiba kurang enak badan itu karena hamil."


"Oh! Jadi dia istrimu, Arthur? Gadis itu masih sangat mudah untukmu."


"Iya, dia istriku, Elena, dan dia masih sangat muda. Oh ya! Apa dia hamil, Elena?"


"Kita tunggu hasil lab lengkapnya keluar karena kehamilan bisa diketahui dari hasil lab dan tes pack."


"Kalau dia hamil, kamu akan menjadi ayah, Arthur. Kamu akan memiliki seorang penerus untuk bisnismu."