Be Mine

Be Mine
Aku Ada Untukmu



Arthur mengajak Kiara masuk ke dalam mobil, bahkan Arthur juga memakaikan sabuk pengaman pada Kiara karena gadis itu sepertinya sedang memikirkan sesuatu sampai Arthur menyuruhnya memakai sabuk pengaman, tapi dia malah diam saja.


Di sepanjang perjalanan Kiara hanya diam tidak mengeluarkan satu kata pun. Arthur tahu sepertinya mamanya sudah bicara hal yang membuat hati Kiara sedih.


"Kiara, kita sudah sampai. Ayo kita turun!" Kiara hanya diam saja. Dia kemudian menatap pada Arthur dengan tatapan nanar.


"Arthur, aku mau pulang saja, aku tidak jadi tinggal di apartemenmu, aku tidak mau menyusahkanmu dengan keadaanku."


"Hei! Kamu bicara apa? Tidak ada yang kamu susahkan di sini, bahkan sudah kewajibanku menjagamu di saat kamu sakit seperti ini, Kiara."


"Bukan, Arthur, bukan kewajiban kamu untuk menjagaku. Kita menikah ini 'kan hanya karena hal yang tidak semestinya pernikahan harus terjadi, kamu tidak perlu bertanggung jawab pada kehidupanku." Kiara berkata diiringi dengan tetesan air matanya. Jujur saja perkataan mamanya Mega membekas di hatinya.


"Tangan Arthur mengusap lembut pada pipi istrinya, dia ingin mencoba menenangkan Kiara."


"Jika mamaku mengatakan sesuatu yang membuat hatimu sedih, jangan kamu masukkan hati, Kiara. Kamu adalah istriku bagaimanapun pernikahan kita terjadi, kamu istriku dan pernikahan kita sah di mata hukum serta agama. Jadi, jangan berpikiran jika kamu bukan tanggung jawabku."


Kiara tiba-tiba menangis menundukkan kepalanya, dia merasa menjadi orang yang sangat tidak berarti di dunia ini karena malah banyak menyusahkan orang lain.


Arthur turun dari mobil dan dia mengajak Kiara untuk turun, walaupun awalnya Kiara tidak mau tapi karena desakan Arthur akhirnya Kiara mau menerima uluran tangan Arthur, dan mereka berdua naik ke lantai kamar apartemen. Arthur menyuruh Kiara duduk dan mengambilkan segelas air untuknya


"Kita tidak perlu menyelesaikan perjanjian tiga bulan itu. Arthur, aku pulang saja dan aku akan mengurusi hidupku sendiri, aku yakin aku pasti bisa."


"Walaupun kamu bisa aku tidak akan membiarkannya. Kiara, ini hidupku dan orang lain bahkan keluargaku sendiri tidak dapat mengaturnya, aku sudah memilihmu menjadi istriku dan aku akan bertanggung jawab dengan apa keputusan yang sudah aku ambil."


"Aku benar-benar bingung, kenapa hidupku harus seperti ini?"


"Dengarkan aku! Kita tidak tahu akan seperti apa hidup kita, tapi jika kita menjalaninya dengan bahagia aku yakin kita akan menemukan kebahagiaan itu dan bagiku, kamu adalah kebahagiaanku." Kedua pasang mata itu saling menatap dengan dekat


"Arthur, aku--."


"Kalau begitu kita makan siang dulu, kemudian minum obatmu dan beristirahatlah, aku akan menjagamu di sini."


"Aku tidak mau beristirahat."


"Kiara, Wajahmu sudah pucat atau aku akan benar-benar tidak memperbolehkan besok ikut ulangan terakhir, aku akan membawamu kembali ke rumah sakit agar dapat dirawat di sana."


"Jangan, Arthur, aku ingin menyelesaikan ujianku dan tinggal besok ujianku selesai."


"Ya sudah, kita makan siang dulu."


"Kamu tidak kembali ke kantor seperti apa yang kamu katakan pada mamamu?"


"Aku tidak mungkin meninggalkanmu dalam keadaan sakit. Kiara, aku tadi mencari alasan saja sama mamaku. Sudahlah! Hal itu tidak perlu dipikirkan, sekarang bergantilah baju dan kita makan siang bersama." Kiara mengangguk perlahan.


Kiara berjalan menuju kamar tidurnya, sedangkan Arthur sedang menjawab panggilan teleponnya.


" Halo, apa ini dengan Pak Arthur? "


" Iya, ini siapa? "


"Saya Manda, Pak."


"Manda? Oh, aku minta maaf Manda karena aku tidak menyimpan nomormu."


"Tidak apa-apa, Pak karena bagaimanapun juga kita baru saja bekerja sama."


"Iya, ada apa kamu menghubungiku, Manda?"


"Pak, apa Pak Arthur bisa datang ke restoran sebentar? Ada hal yang harus saya tunjukkan pada Pak Arthur, saya juga ingin bicarakan hal yang penting."


"Apa tidak bisa diselesaikan dengan Gio atau ditunda dulu karena hari ini aku sedang banyak urusan juga, dan tidak bisa aku tinggalkan."


"Sayangnya tidak bisa, Pak karena ada beberapa dokumen yang harus saya urus mengenai restoran ini dan ada sedikit masalah yang harus saya jelaskan pada Pak Arthur di sini."


"Baiklah, Pak."


Arthur menutup panggilannya dan dia menunggu Kiara di meja makan. Arthur sudah memesankan makanan di restoran dekat apartemennya.


Makanan yang dipesan oleh Arthur baru saja datang dan dia segera menyiapkannya. Tidak lama Kiara turun dengan memakai daster bahan babyterry dan ada gambar kartun gadis cantik besar di tengahnya.


"Kenapa kamu tersenyum seperti itu? Apa ada yang salah denganku?"


"Kamu terlihat lucu dan manis."


"Baju ini sangat nyaman, dan aku selalu menggunakannya jika sedang melakukan pekerjaan di rumah."


"Baru kali ini aku melihat seorang gadis dengan pakaian yang sangat sederhana, dan aku menyukainya."


"Aku tidak punya baju mewah dan mahal seperti yang biasa orang kaya pakai walaupun hanya di rumah."


"Saat libur sekolah nanti, aku akan mengajak kamu belanja pakaian untukmu. Kamu boleh membeli apa saja yang kamu inginkan."


"Tidak mau! Aku harus mengatakan berapa kali sama kamu?"


"Kalau kamu tidak mau, aku saja yang membeli baju karena aku sudah waktunya membeli kemeja baru."


"Hah? Kamu mau membeli baju lagi? Arthur, baju kamu di dalam lemari besar itu sangat banyak dan kamu mau membeli lagi? Apa kamu mau membuka toko baju di apartemen kamu ini?"


Arthur malah terkekeh kecil. Dia itu hanya alasan saja karena nanti waktu mereka belanja, Arthur akan membelikan baju untuk Kiara.


"Kamu punya berapa baju seperti itu?"


"Ada tiga, tapi aku hanya membawa dua saja. Memangnya kenapa?"


"Nanti aku akan carikan baju seperti itu lagi dan tiap hari kamu bisa memakainya saat aku berada di rumah."


"Aku tidak mau dibelikan baju, Arthur, dan aku akan memakai baju yang aku bawa saja."


"Aku di sini kepala rumah tangga. Jadi, kamu harus menuruti apa kataku. Jangan membantah," ucap Arthur memotong mulut Kiara yang mau berkata saja.


Mereka makan siang berdua. Setelah itu Arthur memberikan obat yang harus Kiara minum. Kiara melihat Arthur yang masih memakai baju kemeja dengan rapinya, padahal dia mengatakan tidak akan kembali ke kantornya.


"Kamu mau pergi?"


"Aku mau bertemu dengan Manda di restoranku, tapi hanya sebentar. Setelah urusanku selesai, aku akan segera pulang."


"Manda? Siapa dia? Kekasih baru kamu?"


"Apa mungkin aku akan menemui kekasihku izin dulu sama kamu?"


"Lantas, dia siapa?" Kiara ini antara penasaran dan gengsi bertanya hal ini pada Arthur.


"Dia manager baruku yang Gio tunjuk untuk menjalankan bisnis restoran milikku dan Gio. Tadi dia menghubungiku karena ada masalah di sana. Jadi, aku mau menemuinya sebentar."


"Ya sudah, pergi sana." Kiara berbaring membelakangi Arthur yang berdiri merapikan bajunya di depan cermin.


"Jangan cemburu, aku tidak akan selingkuh." Arthur mengecup kening Kiara dengan cepat dan berjalan pergi dari sana.


"Selingkuhpun aku tidak peduli, kita tinggal batalkan saja perjanjian tiga bulan itu dan aku bisa secepatnya lepas darimu," seloroh Kiara dengan terselip nada marah di dalamnya.


Arthur yang sudah sampai di depan pintu kamarnya berbalik badan dan melihat pada Kiara yang juga melihatnya dengan posisi tidur miring.


"Mimpi Indah." Arthur keluar dan menutup pintu kamarnya.