
Kiara mencoba menjauhkan tubuh Elang darinya, tapi Elang seolah tidak mau melepaskan.
Mba Tami dan Mas Banni yang baru saja datang kaget melihat hal itu, terutama mas Banni-- pria yang memang termasuk sosok yang baik dan benar-benar menjaga kehormatan seorang wanita, oleh karena itu dia sengaja ingin membawa Tami ke desanya untuk bertemu kedua orang tuanya dan memperkenalkan Tami sebagai calon istrinya. Mas Banni tidak mau lama-lama berpacaran.
"Loh! Dia siapa? Tidak boleh memeluk istri orang seenaknya."
"Banni, jangan!" Tangan Tami langsung menahan Banni yang ingin mengganggu acara pelukan itu.
"Kamu itu bagaimana? Dia itu memeluk istrinya orang, dan hal itu tidak boleh, Tami."
"Itu Elang mantan pacar Kiara dan dia belum tau jika Kiara sudah menikah."
Tami sudah menceritakan kenapa Arthur bisa menikah dengan Kiara. Itu karena mendiang ibu Kiara yang ingin Kiara menikah dengan pria yang tepat. Tami tidak menceritakan kejadian Arthur dan Kiara karena baginya itu aib yang tidak perlu diumbar.
"Walaupun belum tau, tapi setidaknya kita menghalangi hal itu."
Tami hanya menghela napasnya pelan, dia sudah tau sedikit banyaknya sifat pria yang ingin serius dengannya itu.
Tami berjalan mendekati Elang dan Kiara. Tami mencoba menyapa pada mereka dan Akhirnya Elang melepaskan pelukannya.
"Elang, aku minta maaf jika ucapanku menyinggung kamu, tapi jangan memeluk Kiara seperti itu di depan umum seperti ini."
"Aku minta maaf, Mba. Tadi aku hanya tidak bisa menahan perasaanku saja."
Kiara menatap Elang, dia sebenarnya juga sangat merindukan Elang, dia ingin sekali menangis di pelukan mantan kekasihnya itu, tapi hal itu sudah tidak mungkin.
"Elang, kenapa kamu bohong sama mama?"
Tiba-tiba terdengar suara seseorang dari arah belakang mereka, dan seketika mereka semua yang ada di sana menoleh ke arah asal suara itu.
"Mama? Ke-kenapa Mama ada di sini?"
"Mama tadi menghubungi supir kamu dan dia mengatakan jika dia sedang berada di sebuah perkampungan kotor ini karena kamu yang meminta untuk diantarkan ke sini. Elang, mama sudah baik sama kamu dengan tidak memindahkan kamu ke luar negeri, tapi jika kamu masih seperti ini. Maka mama akan menghubungi papa kamu untuk mengurus semua kepindahan kamu kuliah di luar negeri."
"Ma, Kiara baru saja ditinggal pergi oleh ibunya dan aku ke sini ingin mengucapkan bela sungkawa karena bagaimanapun aku juga mengenal baik ibunya Kiara."
"Kamu cukup memberikan uang bela sungkawa padanya dan tidak perlu datang ke sini dan tadi mama melihat kamu berpelukan dengannya. Kalian ini sudah putus, Kan? Atau kamu membohongi mama lagi, Elang?"
"Kami sudah putus, Tante, dan Tante tenang saja karena aku tau diri. Aku tidak akan mendekati atau memiliki hubungan dengan Elang.".
"Bagus kalau begitu karena Elang juga sebentar lagi akan aku tunangkan dengan gadis yang setara dengannya."
"Ma!" Elang melihat dengan mendelik pada mamanya.
"Mama sudah bicara sama kamu sebelumnya. Setelah lulus sekolah kamu bisa bertunangan dulu dengan gadis pilihan mama yang tentunya setara dengan keluarga kita, Elang."
Rasanya ada yang menikam dan menyayat dengan perlahan pada jantung Kiara mendengar apa yang mamanya Elang katakan.
Bukan karena hinaannya, tapi saat mamanya Elang mengatakan jika Elang akan dijodohkan dengan gadis lain, itulah yang membuat hati Kiara sakit.
"Elang, Tante, saya permisi dulu karena ini sudah malam dan sebaiknya kalian pulang saja, tidak enak jika dilihat para tetangga di sini."
"Aku juga tidak ingin berlama-lama di sini. Elang kita pulang sekarang," titahnya tegas.
Kiara masuk ke dalam kamarnya, dan Elang yang sepertinya enggan pergi, ditarik tangannya oleh mamanya
"Kasihan ya, Kiara. Dia harus bersyukur tidak memiliki ibu mertua seperti wanita itu," ucap Banni.
"Mas Banni sebaiknya pulang saja karena ini sudah malam dan aku mau melihat keadaan Kiara."
"Iya, kamu coba tenangkan dia dan beri semangat agar tidak memikirkan ucapan dari wanita tadi."
Tami mengangguk dan Banni berjalan pergi dari sana.
Tami mencoba mengetuk pintu kamar Kiara karena dia ingin tau keadaan Kiara saat ini, tapi Kiara mengatakan jika dia sedang tidak ingin diganggu dulu dan menyuruh mba Tami tidur saja karena ini juga sudah malam.
"Ya sudah kalau begitu, tapi kamu juga tidur dan jangan terlalu memikirkan tentang hal tadi Kiara. Ingat, jika Elang sudah tidak mungkin sama kamu karena kamu sudah memiliki suami. Jangan memikirkan tentang pria lain, hal itu tidak baik Kiara."
Tami tidak peduli jika nanti dianggap Kiara cerewet dan sok ikut campur. Tami hanya ingin Kiara tidak sedih terus dan sadar akan statusnya saat ini.
"Mas Arthur, Mas Arthur di mana ini? Kenapa terdengar suara berisik sekali?"
"Aku sedang di club malam dengan temanku. Ada apa kamu menghubungiku malam-malam begini?"
"Club malam? Wah! Mas Arthur berada di tempat buat orang yang suka minum-minum dan main wanita itu, ya?"
"Kamu tenang saja, aku hanya mencoba melepaskan penatku dan aku tidak pernah bermain-main dengan wanita di sini."
"Mas Arthur serius 'kan? Jangan menyakiti Kiara, Mas, Kasihan dia dan aku juga merasa bersalah jika aku sudah membantu orang yang ternyata hanya ingin menyakiti Kiara juga."
"Aku tidak bohong sama kamu, Tami. Aku hanya suka minum, tapi tidak suka bermain wanita. Malahan sejak kejadian aku dengan Kiara, aku sudah menahan diri untuk tidak banyak minum."
"Aku percaya kalau begitu dan semoga kepercayaanku tidak salah."
"Aku serius, Tami. Oh ya! Ada apa?
Tami ingat jika dia harus menceritakan tentang kedatangan Elang dan mamanya di rumah Kiara barusan. Tami menceritakan semuanya pada Arthur.
"Sekarang Kiara berada di dalam kamarnya dan aku yakin jika dia sedang menangis karena kejadian itu."
"Biarkan saja dia dulu, mungkin dia memang butuh waktu sendiri. Aku pun bahkan tidak akan bisa menenangkannya, malahan yang ada pertengkaran jika aku menghubungi dia sekarang.
"Iya juga. Ya sudah, setidaknya aku sudah memberitahu Mas Arthur tentang kejadian ini. Kalau begitu aku matikan dulu ponselnya dan mau istirahat."
"Sekali lagi terima kasih, Tami."
Arthur mematikan panggilannya dan dia langsung menyambar segelas minumannya sampai habis.
"Ada apa, Bro? Apa ada masalah dengan istri kecilmu itu?"
"Mantan kekasih Kiara dan mamanya pria itu tadi datang ke rumah Kiara."
"Oh ... si burung perkutut itu. Eh, Elang maksudku."
"Iya, dan mamanya bersikap angkuh di depan Kiara, bahkan menghina tempat tinggal Kiara."
"Waduh! Dia belum tau jika Kiara adalah istri sang direktur utama perusahaan yang saat ini merajai dunia bisnis. Apa perlu kamu datangi dia?"