
Kiara terdiam di pojokan, sedangkan Arthur malah santai berenang. "Ara, kamu kenapa diam saja? Ayo berenang!"
"Aku mau naik ke atas saja."
"Kamu malu karena ada Arthur? Dia tidak berbuat apa-apa sama kamu, kan? Dia juga sama sekali tidak melihatimu dari tadi. Sudah, kamu biasa saja. Ayo!" Mega menarik tangan Kiara dan mengajaknya berenang.
Kiara akhirnya mau, tapi kedua matanya tetap waspada pada sosok pria tampan yang sebenarnya dari tadi melihatnya dengan samar.
Tidak lama Arthur mendengar suara ponsel berdering dan ternyata itu ponsel Mega.
"Mega, ponsel kamu berbunyi. Kamu sebaiknya jawab dulu, siapa tau itu dari mama."
"Iya, itu suara ponselku. Kalian tunggu sebentar ya." Mega berenang menuju anak tangga untuk naik ke permukaan menjawab panggilan teleponnya.
Kiara tampak terdiam pada tepi kolam melihat Mega yang malah berjalan pergi dari kolam untuk menjawab panggilan telepon. Entah siapa yang menghubunginya sehingga dia harus menjauh dari sana.
"Aku sebaiknya naik juga dan memakai handuk."
Kiara yang hendak pergi menuju anak tangga yang ada di kolam seketika berhenti saat dia merasakan ada sentuhan pada pinggangnya.
"Kamu masih marah padaku, Kiara?" suara lembut itu terdengar tepat di belakang telinga Kiara.
Saat Kiara membalikkan tubuhnya, ternyata tubuh Arthur sudah sangat dekat dengannya. Kiara mundur sampai punggungnya menempel pada dinding kolam.
"Arthur, jangan terlalu dekat seperti ini, nanti Mega akan curiga dengan kita."
"Katakan dulu, kamu masih marah padaku atau tidak?"
"Arthur, aku--." Tangan Kiara menapak pada dada bidang pria itu, dan seketika jantungnya berdetak cepat saat merasakan dada pria di depannya. Kiara sendiri tidak tau kenapa seperti ini?
"Kamu sangat cantik memakai bikin itu. Ingatkan aku untuk membelikan kamu bikini agar bisa kita gunakan untuk berenang."
"Tidak perlu, Arthur! Aku tidak akan memakai baju renang seperti ini lagi karena aku sebenarnya tidak menyukainya."
"Oh ya! Kenapa? Apa karena ada aku di sini?" Arthur semakin mendekatkan tubuhnya pada Kiara. Kiara tampak menyembunyikan kecemasannya saat nafas Arthur semakin hangat menyentuh wajah Kiara.
"Arthur, jangan seperti ini."
"Maafkan aku jika membuat kamu marah."
"Aku sudah bilang jika aku tidak peduli akan hal itu."
"Oh ya?"
Kiara sampai menahan napasnya merasakan kedekatannya dengan Arthur saat ini terasa begitu aneh. Ada hal yang Kiara sendiri bingung untuk memahaminya.
Arthur seketika menyelam karena dia melihat adiknya berjalan menuju ke arah kolam. Kiara yang melihatnya kaget, tapi dia bisa bernapas lega.
"Arthur! Kamu itu jahat sekali!" Mega bicara dengan nada kesal sembari berjalan masuk ke dalam kolam.
"Jahat? Memangnya apa yang sudah aku lakukan?" Arthur tampak bingung.
"Kamu kenapa tidak mengajak Kiara berbincang? Malahan kamu sibuk berenang sendiri."
"Aku harus bicara apa dengan Kiara?"
"Hem ... dasar! Makannya, kamu sulit mendapat pengganti Selena jika sikap kamu seperti itu, bahkan mba Tami saja sudah memilih orang lain," cibir Mega.
Arthur tersenyum miring. "Aku sudah memiliki gadis yang pantas menjadi istriku."
Kiara seketika melihat dengan mata membulat pada Arthur.
"Benarkah? Mana dia? Kamu pasti tidak serius?"
"Suatu saat akan aku perkenalkan padamu dan kedua orang tua kita."
"Aku tunggu ya! Kalau sampai tidak kamu perkenalkan, aku jodohkan kamu sama Kiara." Mega seketika tertawa dengan kerasnya.
"Kenapa jadi aku diikutkan?"
"Kamu kan single, Kakakku juga, siapa tau jodoh." Sekali lagi terdengar suara tawa Mega.
Arthur melihat pada Kiara. Pun Kiara melihat ke arah suaminya.
"Mega, sudah dulu ya berenangnya."
Kiara yang kasihan pada sahabatnya itu akhirnya mau mengikuti apa yang Mega katakan.
"Kamu mau apa?"
"Arthur, mau ikut tidak?"
"Ikut apa?"
"Kita bertiga berlomba siapa yang tahan napas paling lama di dalam air. Kalau berlomba renang, sudah pasti Kiara akan kalah. Bagaimana kalau kita menahan napas saja di dalam air?"
"Boleh," jawab Arthur santai.
"Kiara, kamu pasti menang kali ini, bukannya kamu sering melakukan hal ini agar suara kamu kalau mau menyanyi bisa terdengar merdu."
"Menyanyi?" Kedua alis Arthur mengerut.
"Iya, Kiara itu suaranya waktu bernyanyi bagus, waktu ada pentas seni di sekolah, dia pernah menyumbangkan satu buah lagu dan Kiara menyanyikannya dengan merdu."
"Suaraku biasa saja, Mega, kamu tidak perlu memuji seperti itu. Kita mulai sekarang saja."
"Okay! Nanti hukumannya yang kalau harus menuruti yang menang."
"Setuju," jawab Arthur tegas.
Perlombaan dimulai. Kiara, Mega dan Arthur berdiri membentuk lingkaran. Mega menghitung satu sampai tiga dan kemudian mereka mulai menyelam ke dalam air.
Kiara dan Mega memejamkan kedua matanya saat di dalam air beda dengan Arthur, dia malah membuka kedua matanya dan melihat pada istrinya. Dengan begitu dia dapat melihat puas penampilan Kiara saat memakai bikini.
Kiara yang merasa sedang diperhatikan, seketika itu membuka kedua matanya, dan benar saja, dia menjadi risih sehingga kepalanya reflek naik ke permukaan.
"Kamu kalah Kiara," ucap Arthur.
"Ya ampun, Kiara! Kenapa kamu bisa secepat itu menyerah? Kamu kalah lagi."
"Aku tadi ---." Kiara bingung dengan apa yang ingin dia ucapkan. Tidak mungkin dia bilang bahwa dia malu dilihati terus oleh Arthur.
"Iya, tadi entah kenapa aku tidak kuat lagi menahan napas." Kiara tersenyum aneh.
"Ya sudah, sekarang kamu harus mendapat hukuman dari Ita berdua."
"Hukuman? Hukuman apa?"
"Seperti yang tadi kita sepakati, bahwa yang kalah harus mau melakukan apa yang di suruh si pemenang."
"Ya sudah, katakan saja."
"Em ...!" Mega sedang berpikir sejenak.
"Kenapa tidak kamu suruh Kiara menyanyi saja?" celetuk Arthur.
"Oh iya! Menyanyi. Aku sudah lama tidak mendengar suara kamu saat menyanyi."
"Jangan menyanyi, lainnya saja."
"Tidak mau, kamu harus menyanyi karena ini adalah keinginan si pemenang. Ayo menyanyi! Dari pada kamu aku suruh menari di depan kita. Pilih mana?"
"Tidak pilih keduanya." Bibir Kiara manyun.
"Harus memilih karena salah sendiri kenapa bisa kalah."
Kiara melirik kesal pada Arthur. Jika saja tadi si pria bernama Arthur itu tidak mengambil kesempatan untuk memandanginya di dalam air, pasti sekarang Kiara bisa menjadi pemenangnya dan akan memberi hukuman pada salah satu dari mereka.
"Ya sudah, kalau begitu aku menyanyi saja."
"Yeah! Akhirnya aku bisa mendengar lagi suara emas si ratu pop, Kiara!" seri Mega kegirangan.
"Ya ampun, Mega! Aku ini tidak sedang konser, hanya menyanyi biasa."
"Sudah ayo nyanyi!"
Kiara menyanyi dengan malas sehingga suaranya tidak terdengar jelas malah seperti orang sedang kumur-kumur.
"Kiara, kamu itu bernyanyi apa lagi menggerutu? Serius donk, Kiara!" Rengek Mega.