
Kiara mengantar Mega sampai ke mobilnya dan setelah mobil Mega pergi. Kiara dibantu oleh Mba Tami membereskan rumahnya.
"Kiara, ini ada amplop milik siapa?" Tangan Mba Tami memegang amplop besar berwarna coklat yang dia temukan di bawah kursi di ruang tamu. Di sana juga tertulis turut berbela sungkawa.
"Aku tidak tau, Mba." Kiara membuka amplop itu, dan kedua mata Kiara serta Mba Tami mendelik melihat isi dari amplop yang ada di depan mereka.
"Uangnya banyak sekali, Mba."
"Iya, ini punya siapa? Apa dia lupa membawa uangnya ini?"
Kiara mencoba berpikir sejenak kira-kira ini uang milik siapa? Setahu Kiara para tetangganya tidak mungkin akan memberi uang sebanyak itu.
"Mega. ini pasti uang Mega, untuk apa dia memberi uang sebanyak ini? Dia cukup mengucapkan berbela sungkawa saja dan tidak perlu memberi uang sebanyak ini. Sebentar ya, Mba, aku akan menghubunginya.
Kiara menghubungi Mega dan bertanya perihal uang itu. Mega akhirnya mengaku jika uang itu adalah miliknya yang memang sengaja ingin diberikan untuk Kiara.
"Kenapa kamu malah memberikan uang sebanyak ini? Aku tidak suka jika kamu melakukan hal ini, Mega."
"Sebenarnya itu uang dari mamaku, mamaku minta maaf tidak bisa datang langsung ke rumahmu karena mamaku masih sangat sibuk dengan pekerjaannya dan berapa hari ini tidak ada di rumah."
"Seharusnya katakan saja pada mamamu kalau aku cukup diucapkan bela sungkawa saja, tidak perlu memberi uang seperti ini. Aku juga ngerti kok kesibukan dari mamamu, aku malah berterima kasih kamu sudah membantuku selama ini."
"Kiara, tolong kamu terima uang itu, mamaku pasti sedih kalau kamu tidak mau menerimanya."
"Tapi ini terlalu banyak, Mega, dan aku tidak bisa menerimanya. Tolong ambil kembali, jangan membuat seolah kita ini tidak pernah mengenal."
"Aku tidak mau. Kiara, mamaku sudah memberi amanah untuk memberikan uang itu sama kamu dan aku tidak mau mengambilnya kembali. Sudahlah, Kiara, kamu terima saja dan gunakan untuk kebutuhan acara ibu kamu sampai selesai."
Kiara terdiam sejenak. Dia berpikiran jika uangnya ini tidak dia terima, maka Mega pasti akan marah.
"Ya sudah kalau begitu sampaikan ucapan terima kasih dariku kepada mama kamu."
"Pasti, nanti pasti aku sampaikan."
Mereka mengakhiri panggilan teleponnya. Kiara hanya bisa menghela napasnya pelan melihat uang di depannya. "Sudah, kamu terima saja, kita bisa gunakan uang ini untuk kebutuhan pengajian ibu kamu yang nanti masih ada terus. Apa lagi pemasukan kamu juga sudah tidak ada sejak ibumu meninggal."
"Sebenarnya Arthur tadi memberikan kartu ATMnya padaku. Dia bilang itu kartu ATM memang dia buatkan khusus untukku sebagai nafkah suami untuk istrinya."
"Kamu serius?" Kiara mengangguk. "Benar kalau begitu yang dikatakan oleh Mega. Arthur itu sosok suami idaman."
"Idaman dari mana? Aku biasa saja."
"Ih! Kamu itu. Coba kamu sering dengannya, atau kalian tinggal berdua, pasti nanti kamu bisa merasakan dia suami idaman atau tidak."
"Tidak mau. Pokoknya aku mau bercerai saja setelah ini." Kiara beranjak dari tempatnya.
"Jangan bicara hal yang dibenci oleh Tuhan, Kiara. Ibumu menangis mendengar apa yang kamu katakan."
"Mba Tami itu tidak tau apa yang aku rasain selama ini! Setiap melihat dia, bayangan akan kejadian itu masih terlintas. Sakit, Mba." Kiara masuk ke dalam kamar dengan kesal.
Mba Tami yang melihat hanya dapat menghela napasnya kasar. Dia memang tidak merasakan apa yang Kiara rasakan, tapi Kiara juga tidak boleh bersikap seperti itu pada Arthur-- suaminya.
***
Pagi itu Kiara sudah bangun dan melihat mba Tami sedang berbicara dengan seorang pria yang Kiara kenali sebagai tetangganya yang bernama mas Banni.
"Kiara, kamu sudah bersiap?"
⁰Dia mau mengajak aku pulang ke desanya setelah acara pengajian ibu kamu selesai."
"Hah? Pulang ke desanya? Maksudnya?" Kiara tampak terkejut.
Mba Tami tampak tersenyum malu sendiri. Kiara yang melihatnya tampak curiga. Akhirnya mba Tami menceritakan jika malam di mana ibunya Kiara sakit itu dia sedang pergi dengan Banni untuk berkencan pertama kali.
"Jadi, Mba Tami dan mas Banni serius memiliki hubungan? Bukan karena aku menikah dengan Arthur 'kan?"
"Yeah! Siapa juga yang sakit hati? Kamu kira aku dan Banni memiliki hubungan hanya untuk pelarian karena kamu dan Mas Arthur menikah?" Kiara mengangguk. "Kiara, aku itu hanya kagum saja dengan mas Arthur, lagi pula aku sadar siapa aku dan siapa Mas Arthur. Dia itu tidak mungkin suka sama aku."
Kiara juga membenarkan ucapan mba Tami. "Iya juga. Dia menikahiku hanya karena aku dan dia sudah melakukan suatu dosa, kalau tidak juga dia tidak akan pernah mau mengenal bahkan menikah denganku."
Tangan Mba Tami memeluk pundak Kiara dengan lembut. "Tapi dia bisa saja jatuh cinta sama kamu. Begitupun dengan kamu juga bisa suatu hari jatuh cinta dengannya. Bagaimanapun kalian itu suami istri, dan siapa tau Tuhan memang menjodohkan kalian dengan cara seperti ini."
"Jodoh dari mana, Mba? Aku malah berharap suatu hari bisa berjodoh kembali dengan Elang."
"Kamu itu! Tidak boleh bicara tentang pria lain. Sudah! Mba mau bersiap-siap untuk pergi sarapan pagi bubur ayam yang ada di seberang jalan." Senyum mba Tami tampak lebar.
"Aku tidak diajak?"
"Minta saja sama suamimu sana." Mba Tami malah melangkah dengan riangnya setelah mengolok Kiara.
"Mendingan aku beli sendiri."
Kiara berjalan mengikuti mba Tami untuk berpamitan dan dia kemudian pergi ke sebuah gank kecil untuk mencari jalan ointas menuju di mana mobil Arthur sudah menunggu.
"Kenapa wajah kamu terlihat kesal seperti itu?" tanya pria yang dari tadi menunggu Kiara di dalam mobil. "Apa karena aku?"
"Kalau sudah tau, kenapa malah bertanya?" Kiara manyun menatap ke arah depan.
"Bagus kalau begitu."
"Apanya yang bagus?" Pandangan Kiara seketika melihat penasaran pada Arthur.
"Bagus kalau wajah kamu seperti itu setiap hari karena aku suka sekali melihatnya. Tampak lebih cantik," ucapnya datar.
Kiara langsung merubah ekspresi wajahnya. Dia benar-benar kesal dengan suami tak dianggapnya ini.
Arthur menjalankan mobilnya menuju ke suatu tempat. Saat mobil Arthur berhenti, Kiara tampak heran.
"Kenapa kita berhenti di warung penjual bubur ayam ini?"
Arthur melihat pada jam tangannya. "Masih ada waktu dan kita bisa makan pagi dengan bubur ayam dulu."
"Tapi aku tidak lapar, Arthur!"
"Tapi suamimu ini lapar, Kiara! Dan tugas istri menemani suaminya makan."
Arthur turun dari dalam mobil, membiarkan mulut Kiara yang mangap hendak mengatakan sesuatu.
Arthur membukakan pintu mobil dan mengajak Kiara turun.
"Aku bisa jalan sendiri, Arthur. Kita tidak perlu bergandengan tangan."
Kiara keluar dengan melewati uluran tangan Arthur.