Be Mine

Be Mine
Pesta Kelulusan part 1



Kiara tampak berbicara dengan teman-temannya, sedangkan Arthur bersama dengan keluarganya.


"Kiara, kamu sayang sekali putus dengan Elang, coba kamu belum putus, pasti hari ini kalian akan menjadi pasangan yang membuat semua orang iri."


"Mungkin memang waktunya aku dan Elang lebih pantas menjadi teman saja."


"Oh ya, Kiara, apa kamu tidak sakit hati atau marah melihat Mega dan Elang sangat dekat seperti itu, bahkan mereka akan bertunangan?"


Kiara menggeleng dengan cepat. "Aku sama sekali tidak marah pada Mega. Mega itu sahabatku dan aku sangat tau bagaimana dia."


Gadis yang berdiri di dekat Kiara mendekat pada Kiara. "Kamu serius baik-baik saja? Kalau ingin menangis, aku bisa kamu jadikan sandara Kiara. Kamu itu sangat baik, dan aku senang memiliki teman seperti kamu, dan aku pasti akan merindukan semua kebaikan yang telah kamu lakukan."


Kiara memeluk teman satu kelasnya itu dengan mata berkaca-kaca. "Aku juga akan sangat merindukan kelucuan kamu. Soal Mega dan Elang, aku benar-benar sudah tidak memikirkan hal itu. Aku malah senang mendengar Mega memiliki seseorang yang sangat baik seperti Elang."


"Atau jangan-jangan kamu sudah memiliki kekasih baru ya, Kiara?" Goda teman Kiara satunya.


"Kamu sudah punya kekasih yang lain, Kiara?"


Kiara tampak bingung menjawab pertanyaan teman-temannya. "Aku memang sudah memiliki seseorang yang sangat aku cintai." Kiara tersenyum tipis sembari menunjukan jika dia tersipu malu.


"Kamu serius, Kiara? Apa dia satu sekolah dengan kita? Dia tidak ikut datang ke sini?" Kiara diberi pertanyaan bertubi-tubi.


"Dia seorang pria dewasa, tapi dia sangat menyayangiku." Kedua mata Kiara melihat ke arah Arthur dari kejauhan.


"Wow! Kamu mencari seseorang yang bisa membimbing kamu, ya? Seru dan pasti menyenangkan memiliki hubungan dengan seseorang yang usianya di atas kita."


"Asal jangan Om-Om tajir saja yang kamu coba pacari Kiara, apa lagi susah punya anak dan istri," celetuk salah satu teman Kiara.


"Dia bukan Om-Om seperti apa yang kamu bilang, Tomi. Kekasihku itu pria single dan belum menikah sama sekali."


"Kata mamaku melihat kamu masuk ke dalam mobil mewah saat kamu pulang ke rumah untuk mengambil barang-barangmu yang tertinggal. Kiara, kamu tidak tinggal satu rumah dengan kekasihmu itu, kan?"


Jantung Kiara seolah berdetak dengan keras. Kiara memang tinggal bersama karena memang mereka itu suami istri.


"Tentu saja tidak. Kenapa kamu berpikiran jika aku tinggal bersama dengannya?"


"Siapa tau kamu memang tinggal bersama agar hidupmu jauh lebih baik dari segi ekonomi."


"Tomi! Kenapa bicara kamu sekasar itu? Kiara itu gadis yang baik dan tidak akan melakukan hal yang buruk dan nantinya pasti berpengaruh dengan masa depannya." Bela teman Kiara.


"Aku tidak bermaksud bicara kasar, aku hanya mengingatkan Kiara saja, jika kamu sedang terdesak karena ekonomi kehidupanmu, jangan sampai mempermalukan harga dirimu."


Tomi ini anak dari tetangga Kiara yang waktu itu memergoki Kiara pulang dan diantar oleh seseorang dengan menggunakan mobil mewah. Si ibu itu mungkin langsung bergosip dan memberitahu anaknya hal yang dia sendiri tidak tau kebenarannya.


"Sudahlah, aku tidak mau memperkeruh masalah ini. Tomi, aku mau menjelaskan tentang masalah hari ini. Aku bukan seperti yang kamu tuduhkan itu, dan aku juga masih punya harga diri."


Kiara yang tidak mau tersulit emosi pergi dari sana. Dia berjalan menuju taman yang berada di tempat itu. Kiara ingin sedikit menenangkan dirinya yang kesal mendengar tuduhan dari anak tetangganya.


"Hai!"


Tiba-tiba tangan Kiara ditarik oleh seseorang. Kiara yang kaget dan ingin berteriak seketika mulutnya ditutup oleh telapak tangan seseorang.


"Mas, kamu mengagetkan aku saja."


"Sebal sekali harus berjauhan seperti ini denganmu."


"Nanti malam 'kan kita bisa bertemu."


"Iya, tapi sangat tidak enak main kucing-kucingan seperti ini terus."


"Sebenarnya memang tidak enak, apa lagi sampai mendengar suara sumbang yang sangat buruk mengenai diriku."


"Ada apa, Sayang?" Tangan Arthur mengusap lembut pipi Kiara. Kiara akhirnya menceritakan apa yang baru saja anak tetangganya tuduhkan padanya. "Keterlaluan! Aku akan menemuinya, bahkan kalau perlu aku akan menemui ibunya. Kenapa mulut ibunya itu kejam sekali malah mengatakan hal buruk tentang kamu? Dia saja tidak tau kebenarannya."


"Tetanggaku itu memang sedikit usil dan ibuku pernah bilang agar tidak terlalu dekat dan bahkan banyak bicara dengannya. Kalau dia membuat masalah dengan ucapannya, aku disuruh diam saja dan tidak perlu dipedulikan."


"Kalau begitu, kenapa sekarang kamu pikirkan? Setelah kita menemukan waktu yang tepat, aku akan mengadakan acara pesta pernikahan yang megah untukmu agar semua orang tau jika Kiara Tizania adalah istri dari Arthur Maxian Lucas."


"Aku tidak menginginkan hal itu, Mas. Kamu bisa bersamaku saja aku sudah senang, dan pesta... aku tidak terlalu suka. Bukannya kamu sendiri juga tidak menyukai hal itu?"


"Memang, tapi aku hanya ingin semua orang tau saja kalau kamu susah menikah secara sah denganku. Jadi, kamu tidak akan dianggap orang sebagai sugar baby atau gadis SMA yang suka menggoda Om-Om. Aku marah sendiri mendengar hal itu."


Kiara semakin mendekat pada suaminya. Tatapan kedua matanya pun tajam melihat suaminya. "Sebenarnya hanya satu orang yang kamu ingin dia tau jika aku adalah milikmu." Kiara tersenyum miring.


"Kamu tau itu."


Arthur seketika ******* lembut bibir Kiara dan mereka saling berciuman di taman yang kebetulan sedang sepi itu.


"Ups! Sorry!"


Kiara dan Arthur yang sama-sama terkejut melepaskan ciumannya dan melihat siapa yang sudah memergoki mereka berciuman.


"Ayah? Apa yang kamu lakukan di sini?"


"Om Alan?" Kiara tampak sangat terkejut dan malu karena ketahuan oleh ayahnya Arthur.


"Em...! Kalau kalian mau melanjutkan silakan saja. Aku ke sini untuk mencari udara segar, tapi melihat kalian, tidak hanya udara segar yang aku dapatkan, tapi juga pemandangan yang sangat indah."


Kiara melihat pada Arthur dan memberi isyarat agar Arthur berbicara tentang hal ini dengan ayahnya.


"Yah, aku bisa menjelaskan semua ini." Arthur memegang salah satu pundak ayahnya.


"Arthur, nanti saja bicaranya, tapi kalau sudah selesai kalian kembali ke ruang utama karena Kiara harus tampil membawakan sebuah lagu."


Kiara yang terkejut langsung melihat pada jam tangannya dan memang benar jika sebentar lagi Kiara yang harus tampil di atas panggung.


"Mas, aku pergi dulu, ya?" Arthur mengangguk perlahan, dan sekarang Kiara melihat pada ayah mertuanya. "Om Alan, aku permisi dulu," sapa Kiara dengan wajah takut dan malu.


"Iya, Kiara. Oh ya, Kiara, berikan penampilan terbaikmu malam ini," ucap Alan agak sedikit berteriak karena Kiara sudah berjalan menuju ruang utama acara.