Be Mine

Be Mine
Rencana Gagal



Elang mengatakan dia mau kembali ke kamar sebentar untuk mengambil sesuatu.


"Kamu ikut acara hari ini, kan?"


"Tentu saja aku ikut," jawab Elang malas, kemudian dia berlalu pergi dari sana.


Elang masuk ke dalam lift dan dia ternyata tidak berhenti di lantai, di mana kamarnya berada. Elang malah pergi ke lantai kamar lain.


Elang berjalan sembari mengedarkan pandangannya melihat sekitar tempat itu. Tidak lama kakinya berhenti melangkah dan sekarang dia sudah berada di depan pintu kamar seseorang.


Elang mengetuk pintu kamar itu dan seorang wanita yang masih menggunakan handuk mandinya berdiri tepat di depannya.


"Masuklah, Baby." Wanita itu tersenyum manis pada Elang. Elang masuk dan duduk di atas tempat tidur.


"Ini bayaran kamu, walaupun kamu gagal melakukan apa yang aku kerjakan, aku akan tetap membayarmu." Elang menyerahkan gulungan uang berwarna merah dan wanita itu dengan senang menerimanya.


"Aku minta maaf, tapi pria dingin itu benar-benar orang yang setia dengan pasangannya. CK! Aku kira di dunia ini sudah tidak ada pria langka seperti pria itu, padahal dia tampan dan penampilannya benar-benar membuatku bisa jatuh cinta sungguhan dengannya."


"Dia pria brengsek! Dan jangan memujinya di depanku karena bagiku dia bukan pria seperti apa yang kamu katakan.


Wanita itu berjalan perlahan mendekati Elang dan malah duduk dipangkuan Elang, tangannya pun menggelayut pada leher Elang. Elang hanya menatapnya datar.


"Aku penasaran, bagaimana wajah perempuan yang sedang kamu ingin rebut dari tangan pria itu? Apa dia sangat cantik, sexy dan memiliki kelebihan yang luar biasa."


"Aku tidak merebutnya, tapi dia yang sudah merebut kekasihku."


"Kenapa kamu tidak mencari lainnya saja? Kenapa malah berurusan dengan pria aneh seperti itu? Kalau mau aku bisa menyembuhkan perasaanmu yang dilukai oleh kekasihmu," bisik wanita itu pada telinga Elang.


"Kamu atau siapapun tidak bisa menggantikan gadis yang aku cintai itu."


"Wow! Dia benar-benar gadis yang istimewa kalau begitu. Aku jadi benar-benar penasaran dengan gadis itu."


"Gadis yang menyiram kamu dengan orange jus adalah istrinya."


"What? Kamu serius?" Kedua mata wanita itu mendelik tidak percaya.


"Dia kekasihku dan yang direbut dengan cara licik oleh pria brengsek itu."


"Oh my God! Dia hanya gadis biasa! Kalau dibandingkan denganku, gadis itu tidak ada apa-apanya." Wanita yang masih duduk dipangkuan Elang menggelengkan kepalanya tidak percaya.


"Dia memang terlihat biasa dan sederhana, tapi aku sangat mencintainya."


"Pria itu juga sangat mencintainya, bahkan dia sampai menikahinya. Jangan-jangan gadismu itu sudah memberikan kenikmatan yang luar biasa di atas ranjang, sehingga pria itu sangat setia padanya." Wanita itu tersenyum menggoda pada Elang.


Elang kembali penasaran, dia sangat ingin tau apa yang membuat Kiara sampai mau menikah dengan Arthur? Kalau soal kekayaan, Kiara bukan gadis matre. Tampan juga bukan prioritas utama bagi Kiara.


"Apa Arthur pernah berbuat hal buruk pada Kiara?" Elang berdialog sendiri.


"Kamu bicara apa, Baby? Saranku, sebaiknya kamu tidak perlu mengejar istrinya lagi karena walaupun aku bisa menjebak pria itu untuk tidur denganku, istrinya juga tidak akan percaya karena kepercayaan mereka sangat kuat. Istrinya saja tadi berbuat hal seperti itu, apa lagi saat aku melihat pria itu menatapku yang hendak memukul istrinya. Dia bisa saja membunuhku."


"Aku tidak takut sama sekali dengannya."


"Huft! Kamu susah sekali diberitahu." Jemari wanita itu sedang bermain-main dengan rambut Elang. "Baby, apa kamu punya kekasih?"


"Ada apa memangnya?" tanya Elang datar.


"Tapi aku tidak peduli juga kalau kamu sudah memiliki kekasih karena aku yakin kamu tidak sama dengan pria langka itu." Wanita itu memainkan jarinya pada bibir Elang.


"Maksud kamu?"


Sedetik kemudian, wanita itu mengecup lembut bibir Elang. Elang hanya diam merasakan kecupan lembut dari wanita yang sedang duduk dipangkuannya.


Mereka tampak saling membalas ciuman karena Elang ternyata menyukai hal itu.


"Kamu ternyata pandai sekali berciuman, kamu pasti sering melakukan hal ini dengan kekasihmu."


"Apa? Kamu serius?"


"Selama hampir tiga tahun aku berpacaran, dia tidak mau jika aku mencium bibirnya. Jadi, kami hanya berpelukan dan aku hanya mencium pipinya."


"Kamu pasti bohong?"


"Untuk apa aku berbohong padamu?"


"Sulit dipercaya, dan sekarang kamu sangat menginginkan gadis itu? Untuk apa? Lebih baik cari saja orang lain."


"Aku menginginkan Kiara."


"Huft! Kamu itu sudah tidak menyukai Kiara, tapi kamu hanya terobsesi dan tidak suka dikalahkan."


"Terserah apa yang kamu katakan." Elang yang mau beranjak dari tempatnya ditahan oleh tangan wanita itu. "Aku mau kembali ke kamarku."


"Aku mau membayar atas apa yang kamu berikan padaku. Aku tidak melakukan tugasku dengan baik, tapi kamu tetap membayarku. Jadi, aku akan memberikan sesuatu agar aku tidak dianggap memakan gaji buta."


Elang menatapnya datar. Tangan wanita itu sekarang melepas kaos milik Elang, dan jemarinya mulai menelusuri tubuh Elang perlahan.


"Kamu memiliki tubuh yang atletis, padahal kamu masih anak sekolah."


"Aku seorang kapten tim baseball dan sudah banyak menyumbang kemenangan di sekolahku."


Wanita itu seketika melepaskan handuk mandinya dan kedua mata Elang tampak berbinar melihat pemandangan indah di depan matanya.


Elang pun menarik tengkuk leher wanita itu dan menciumnya. Wanita itu pun tampak bersemangat.


Di tengah mereka saling memberikan kenikmatan, ponsel Elang tiba-tiba berbunyi dan hal itu langsung membuat Elang melepaskan ciumannya pada wanita itu.


"Mega? ****! Dia mengganggu saja," umpatnya kesal.


"Siapa? Kekasihmu?"


"Iya, aku harus segera pergi." Elang mencari kaosnya.


"Biarkan saja dan kita teruskan apa yang mau kita lakukan."


"Tidak bisa karena aku tidak mau mendapat masalah lagi dengan keluargaku, dan kalau itu sampai terjadi, aku akan semakin lama untuk menjalankan rencanaku."


Elang beranjak dari tempatnya dan segera keluar dari kamar wanita itu. Di lorong dia menghubungi Mega.


"Lang, kamu di mana?"


"Aku sedang menuju lantai bawah untuk ikut acara sekolah kita, memangnya kenapa?"


"Oh ya sudah kalau begitu, aku menunggumu di bawah karena acaranya akan segera di mulai."


"Iya, Mega, kamu tunggu aku," ucap Elang terdengar manis.


Mega menutup panggilannya dan Elang dengan wajah menahan kesal turun kembali ke lantai bawah.


"Kamu ke kamar lama sekali, sedang mencari apa?" tanya Morgan yang berdiri di sebelah Elang.


"Mau tau saja." Morgan melihat aneh pada Elang. "Kenapa melihatku begitu? Ada yang aneh?"


"Itu leher kamu kenapa? Kamu sebenarnya di kamar siapa, sih Lang?"


"Apa?" Elang tampak kaget dan dia mencoba meraba lehernya. "Kenapa leherku?"


"Ada tanda cinta dari seseorang. Siapa yang memberikannya? Tidak mungkin Mega, kan?"


"Tanda merah?" Elang ingat jika wanita itu pasti sudah memberikan tanda merah itu. "****!" umpatnya kesal.