
Sore itu Kiara tampak senang berada di dapur sedang berkutat dengan masakannya. Dia tadi menghubungi Mas Gio dan bertanya tentang masakan yang di sukai oleh Arthur.
Arthur ternyata suka dengan Bali telur dan telur yang direbus itu harus di goreng dulu agar terbentuk kerak kecoklatan dan itu sangat Arthur sukai.
"Semoga nanti dia suka dengan masakan buatanku."
Kiara tampak kembali bersemangat karena kebetulan mendiang ibunya sering membuat bali telur dan Kiara sempat bertanya bumbu apa saja yang harus disiapkan. Apa lagi, menu bali telur rebus selalu menjadi menu utama di keluarganya sebab lebih hemat daripada daging atau ayam.
Kiara sudah selesai memasak dan dia naik ke lantai kamarnya untuk mandi dan berganti baju.
"Sudah jam lima sore. Dia sebentar lagi pasti akan datang.".
Kiara turun dan menyiapkan semua di meja makan. "Aku akan mencoba bersikap seperti seorang istri pada umumnya. Membuatkan masakan, melakukan pekerjaan rumah, tapi untuk tidur berdua, aku masih harus menyiapkan mentalku."
Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan malam, tapi sosok Arthur masih belum ada tanda-tanda untuk datang. Kiara melihat terus ke arah ponselnya, dia berharap pria yang sedang dia tunggu itu akan menghubunginya dan mengatakan kenapa dia datang terlambat.
"Apa dia akan pulang malam lagi? Pekerjaannya pasti sangat banyak." Kiara lagi-lagi melihat pada layar ponselnya.
Tidak ada ada panggilan dari ponselnya dan itu adalah Elang. "Kenapa dia menghubungiku lagi?"
"Halo, Kiara."
"Lang, ada apa?"
"Kiara, aku ingin bertemu denganmu besok di cafe yang biasa kita datangi."
"Aku tidak bisa, Lang. Besok aku mau pergi dengan bibiku."
"Ayolah Kiara! Aku ingin menjelaskan sesuatu sama kamu. Nanti Mega juga akan ikut dengan kita dan aku sudah bicara dengan Mega."
"Lang, aku tidak mau membahas masalah ini lagi karena aku sudah mengikhlaskan kamu dengan Mega."
Kiara juga bingung kenapa Mega belum menghubunginya? Apa karena Mega merasa bersalah dengannya? Nanti Kiara akan menghubungi sahabatnya itu.
"Ara, aku tidak akan bertunangan dengan Mega. Gadis yang aku cintai hanya kamu, Kiara."
"Mega gadis yang baik dan kalian juga berasal dari keluarga yang sama-sama berada. Aku yakin keluarga kalian akan bahagia."
"Ara, aku hanya akan bahagia jika bersama denganmu."
"Tidak bisa, Lang. Lang, aku mohon dengan sangat, kamu jangan menghubungiku lagi karena aku ingin hidup tenang dan bahagia dengan orang yang sekarang ada di dalam hatiku."
"Aku sama sekali tidak percaya padamu, Kiara."
"Terserah kamu, Lang, yang terpenting aku sudah jujur sama kamu dan aku mulai bisa mencintainya bahkan aku tidak mau jauh darinya."
"Siapa pria itu? Apa pahlawan kesiangan yang semalam membelamu itu? Ayolah, Kiara! Dia itu bukan pria baik-baik. Setelah dia mendapatkan apa yang dia inginkan darimu, dia pasti akan meninggalkan kamu begitu saja seperti benda tidak berguna. Arthur itu sang pemain, dan kamu jangan terkecoh karena ketampanan dan kekayaannya."
Kiara tidak mau menanggapi ucapan Elang yang dia sendiri sudah tau siapa Arthur dan semua yang dikatakan oleh Elang tidak benar.
Kiara kembali berpangku tangan dengan menatap ke arah meja makan yang sudah tersedia beberapa hidangan makanan. "Aku sudah lapar, tapi aku mau makan malam dengan Arthur."
Tidak lama ponsel Kiara berbunyi lagi dan kali ini kedua mata Kiara membulat bahagia melihat siapa yang menghubunginya.
"Mas Arthur!"
"Kiara, tadi aku menghubungimu, tapi kamu masih ada di panggilan lain."
"Iya, tadi Elang menghubungiku lagi, dia ingin mengajakku bertemu, tapi--."
"Iya. Oh ya, Arthur, apa kamu masih sibuk? Kenapa belum pulang?"
Arthur terdiam sejenak. "Iya, aku sepertinya pulang agak malam karena aku masih ada pekerjaan, dan kamu tidak perlu menungguku. Kamu makan saja dulu kemudian tidur dan jangan lupa mengunci pintunya."
"Oh ... jadi kamu tidak bisa makan malam denganku? Ya sudah kalau begitu." Wajah Ara seketika tampak sedih.
"Iya, aku minta maaf," ucap Arthur lirih.
"Pak Arthur, ini sudah selesai."
Terdengar suara seorang wanita yang membuat Kiara kaget. "Mas Arthur ada di mana?" tanya Kiara cepat.
"Aku ada di restoran karena ada pertemuan dengan rekan kerjaku dan di sini juga ada Manda dengan putranya."
"Manda? Dengan putranya?"
"Iya, hari ini Manda sampai malam di restoran karena dia harus mengurusi masalah pengiriman bahan baku dan ada masalah lainnya."
"Karena itu kamu tidak bisa pulang, ya sudah kalau begitu aku makan saja duluan karena aku sudah lapar. Bye, Arthur." Kiara mematikan panggilannya.
Kiara terlihat kesal dengan Arthur, sampai napasnya terlihat naik turun. "Dia lebih mementingkan bersama Manda. Bilang saja mau bersama Manda, kenapa juga mengatasnamakan pekerjaan?"
Kiara mengambil makanannya dan segera makan dengan lahap. Baginya sia-sia menahan lapar dari tadi.
Arthur di tempatnya pun tampak terdiam. Dia ini sebenarnya sudah mau pulang, dan dia menghubungi Kiara agar istrinya itu menunggunya sebentar lagi, tapi saat mengetahui Elang baru saja menghubunginya dan mengajaknya keluar, Arthur malah salah paham akan hal itu.
"Pak Arthur, ada apa?"
"Tidak ada apa-apa, Manda."
"Apa ada masalah di rumah Anda, Pak? Maaf, bukannya saya mau ikut campur, tapi saran saya sebaiknya kalau ada masalah saling menjauh dulu agar dapat menenangkan pikiran daripada nanti bertemu dan malah terjadi pertengkaran. Aku dulu seperti itu jika ada masalah dengan suamiku, Pak."
"Terima kasih atas sarannya, tapi masalahku degan istriku tidak begitu besar dan aku sudah menemukan penyelesaiannya."
"Semoga segera terselesaikan."
"Mami, ayo pulang, aku sudah mengantuk," rengek bocah kecil laki-laki yang berdiri tepat di samping Manda.
"Iya, kita akan pulang sekarang."
"Mami, aku mau pulang dengan Om Arthur. Om Arthur, mau 'kan mengantar aku dan mami pulang?"
Arthur melihat pada Manda. "Sayang, Om Arthur harus segera pulang, kita naik mobil online saja."
"Tidak mau, enak naik mobil bersama Om Arthur," rengeknya lagi.
Manda memang belum bisa membawa mobil sendiri mengingat kakinya yang masih sakit, dan dia memilih pergi ke tempat kerjanya menggunakan mobil online, dan tadi Dean diantar oleh pengasuhnya ke restoran karena maminya yang belum pulang ke rumah.
"Aku akan mengantarkan kalian pulang setelah itu aku akan pulang."
Arthur mengantar mereka pulang, dan Dean tampak senang sekali. Di dalam mobil dia tidak hentinya mengajak Arthur berbicara. Manda yang melihat hal itu benar-benar sangat senang. Arthur sosok pria yang bisa menjadi papi yang baik bagi Dean, tapi sayang, dia sudah menikah.
"Dean sudah tidur, anak ini tadi sudah aku bilang tidak perlu ke restoran, tapi memaksa."
"Biar aku yang menggendongnya dan membawanya ke kamar. Bolehkan?"
Manda langsung mengangguk, dia tampak sangat senang karena Arthur sangat perhatian.