
Kiara duduk di kursi samping kemudi dan di sebelahnya ada Bibi Yaya yang duduk tepat di depan kemudi.
"Jadi, Bibi Yaya bisa mengemudi mobil?" Kiara tampak mendelik kaget.
"Tentu saja Bibi bisa mengemudi. Mengendarai motor besar saja bibi Bisa?" Wanita paruh baya itu tersenyum.
"Serius?" Sekali lagi Kiara mendelik.
"Iya, dan kamu tau? Bibi bisa mengemudi mobil diajari oleh mendiang ibunya Arthur."
"Wah! Bibi memang penuh kejutan."
"Banyak kejutan yang nanti kamu tidak akan percayai, Kiara."
Wanita itu menjalankan mobil berwarna hitam. Arthur tadi memang mengirimkan mobil ke tempat bibi Yaya agar bisa digunakan oleh Bibi Yaya karena mulai sekarang Bibi Yaya juga yang akan menjadi supir pribadi Arthur.
Wanita paruh baya itu meskipun usianya sudah kepala lima, tapi dia masih sangat terlihat kuat dan sehat.
Di perjalanan Kiara bertanya apa lagi yang Kiara tidak ketahui dari Bibi Yaya. Bibi Yaya hanya mengatakan jika nanti Kiara akan mengetahui secara perlahan.
"Bi, itukan Mas Arthur!" Kiara menunjuk ke arah restoran, di mana restoran yang dia tunjuk adalah milik Arthur.
"Iya itu Arthur dan--." Bibi Yaya tidak meneruskan ucapannya, dia segera memutar balik menuju restoran itu. Bibi Yaya tidak mau jika Kiara dan Arthur bertengkar lagi hanya karena salah paham karena tadi Kiara melihat Arthur sedang berpelukan dengan seorang wanita.
"Itu mba Manda, Bi."
"Kita turun saja dan temui suamimu."
Kiara dan Bibi Yaya turun. Mereka memasuki restoran itu.
Arthur yang melihat istrinya ada di sana sedikit terkejut, dia lalu melepaskan pelukannya pada Manda dan memeluk Kiara.
"Kiara, kamu kenapa ke sini?"
"Tadi kami kebetulan lewat sepulang dari rumah sakit dan melihat kamu di sini, Arthur," jelas Bibi Yaya.
"Mas, kenapa Mba Manda menangis?"
"Kiara, Dean dibawa oleh pamannya pergi entah ke mana? Ini tadi pengasuh Dean sudah mencari Dean ke mana-mana, tapi tidak ada dan tidak lama Manda mendapat pesan dari pamannya Dean jika Dean sedang bersamanya untuk diajak jalan-jalan."
"Pak Arthur, saya tidak bisa bisa menghubungi ponsel Bruno. Dia kenapa harus membawa Dean jika aku sudah setuju untuk menyerahkan seluruh harta warisan ayah Dean padanya?"
Kiara mendekat dan memeluk Manda. "Mba Manda, tenang dulu. Dean pasti baik-baik saja."
"Aku tidak bisa tenang Kiara, kamu tidak tau Bruno orang seperti apa. Kalau dia memang ingin mengajak Dean jalan-jalan kenapa tidak menunggu hari libur dan bisa izin padaku. Dia tidak perlu datang ke sekolah dan menjemputnya seperti ini?"
"Orang-orangku yang aku perintah mengawasi kalian juga sudah melakukan kesalahan sampai bisa lolos dalam hal ini. Manda, kamu tenang saja karena aku akan segera menemukan Dean."
Arthur memang dulu sempat menyuruh beberapa orang suruhannya untuk mengawasi Dean dan Manda, tapi karena mungkin dirasa pamannya Dean sudah tidak pernah menunjukkan akan tanda-tanda mengganggu. Jadi, Manda mengatakan untuk tidak terlalu mengawasi karena Manda juga agak risih sebentar harus ada orang yang terus memantau kegiatan dia dan Dean.
"Arthur, apa aku menghubungi suamiku saja untuk mencari di mana keberadaan Dean? Kamu kirim saja foto Dean dan pamannya itu."
Bibi Yaya segera menghubungi suaminya dan mengirim semua yang dibutuhkan oleh suaminya.
Kiara tetap di sana untuk menenangkan Manda yang dari tadi menangis karena khawatir dengan keselamatan Dean.
"Sayang, kamu tidak mau pulang? Ini sudah tiga jam kamu di sini. Sebaiknya kamu pulang dan beristirahat."
"Tidak apa-apa, Mas. Aku kasihan melihat Mba Manda. Kenapa aku sendiri seolah sudah kehilangan anakku? Dean juga sudah aku anggap seperti anakku sendiri. Aku benar-benar khawatir sama dia, Mas."
Kiara pun ikut menangis dan memeluk suaminya. Tidak lama Gio datang ke sana setelah dia diberitahu oleh Arthur. Gio yang baru saja turun dari pesawat setelah mengantarkan kekasihnya ke rumah keluarganya di luar negeri, dia segera menuju restoran setelah membaca pesan dari Arthur.
"Bagaimana sekarang, Arthur?"
"Orang-orangku masih mencarinya dan bahkan aku menyuruh Paman Damar untuk mencari keberadaan Dean. Pria itu benar-benar brengsek! Awas saja kalau sampai dia berani melukai Dean secuil saja." Kedua rahang tegas Arthur sampai mengeras.
Tidak lama Bibi Yaya mendapat telepon dari suaminya yang mengabari jika Dean sudah ditemukan bersama dengan pamannya juga.
"Paman, apa pria itu juga sudah Paman amankan?"
"Sudah, dia sudah Paman amankan dan anak kecil ini sudah Paman bawa ke rumah sakit karena pria brengsek ini sempat melukai anak kecil ini."
"Apa? Paman, tunggu aku di sana karena aku mau bertemu dengan pria itu." Arthur menutup panggilan teleponnya.
"Mas, bagaimana?"
"Dean sudah ditemukan, mereka ada di luar kota di mana pria itu membawa Dean ke rumah kekasihnya."
"Pak, bagaimana keadaan Dean, saya ingin bertemu dengan Dean?" tanya Manda cemas.
Arthur tampak terdiam sejenak. Dia bingung apa harus mengatakan jika pria yang adalah pamannya Dean itu sempat melukai Dean, tapi Paman Damar sudah membawanya ke rumah sakit atau nanti saja biar Manda tau sendiri?
"Pak Arthur kenapa diam? Apa Dean baik-baik saja?"
"Pamannya Dean sempat melukai Dean, tapi aku tidak tau apa yang sudah dia perbuat, hanya saja Paman Damar sudah membawanya ke rumah sakit. Dean baik-baik saja."
"Apa? Bruno memang sangat keterlaluan!" Manda terlihat sangat histeris dan marah.
"Mba Manda tenang, Dean pasti baik-baik saja." Kiara sekali lagi mencoba menenangkan Manda, pahala Kiara sendiri juga sedih dan menangis mendengar jika Dean juga dilukai.
"Pak, saya mau ke sana, saya mau bertemu dengan Dean!"
"Kita akan ke sana dan aku juga ingin memberi pelajaran pada pria yang sakit jiwa itu. Pria yang tega melukai anak sekecil Dean."
"Mas, kamu mau apa?" Kiara khawatir sekarang melihat wajah suaminya yang diliputi kemarahan.
"Kamu tenang saja Kiara, aku hanya ingin bertemu dengan pamannya Dean dan akan aku peringatkan dia sekali lagi untuk tidak mengganggu Dean dan Manda. Kalau dia tidak mau mendengarkan, dia akan berurusan denganku dan satu lagi aku akan memperjuangkan warisan peninggalan ayah Dean hanya untuk Dean karena Dean yang berhak mendapatkan itu semua." Arthur terlihat sangat serius dengan ucapannya.
"Mas, kalau begitu aku mau ikut Mas Arthur."
"Kiara, kamu tidak boleh ikut, sayang, aku akan pergi ke luar kota dan perjalanan ke sana tidak baik untuk kesehatan bayi kita. Aku akan pergi dengan Manda dan juga Gio, kamu sebaiknya kembali ke apartemen bersama Bibi Yaya dan tunggu aku pulang. Oke!" Arthur mengusap lembut pipi istrinya.