Be Mine

Be Mine
Kembali Kuliah part 1



Hari ini Kiara sudah berada di apartemennya setelah kemarin dirawat di klinik mamanya Morgan. Kiara dan Arthur sekarang berada di meja makan untuk makan malam.


"Mas, aku besok sudah boleh masuk kuliah, kan?"


"Kalau ingin tidak masuk kuliah juga tidak apa-apa," jawab Arthur santai.


"Jangan begitu, Mas! Kenapa kamu seolah tidak suka aku kuliah?"


Arthur menatap istrinya dalam. Dia memang tidak setuju Kiara kuliah, tapi kalau dia larang, pasti istrinya akan sedih.


"Aku senang kamu bisa kuliah, tapi jika keadaan kamu baik-baik saja."


"Aku baik, Mas! Aku malah sedih jika kamu kerja aku di apartemen tidak berbuat apa-apa."


Tangan Arthur mengusap lembut pipi Kiara. "Iya, kamu boleh kuliah, tapi harus selalu berhati-hati, ya Sayang."


"Pasti, Mas!"


Kiara melanjutkan makannya dan setelah makan dia minum susunya kemudian izin tidur dulu agar besok bisa bangun pagi.


Bibi Yaya malam ini belum pulang karena dia akan menyiapkan bahan masakan untuk bekal Kiara besok pagi.


"Bi, apa Kiara akan marah dan kecewa jika aku nanti mengatakan akan menolak tinggal di rumah utama setelah Mega dan Elang menikah?"


Bibi Yaya yang sedang memotong sayuran langsung menolah pada Arthur yang masih duduk di meja makan.


"Kamu serius tidak akan tinggal di rumah utama?"


"Aku sudah memutuskan untuk tidak tinggal di sana karena bagiku Kiara akan lebih aman di sini."


"Bibi senang akhirnya kamu mengambil keputusan yang tepat. Bibi bukannya tidak percaya atau mencurigai sikap baik mama dan Mega, walaupun memang sebenarnya bibi belum bisa percaya sepenuhnya sama mereka, tapi alangkah baiknya jika Kiara tetap di sini, Arthur."


Arthur menyeruput coklat hangatnya. Dia tampak terdiam sejenak. "Setelah apa yang Kiara ceritakan padaku tentang kejutan Mega itu, entah kenapa aku langsung berpikir jika Mega sengaja melakukan itu agar Kiara dan bayiku mendapat masalah. Andai aku memiliki bukti kuat jika keluargaku sendiri ingin melukai istriku dan calon bayiku, aku akan melakukan hal yang mereka tidak akan bisa bayangkan, bahkan aku akan lupa jika mereka adalah keluargaku." Tampak kedua rahang tegas Arthur mengeras.


"Tidak perlu dipikirkan masalah itu. Kita yang terpenting fokus menjaga Kiara."


"Iya, Bi. Huft! Sekarang aku harus mencari alasan yang tepat kenapa aku tidak mau jika ditawari untuk tinggal di sana, dan nanti Kiara pasti merasa sedih."


"Katakan saja alasan kamu ingin punya privasi berdua dengannya, makannya kamu tidak mau tinggal di rumah utama."


Arthur tampak terdiam. "Kiara apa nanti akan mau mendengarkan penjelasan dariku, Bi? Dia ingin sekali tinggal di rumah utama karena dia senang sekali bisa diterima oleh keluargaku."


"Sebenarnya itu juga yang sedang aku pikirkan, Arthur. Kiara itu keras kepala, aku takutnya nanti dia tetap bersikeras ingin tinggal di rumah utama dan berharap kamu tidak memiliki pikiran buruk terhadap Mega dan mamamu. Kiara itu terlalu polos."


"Dia juga terlalu baik sampai tidak tau mana yang benar-benar tulus dan palsu."


Tangan Bibi Yaya menepuk pundak Arthur. "Coba saja jelaskan dulu dan nanti kita tunggu tanggapan Kiara."


"Iya, Bi. Apa Bibi mau pulang sekarang? Aku sangat lelah hari ini karena harus bolak balik ke restoran dan kantorku, Manda sakit lagi dan dia harus dirawat di rumah sakit. Aku kasihan sama Dean, dia dijaga oleh pengasuhnya. Aku sudah bilang Manda agar Dean bisa aku bawa saja ke sini, tapi Manda bilang dia tidak mau merepotkan."


"Semoga saja dia lekas pulih dan Bibi juga tidak keberatan jika Dean di sini, jadi Bibi ada temannya."


"Mungkin Manda tidak mau membuat Kiara tambah repot karena Manda juga tau Kiara baru saja dirawat."


Setelah selesai melakukan tugasnya, Bibi Yaya pulang dan Arthur naik ke kamarnya. Dia melihat istrinya tidur dengan nyaman. Arthur pun naik ke atas tempat tidur dan tidur dengan memeluk istrinya.


"Aku mencintaimu dan bayi kita, Kiara. Aku berjanji tidak akan membiarkan orang lain melukaimu." Arthur mengecup kepala istrinya dan dia ikut tertidur.


***


Pagi itu Kiara sudah bersiap-siap. Dia dan Arthur sarapan di meja makan dengan lahap.


Bibi Yaya membawakan bekal makanan dan camilan untuk Kiara agar tidak makan makannya di luar.


"Sayang, kita berangkat sekarang." Arthur membawakan tas Kiara dan bekalnya, tangan satunya dia menggandeng istrinya.


Bibi Yaya yang melihatnya tampak tersenyum senang. "Putramu tumbuh menjadi sosok suami yang sangat hebat dan aku yakin dia akan menjadi seorang ayah yang terbaik," Bibi Yaya berdialog seolah bicara dengan mendiang ibunya Arthur.


Arthur sampai di depan gedung kampus Kiara dan Kiara mengecup punggung tangan Arthur.


"Sayang, nanti tunggu aku menjemput kamu."


"Iya, Mas!"


"Jangan pulang dulu atau pulang dengan orang lain. Tunggu aku datang," Arthur menekankan kata-katanya.


"Mas kenapa sekarang jadi seperti seorang bodyguard saja? Sama Mega kemarin juga seolah Mas marah. Bukan Mega penyebab perutku sakit waktu itu. Mungkin saja memang aku kecapean dan akhirnya sakit."


"Aku tidak marah sama Mega."


"Bohong. Mas, aku itu istri kamu loh! Apa kamu lupa itu? Dan aku sudah mengenal sifat dan karakter kamu bagaimana. Bukan Mega penyebabnya, Mas, dia sudah berubah baik padaku."


"Kiara, bisa tidak menuruti apa yang aku katakan. Aku selalu ingin menjaga kamu dan bayi kita tetap baik. Tolong bantu aku dengan menuruti apa yang aku katakan." Tangan Arthur mengusap lembut pipi istrinya.


Kiara yang melihat wajah suaminya seperti itu akhirnya mengangguk perlahan. Arthur kemudian mengecup kening dan perut Kiara. Kiara keluar dari dalam mobil dan melambaikan tangan masuk ke dalam gedung kampusnya.


Kiara berjalan menuju kelasnya. "Kiara!" teriak seseorang dari arah belakang.


"Momo! Kamu baru datang?"


"Iya, tadi aku melihat mobil suami kamu keluar dari sini. Aku senang akhirnya kamu bisa masuk kuliah."


"Aku juga senang akhirnya bisa kuliah."


Momo melihat tas dan bekal yang dibawa oleh Kiara, dia kemudian mengambilnya untuk dibantu membawa ke dalam kelas.


"Kamu itu sedang hamil. Jadi, jangan membawa barang-barang yang berat seperti ini."


"Ini tidak berat, Momo."


"Sudah! Biar aku saja yang membawanya masuk dan kamu berjalan saja, dan lihat langkah kamu kalau berjalan agar tidak tersandung."


Kiara tampak tersenyum lebar. "Terima kasih ya, Momo."


"Iya, sama-sama. Aku salut sama kamu Kiara."


"Salut kenapa?"


"Kamu tidak malu kuliah membawa tas bekal seperti ini. Biasanya orang itu malu sekolah atau kuliah membawa bekal seperti ini apa lagi sudah kuliah, sekolah SMA saja kadang malu."


"Pengalaman kamu, ya?"


Momo terkekeh. "Iyalah, aku pasti malu membawa bekal. Mending jajan langsung di kantin, apa lagi uang saku aku banyak."


"Mas Arthur dan bibi Yaya itu sejak aku hamil, mereka benar-benar mengatur semua yang aku makan karena tidak mau kalau aku dan bayiku sampai kenapa-napa, lagi pula aku juga lebih senang makan masakan bibi Yaya."


"Kamu memang calon ibu yang terbaik." Momo memberikan jempolnya.


Mereka berdua masuk ke dalam kelas dan Kiara duduk tepat di depan bangku Momo. Tidak lama lelaki bernama Kiano itupun datang ke kelas Kiara. Sontak saja para mahasiswi baru yang mengidolakan Kiano menjadi heboh di dalam kelas Kiara.


"Hai, Kiara, bagaimana keadaan kamu?"


"Kak Kiano, aku sudah baikkan