Be Mine

Be Mine
Rencana Mega Part 2



Mega mengatakan jika Elang sudah memberitahu tentang walkman itu dan Mega mengizinkan jika Elang memberikan benda yang seharusnya milik Kiara, agar Elang tidak menyimpan segala hal yang berhubungan dengan Kiara.


"Kiara, kita turun sekarang saja karena kakakku pasti sudah menunggu kamu."


"Iya, aku juga ingin mengajaknya pulang karena aku merasa agak capek."


"Hamil itu apa sering manja seperti itu? Em! Maksud aku sering ada saja yang menjadi masalah?"


"Tidak juga, kata dokter Maura kalau setiap ibu hamil itu berbeda-beda, tapi untuk aku ini juga hal yang wajar. Nanti kalau kamu sudah menikah kemudian hamil, pasti akan merasakan betapa indahnya prosesnya."


"Aku memang setelah menikah ingin cepat-cepat memiliki anak dari Elang, malahan aku berharap anakku nantinya yang menjadi cucu pertama di sini."


"Cucu pertama?" Wajah Kiara terlihat heran dengan ucapan Mega.


"Iya, aku, kan waktu itu tidak menyangka jika Kakakku akan diam-diam menikah dengan kamu. Aku kira dia akan memilih sendiri dulu setelah sakit hati yang dia rasakan pada Selena, tapi ternyata kamu menikah dengannya dan hamil."


"Aku juga tidak menyangka bisa menikah dengan Kakak kamu."


"Memang cinta itu tidak tau ke mana arahnya akan membawa kita. Seperti apa yang kita rasakan saat ini."


Mega beranjak dari tempatnya dan dia berjalan beriringan dengan Kiara menuju anak tangga.


"Kiara, kamu turun saja dulu karena aku mau mengambil ponselku yang tertinggal."


"Oh ya sudah! Kalau begitu aku akan menunggu kamu di bawah bersama keluargamu."


Mega kemudian berjalan pergi dari sana agar tidak dicurigai. Dia akan menunggu mendengar teriakan Kiara.


Namun, beberapa detik dia tunggu, tapi suara teriakan Kiara tidak terdengar. Mega yang heran segera berjalan mendekat anak tangga dan dia tidak melihat Kiara yang jatuh.


"Kenapa Kiara baik-baik saja? Dia tidak jatuh di anak tangga?" Mega turun perlahan-lahan dan mencoba memeriksa air yang dia tuang dia anak tangga tadi, tapi ternyata di sana airnya pun tidak ada.


Mega semakin tampak heran. Kenapa bisa tidak ada air di anak tangga itu? Mega masih bingung berdiri di tempatnya.


"Sayang, kamu kenapa ada di anak tangga? Kenapa tidak turun saja?"


"Elang?" Mega tampak kaget tiba-tiba calon suaminya itu sudah ada di bawah anak tangga.


"Kamu jangan berdiri di sana karena di sana tadi baru saja dibersihkan oleh pelayan karena ada air tumpah dan tadi aku hampir saja jatuh kalau aku tidak berpegangan dengan cepat."


"Apa? Kamu tadi hampir jatuh karena air di sini?" Mega antara kaget dan cemas.


"Iya, Sayang! Tadi aku hampir jatuh karena air di anak tangga ini. Bayangkan saja jika aku jatuh dan kakiku patah, atau lebih parahnya aku sampai terluka parah. Lalu, bagaimana dengan pernikahan kita yang semakin dekat?"


Mega kedua matanya tampak membulat. Dia pasti akan merasa bersalah sekali jika Elang yang terluka karena air yang sengaja dia tumpahkan itu.


Mega segera berlari turun dan memeluk Elang dengan erat. "Kamu jangan bicara hal buruk seperti itu, Lang. Pernikahan kita tidak akan ada yang bisa menghalangi nantinya. Nanti aku akan menegur pelayanku yang mungkin membawa minuman dengan ceroboh."


"Tidak perlu seperti itu, mungkin mereka juga tidak sengaja. Tadi yang malah aku takutkan juga kamu jatuh di sana, atau Kiara yang sedang hamil karena aku tau kalian berdua ada di lantai atas." Tatapan Elang seolah menunjukan dia muak dengan gadis di depannya ini.