Be Mine

Be Mine
About Baju Pantai part 1



Kiara dan Mega keluar dari kamar hotel mereka dengan berpegangan tangan.


Senyum Kiara dari tadi tidak lepas dari bibirnya. Mereka berdua berjalan menuju ke arah pantai karena semua temannya sudah ke sana.


"Kiara, aku mau menghubungi Arthur dulu, takutnya dia belum bangun."


"Dia sudah bangun," celetuk Kiara.


"Hah? Dari mana kamu tau kalau kakakku sudah bangun?" Wajah Mega tampak kaget plus penasaran


Kiara yang keceplosan seketika mukanya tampak bingung. Dia tadi pagi sudah mengirim pesan pada suaminya agar segera bangun karena Kiara akan menunggunya di pantai, dan sang suami membalas pesan itu, Arthur mengatakan nanti akan menyusul Kiara ke pantai.


"Aku cuma menebak, bukannya kakak kamu itu berangkat kerjanya pagi. Jadi, dia biasa bangun pagi, dan pasti sudah bangun." Kiara mencari alasan yang baginya masuk akal.


"Iya juga sih!"


Mereka kembali melanjutkan perjalan dan saat sudah melihat indahnya pantai. Mega tampak melihat seseorang yang berdiri tepat di bibir pantai.


Pria itu menggunakan kemeja lengan pendek berwarna biru dan celana selutut berwarna cream. Dia sedang membelakangi Mega dan Kiara.


"Itu 'kan kakakku. Kak Arthur! Mega melambaikan tangannya pada Arthur yang akhirnya menoleh karena mendengar seseorang memanggil namanya.


"Dia tampan sekali," ucap Kiara lirih.


"Ayo ke sana Kiara." Mega berjalan lebih dulu dan Kiara mengikuti dari belakang.


Arthur yang melepaskan kacamatanya tampak sedikit kaget melihat penampilan istrinya.


"Apa-apaan dia? Kenapa memakai baju sangat terbuka seperti itu." Wajah Arthur langsung ditekuk kesal.


"Kak, ternyata kamu sudah di sini, aku kira kamu masih tidur di kamarmu."


"Aku sudah dari tadi di sini. Oh, ya! Kenapa kalian memakai baju semini ini?"


"Memangnya kenapa? Bagus, kan?"


"Terlalu terbuka Mega."


"Terbuka dari mana? Kak, kita ini di pantai dan ini baju yang memang aku beli khusus untuk dipakai di pantai."


"Tapi di sini banyak anak laki-lakinya juga, Mega."


"Ih! Kakak Norak. Ini biasa saja. Lihat saja, Kiara bahkan terlihat cantik dan dia tadi sampai tersenyum sendiri melihat dirinya di cermin. Iya, kan Kiara?"


"Iya, aku merasa baju ini cocok untukku." Kiara melihat ke arah suaminya yang sekarang menunjukan kedua rahang tegasnya yang mengeras. Kiara sekarang tau jika suaminya itu sedang dalam tahap pertama mengeluarkan rasa ketidaksukaannya.


"Bukan norak, Mega." Arthur ini sebenarnya mempermasalahkan Kiara, kalau Mega dia sudah biasa melihat adiknya yang berpakaian mini jika berada di rumah atau saat berlibur di luar negeri. Arthur ini sebenarnya ingin menegur Kiara, tapi dia tidak mungkin bersikap langsung menegur pada Kiara karena setahu mereka Arthur dan Kiara tidak ada hubungan apapun. Jadi, tidak berhak mengurusi apa yang Kiara lakukan.


"Baju ini sangat pas, Kakakku Sayang. Kiara, ayo kita bermain air di sana." Mega tiba-tiba menarik tangan Kiara, dan membawanya tepat di air yang sedang pasang.


"Mega ...!" seru Arthur, tapi Mega tidak memperdulikannya.


Kiara tampak menoleh pada suaminya yang sudah menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Mega, apa kata kakak kamu benar. Mungkin baju ini terlalu terbuka, bagaimana kalau kita ganti saja?"


"Aduh, Kiara! Kamu itu tidak perlu mendengarkan apa kata Kak Arthur. Ini bagus dan cocok dipakai di sini, lagi pula kenapa kamu menuruti sekali dengan apa yang dikatakan oleh kakakku? Dia itu bukan pacar, atau suami kamu."


Arthur yang mau mendekati Kiara dan Mega malah dikerumuni oleh teman-temannya Mega.


Mereka yang kagum pada sosok tampan Arthur meminta foto bersama.


"Apa-apa dia? Aku berpakaian seperti ini di protes, sedangkan dia malah tampil mempesona begitu. Apa dia sengaja biar dikagumi oleh para gadis seperti itu?" gerutu Kiara lirih.


"Kiara, kamu sedang menggerutu? Ada apa?"


"Tidak ada apa-apa."


"Pokoknya kamu tidak boleh berganti baju. Kita harus sama sampai nanti kita berfoto bersama." Mega melihat Tia dan beberapa teman lainnya yang sedang bersama dengan Arthur. "Dasar si Tia itu. Sudah aku bilang kalau Kak Arthur dah punya calon istri, masih saja di dekati."


Kiara hanya melihatnya dan terdiam. Dia memang tidak bisa mengatur perasaan seseorang agar tidak menyukai suaminya, tapi jika hal itu sudah batas tidak wajar, Kiara juga bisa bertindak.


"Hai, kalian berdua cantik sekali hari ini," puji Morgan yang datang ke sana dengan Elang.


"Hai, Mega." Elang melihat ke arah Kiara dan Elang dalam hatinya membenarkan jika Kiara memang cantik. "Hai, Kiara."


"Hai, Lang," jawab Kiara singkat.


"Kalian mau bermain pasir tidak? Kita buat istana pasir bersama-sama," ajak Morgan.


"Kekanak-kanakan sekali mainan kamu, Mo."


"Habisnya aku bingung kita mau main apa?"


"Aku mau berfoto saja di pantai ini dan bermain air di sana."


"Hai, Momo," tiba-tiba ada seorang gadis menghampiri mereka.


"Hai, Lila, kamu di sini juga?"


"Iya, aku sedang membantu ibuku membuka kedai makannya di sini."


"Senang bertemu sama kamu lagi. Oh ya! Kenalkan ini teman-teman baikku."


Morgan menceritakan jika Lila ini gadis yang berasal dari kota di sana, dan kedua orang tuanya mempunyai kedai yang menjual makanan di pantai itu.


"Kamu Kiara yang kata Momo dia diam-diam mengagumimu, tapi tidak bisa menjadi kekasihmu."


"Apa? Ya ampun Morgan."


"Dia tanya apa aku punya kekasih di sekolah, aku bilang kebanyakan anak gadis di sekolahku pernah berpacaran denganku, tapi hanya sebentar semua. Lalu, dia tanya apa sekarang tidak ada yang kamu sukai? Aku hanya kagum sama sama yang namanya Kiara, dan dia mantan kekasih sahabatku, hanya saja dia sukanya pria yang lebih matang."


"Dasar kamu! Lila, Morgan memang suka bercanda, tapi dia teman yang baik dan menyenangkan, kok."


"Aduh, Kiara. Kamu jangan mengatakan hal manis itu tentangku, nanti aku benar-benar akan menikung Arthur untuk merebutmu walaupun itu hal yang pastinya sangat sulit."


"Kok Arthur, sih? Kiara itu tidak berpacaran dengan kakakku, dia malah akan menikah dengan kekasihnya yang bernama Max atau Mas Radit."


"Apa? Menikah?" Wajah Elang seketika kaget.


"Iya, Lang, Kiara akan segera menikah dengan kekasihnya itu, walaupun aku belum pernah dia kenalkan, tapi Kiara berjanji akan mengundangku di hari pernikahannya."


"Mega, kenapa malah diberitahukan pada semua?"


"Kenapa? Ini berita bahagia, Kiara dan semua teman kita juga pasti senang mendengarnya."


"Congratullasion, Kiara," ucap Lila sembari memeluk Kiara.


"Apa? Waduh! Kamu benar-benar serius ingin menikah di usia muda, Kiara?"


"Kalau dia sudah siap segalanya, dan aku mencintainya, kenapa tidak?" Kiara malah tersenyum. Beda dengan wajah Elang, Elang tampak terdiam seperti dia shock mendengar kabar itu.