
Kiara mendengar jika dokter itu marah karena Alexa minum teh manis yang seharusnya tidak boleh dan seharusnya jika ingin makan apapun dari luar selain yang diberikan rumah sakit harus meminta izin. Dokter itu pun kemudian melihat ke arah Kiara yang memegang es teh manis di tangannya
"Kamu itu bagaimana? Kenapa malah memberikan minuman yang dilarang? Kalaupun ingin memberikan makanan selain makanan yang diberikan rumah sakit, kamu harus meminta izin!"
"Dok, jangan salahkan menantuku, dia tidak salah," bela Mama Alexa.
"Dia menantumu? Harusnya dia itu peka bisa menjaga Ibu mertuanya agar segera pulih, bukan malah memberikan hal yang bisa membuat sakitnya tambah parah!"
Kiara terdiam mendengar apa yang dikatakan oleh dokter itu
"Aku tidak enak minum air putih itu, Dok. Rasanya tidak enak. Aku ingin muntah."
"Tapi jangan sembarangan memberikan minuman selain air putih, apalagi itu! Dia membawa teh manis dengan es batu. Kamu itu bagaimana? Lain kali, kalau berbuat apa-apa atau memberikan makanan atau minuman untuk pasien izin terlebih dahulu! Dengarkan itu? Kalau ada apa-apa dengan pasien di sini kamu mau bertanggung jawab?" sergah dokter itu marah pada Kiara
"Aku minta maaf, Dok, lain kali tidak akan aku lakukan." Kiara tidak mau mengatakan jika dia yang sebenarnya sudah akan memintakan izin, tapi mama mertuanya tidak mau, Kiara tidak mau mengatakan hal itu karena nanti yang ada mama mertuanya akan disalahkan oleh dokternya.
Dokter itu izin pergi dari sana setelah melakukan sedikit pemeriksaan.
"Maafkan tante Kiara, tante tidak tahu jika dokter itu akan masuk ke ruangan dan melihat ada teh manis yang kamu belikan, padahal tadi aku hanya minum sedikit dan sudah menjelaskan, tapi dia tetap saja marah."
"Tidak apa-apa, Tante Alexa, seharusnya aku juga tidak berbuat ceroboh dan meminta izin terlebih dahulu."
Bibi Yaya yang melihat ada hal buruk yang memang Alexa sengaja lakukan pada Kiara, tapi dia tidak dapat mengatakan karena ini hanya pikirannya saja tidak ada bukti nyata.
"Selamat siang Nyonya Besar Alexa. Bagaimana keadaannya saat ini?" sapa Bibi Yaya.
"Bibi Yaya, aku baik. Terima kasih sudah menjengukku di sini semestinya kamu tidak perlu repot ke sini."
"Saya ke sini selain ingin menjenguk Nyonya Besar Alexa juga ingin menjemput Kiara untuk pulang sesuai apa yang dipesankan oleh tuan muda Arthur "
"Jadi Kiara hanya sebentar di sini?"
"Nyonya Besar Alexa tahu, kan jika Kiara sedang hamil dan tidak baik berada di rumah sakit menjaga orang sakit terlalu lama, ini juga yang dipesankan oleh dokter kandungan dari Kiara dan Tuan Muda juga berpesan hal itu."
"Ya sudah kalau begitu tidak apa-apa, aku juga tidak mau disalahkan jika nanti ada apa-apa dengan Kiara dan bayinya."
"Tante Alexa, aku akan berada di sini sampai nanti Mega dan Elang datang untuk menjaga tante. Oh ya, Tante! Apa Tante memerlukan sesuatu lagi?"
"Aku tidak ingin apa-apa, hanya saja aku bosan walaupun baru sehari di sini tidak enak sekali jika sakit." Alexa mencoba mengangkat kakinya dan dia terlihat merintih kesakitan.
"Kaki %Tante Alexa sakit? Apa aku perlu panggilkan suster?"
"Tidak perlu, Kiara, ini mungkin aku kecapean saja. Sebelum pingsan itu aku memang sangat sibuk mondar-mandir untuk mengurusi acara pernikahan mega yang akan segera terlaksana."
"Bagaimana kalau saya pijit saja, Nyonya Besar? Mungkin akan sedikit enakan."
"Kamu memijit kakiku? Kamu cuma seorang pelayan Bibi Yaya, dan kamu tahu sendiri aku tidak suka hal itu, kalaupun aku mau dipijat, aku akan memanggil tukang pijat yang lebih profesional, tidak menyuruh orang lain begitu saja, apa lagi sama pelayan seperti kamu. Aku malah tidak mau nanti kenapa-napa karena kamu salah memijit."
"Bagaimana kalau aku pijat sedikit, Tante? Aku akan pelan-pelan, tidak akan melakukan pijitan yang bisa buat kaki Tante sakit."
Bibi Yaya seketika mengusap punggung Kiara, dia ingin memberi isyarat jika kiara tidak perlu menawarkan hal itu.
"Tentu saja kamu boleh, bukankah kamu adalah menantuku. Silahkan, Kiara. Kaki aku sakit sekali, siapa tahu dengan kamu pijat akan hilang sakitnya."
Kiara duduk di tepi ranjang dan Tangannya mulai memijat pelan-pelan kaki Alexa.
"Pijatan kamu enak sekali. Oh ya bagaimana tanggapan kamu tentang keinginanku agar kamu dan Arthur pindah ke rumah utama setelah Mega dan Elang menikah? Aku ingin kalian semua berkumpul di sana." Bibi Yaya yang mendengar hal itu sedikit terkejut.
"Aku sudah mengatakan sama Mas Arthur, jika aku menyetujuinya, tapi mas Arthur bilang dia akan memikirkannya lagi karena bagaimanapun Mas Arthur juga orang yang ingin memiliki privasi sendiri."
"Putraku itu memang selalu begitu, tapi dia masih sering mengunjungiku walaupun dia tinggal di rumah ibu kandungnya dulu. Hanya saja sejak menikah dengan kamu, dia sama sekali tidak pernah mengunjungiku, bahkan menghubungiku."
Kiara terdiam mendengar hal itu, tangannya masih terus memijit kaki mama mertuanya.
"Kiara, aku ingin ke belakang. Sudah selesai mijitnya. Kiara, apa kau bisa membawakan infusnya. Aku tidak mau memanggil suster karena aku tidak mau dikira orang yang manja sedikit sedikit memanggil suster."
"Iya, Tante, aku akan menolong membawakan infusnya."
"Saya saja Nyonya Besar. Saya akan membantu Nyonya Besar ke belakang membawakan infusnya."
"Biar Kiara saja, Bi, Kiara tidak keberatan membantuku, aku juga ingin tau sebaik apa menantuku ini."
Alexa turun perlahan dari tempat tidurnya dan dia berjalan pelanan menuju ke arah kamar mandi. Kiara pun berjalan di belakang dengan memegang cairan infusnya.
Saat kaki Alexa menginjak lantai kamar mandi dia seolah-olah ingin terpeleset sampai tangannya memegang pundak Kiara dan Kiara pun yang hampir jatuh dengan cepat dipegang oleh bibi Yaya.
"Ya ampun! Bagaimana sih? Lantainya licin sekali!"
"Tante Alexa tidak apa-apa, kan?"
"Aku baik-baik saja, Kiara. Coba kalau aku jatuh, kamu pasti juga ikut jatuh."
"Kiara, kamu tidak apa-apa, kan?" tanya Bibi Yaya terlihat cemas masih dengan memegang Kiara.
"Aku tidak apa-apa, Bi, Terima kasih sudah menjagaku, aku baik-baik saja."
Bibi Yaya yang sedikit kesal dengan Nyonya Besarnya itu segera membantu menggandeng tangan Alexa dan mendudukannya di kloset. Dia kemudian menggantungkan cairan 8nfus itu pada pengait yang ada di sana yang memang khusus disediakan untuk cairan infus.
Bibi Yaya kemudian membawa Kiara keluar dan menyuruhnya duduk. Wanita paruh baya itu langsung mengambilkan air minum untuk Kiara agar Kiara lebih tenang.
"Terima kasih sekali lagi, ya Bi, aku sebenarnya sangat kaget, aku takut kalau Tante Alexa sampai jatuh.