
Bibi Yaya yang akhirnya membantu Alexa dari kamar mandi karena Kiara masih sangat shock dengan kejadian tadi.
"Tante minta maaf karena tadi sudah membuat kamu kaget, Kiara. Lantainya memang licin dan tadi Tante reflek mau jatuh nanti pasti aku komplain pada pihak rumah sakitnya."
Sebenarnya itu hanya alasan dari Alexa saja. Kiara menunggu di sana di temani oleh Bibi Yaya. Kedua mata Bibi Yaya seolah terus mengawasi wanita yang tengah bicara dengan temannya di telepon.
Tidak lama, terdengar suara bunyi ketukan pintu. Alexa menyuruh orang itu masuk, dan ternyata itu adalah mamanya Elang yang datang ke sana sendirian.
"Alexa, kamu bagaimana bisa pingsan?" Kella dengan cepat memeluk calon besannya itu.
"Aku hanya kecapekan, Kella, tapi keadaanku sudah baik."
"Halo, Tante Kella," sapa Kiara yang mencoba bersikap sopan.
Kella tidak menjawab, dia malah memberikan lirik tajamnya pada Kiara. Bibi Yaya yang melihat sikap Kella itu mengusap lengan tangan Kiara beberapa kali guna menenangkannya.
Sekarang pandangan Kella menuju kembali pada sahabatnya. "Kamu tidak hanya kecapekan, pasti juga banyak pikirkan seperti yang kamu ceritakan waktu itu." Kella melirik pada Kiara yang duduk di sofa sembari mengupas buah.
"Iya. Aku berharap segera keluar dari rumah sakit ini karena aku benar-benar bosan di sini."
"Kamu sabar saja, tunggu saja sampai keadaan kamu benar-benar pulih. Alexa, kenapa wanita itu ada di sini? Apa Arthur yang menyuruhnya datang ke sini?" bisik Kella.
"Kella, aku dan putraku sudah berdamai. Aku dan Mega perlahan ingin melupakan rasa benci pada Kiara. Kiara akan tinggal di rumah utama milikku setelah Mega menikah dengan Elang."
"Apa? Kamu tidak salah?" Kella tampak sangat amat terkejut.
"Aku tidak salah, Kella. Aku ingin kedua anakku berkumpul beserta para menantuku. Usiaku perlahan tidak muda lagi dan aku ingin menikmati masa tuaku dengan anak-anakku di sampingku dan nanti bersama dengan cucuku. Aku tidak sabar Mega menikah dan memberikan cucu yang lucu untukku," ujar Alexa dengan penuh kebahagiaan.
Alexa sama sekali tidak menyinggung tentang bayi di dalam kandungan Kiara.
"Aku juga tidak sabar ingin bisa menggendong cucuku nantinya."
"Kalau begitu kamu percaya saja padaku. Sekarang semua jauh lebih baik. Elang dan Mega saling mencintai."
Beberapa menit kemudian, Elang dan Mega datang ke sana. Mega tampak senang melihat calon mama mertuanya, dan dia segera memeluknya.
"Calon menantu kesayanganku."
"Mama Kella kapan datang?"
"Baru saja. Itu baju mama kamu?" Kella melihat tas berukuran besar.
"Iya, baju dan kebutuhan Mama lainnya. Ma, nanti saja aku tata di lemari, aku capek sekali dan mengantuk karena semalam tidak dapat tidur di sini," ucapnya manja.
"Kasihan sekali kamu. Kamu mau menikah, tapi malah mendapat cobaan seperti ini." Kella mengusap lembut wajah calon menantunya.
"Kiara, sebelum pulang, aku bisa minta tolong menata bajuku di dalam lemari?"
Bibi Yaya seketika hatinya merasa kesal melihat sikap Alexa. Kenapa harus menyuruh Kiara, sedangkan dia di sana ada? Sepertinya Alexa ini sengaja.
"Nyonya, biar saya saja."
"Bi, Kiara itu menantuku, itu berarti dia sudah seperti anakku sendiri. Kamu keberatan, Kiara?"
"Tidak, Tante. Kalau begitu biar aku yang menatanya."
Kiara berjalan mendekat dan mengambil tas besar yang Elang letakkan di dekat lemari baju.
Kella dan Alexa saling melihat. Mega pergi ke kamar mandi dan Elang duduk di sofa sembari memperhatikan Kiara dengan berpura-pura bermain ponselnya.
Bibi Yaya membantu Kiara dengan wajah kesal. Kesal karena sikap Alexa pada Kiara. "Setelah ini kita pulang, Kiara. Kamu harus beristirahat," kata Bibi Yaya pelan. Kiara mengangguk.
"Tante, sudah selesai."
"Kiara, kamu sudah boleh pulang sekarang karena aku dan Mega juga sudah ada di sini," ucap Elang.
"Kenapa kamu menyuruh Kiara pulang terburu-buru? Tidak apa-apa dia di sini, Lang."
"Dia sedang hamil, Mega. Kasihan kalau terlalu lama di sini."
Mega berjalan menuju Kiara dan dia memeluk temannya itu. "Terima kasih sudah menjaga mamaku. Benar kata Elang, sebaiknya kamu pulang saja agar bisa beristirahat."
"Sama-sama, Mega. Aku senang bisa ikut menjaga Tante Alexa di sini. Kalau begitu aku permisi dulu."
Bibi Yaya juga meminta izin untuk pergi dengan Kiara. Bibi Yaya tampak lega dan senang akhirnya Kiara pergi dari rumah sakit yang dipenuhi dengan orang-orang yang jujur saja tidak membuatnya nyaman.
"Alexa, kamu serius mau memaafkan Kiara?" tanya Kella lirih.
"Menurut kamu?" Alexa melirik pada sahabatnya itu sembari menunjukan senyum yang pertanda suatu hal yang sedang dia rencanakan.
"Sayang, aku ke kantin dulu untuk membeli kopi, ya? Apa kamu mau titip sesuatu untuk aku belikan?"
"Tidak ada, Lang, kamu beli saja kopi dan langsung kembali ke sini."
Elang mengangguk dan dia segera turun. Elang sebenarnya ingin mengejar Kiara yang pastinya belum keluar dari rumah sakit itu.
"Kiara!" panggilnya.
Kiara dan Bibi Yaya langsung menoleh ke arah suara.
"Ada apa, Lang?"
"Ini untuk kamu, Kiara." Elang memberikan sesuatu pada Kiara.
"Apa ini, Lang?"
"Walkman. Kamu dulu suka sekali mendengarkan musik dan ini sebenarnya sudah lama aku belikan untukmu, tapi aku belum sempat memberikan di hari ulang tahunmu karena kita sudah putus."
Kiara menatap ke arah benda yang diberikan oleh Elang. "Kenapa sekarang kamu berikan padaku? Aku tidak mau Mega nanti salah paham."
Elang tersenyum. "Kamu jangan khawatir karena Mega sudah tau masalah ini. Aku berikan sekarang untukmu karena mungkin kamu butuh dan bisa kamu gunakan. ada music classic yang bisa kamu dengarkan pada bayi di dalam perutmu karena aku pernah membaca tentang artikel perihal ibu bayi yang mendengarkan music classic pada perutnya."
Kiara agak terkejut. "Kenapa kamu membaca artikel seperti itu?"
"Aku belajar dulu, siapa tau nanti waktu Mega hamil, aku jadi tau semuanya tentang apa saja yang wanita hamil sedang butuhkan."
Elang memberikan pada tangan Kiara dan dia pergi dari sana dengan wajah tersenyum. Kiara sekali lagi menatap pada benda itu dan kemudian melihat ke arah Bibi Yaya.
"Sudah, kamu terima saja, anggap itu pemberian seorang sahabat untuk sahabatnya, tapi nanti jangan lupa kamu ceritakan pada Arthur."
"Iya, Bi."
Kiara memasukkan benda pemberian Elang ke dalam tasnya. Mereka segera menuju ke tempat parkiran.
Bibi Yaya membuka pintu mobil yang ada di sana. Kiara agak sedikit terkejut karena setahu dia, nanti Arthur akan mengirimkan mobil beserta supirnya untuk menjemput dirinya dan Bibi Yaya, tapi kenapa ini malah ada mobil dan Bibi Yaya yang membukakan pintu?