Be Mine

Be Mine
Kita Saling Memahami



Kiara duduk di atas pangkuan suaminya. Arthur yang melihatnya tampak tersenyum menghilangkan wajah banyak pikiran yang sedang dia rasakan saat ini.


"Ada apa? Mau lagi? Mau di mana sekarang?" tanya Arthur ngasal.


"Kenapa kamu masih bisa memikirkan hal seperti itu? Aku mau memijit kepala kamu sebentar, Mas."


"Baiklah, tolong piji kepalaku agar aku merasa sedikit tenang."


Kiara mulai perlahan memijat kepala suaminya, Arthur tampak menikmati pijatan lembut dari istrinya dia bahkan sampai memejamkan kedua matanya.


"Apa kamu menyukai pijatan aku, Mas?"


"Sangat suka, Ara," jawab Arthur dengan masih menutup kedua matanya.


"Mama menyuruh kamu datang ke rumah pasti ingin bicara soal Belinda. Belinda pasti mengatakan jika kamu menolak dijodohkan dengannya. Sebenarnya apa yang mamamu lakukan tidak salah, setiap orang tua selalu ingin anaknya hidup bahagia dengan pasangan yang baik dari segi semuanya."


"Kamu juga baik dari segi semuanya. Jadi, kamu adalah menantu idaman juga."


"Tapi status sosialku sangat jauh dari keluargamu, Mas."


Arthur membuka kedua matanya melihat pada Kiara yang masih memijit kepalanya..


"Aku tidak peduli dengan status sosial seseorang, Kiara. Selama aku nyaman dan mencintainya, dia akan aku jadikan milikku. Seperti kamu." Arthur mengusap lembut pipi Kiara.


"Aku mau berjuang denganmu, Mas." Kiara memeluk Arthur.


Terdengar suara ponsel milik Arthur lagi dan kali ini Manda yang menghubungi Arthur.


"Mba Manda," ucap Kiara lirih.


"Kamu mau menjawabnya?"


Gelengan pelan dari kepala Kiara yang menandakan Kiara tidak mau menjawab panggilan Manda karena dia tau yang dicari Manda adalah suaminya.


"Dia mencarimu." Kiara yang akan beranjak dari tubuh Arthur seketika ditahan oleh tangan pria itu.


Arthur memberikan isyarat agar Kiara tidak pergi dari sana. "Halo, Manda, ada apa?"


"Om Arthur, Om Arthur kapan ke sini dan membawakan aku mainan?" suara kecil Dean terdengar di sana.


"Dean, kamu sudah bangun. Oh ya! Bagaimana keadaan kamu sekarang?"


"Aku baik, Om, hanya saja kepalaku masih pusing. Om Arthur kapan ke sini? Aku mau main sama Om Arthur."


"Dean, Om Arthur minta maaf karena tidak bisa datang ke sana pagi ini karena Om Arthur harus pergi ke rumah mama Om Arthur, tapi nanti saat pulang dari kantor, Om Arthur akan ke rumah sakit dan membawakan kamu mainan. Apa kamu mau menunggu Om?"


Di seberang telepon Dean tampak terdiam. Begitupun dengan Manda yang sedang mendengarkan putranya berbicara dengan Arthur dari ponsel yang diloudspeaker.


Manda memberi isyarat jika Dean harus mengiyakan apa yang Arthur katakan. "Baiklah kalau begitu, Om. Aku nanti akan menunggu Om datang ke sini. Tapi Om janji akan datang menemui Dean di rumah sakit ya?"


"Iya, Om akan datang ke sana, Dean. Sekarang kamu harus banyak makan dan beristirahat. Oh ya satu lagi, kamu juga tidak boleh takut kalau minum obat karena itu bisa mempercepat penyembuhanmu."


"Iya, Om, aku akan menuruti apa yang Om Arthur katakan."


"Oh ya, Mami kamu apa ada di dekatmu? Om Arthur mau bicara sebentar dengan mami kamu."


"Ada, Om." Bocah kecil itu memberikan ponselnya pada maminya.


Kiara yang ada di sana wajahnya langsung cemberut. Arthur malah memberikan cubitan kecil pada hidung Kiara.


"Halo, Pak Arthur."


"Tapi saya sudah sering banyak liburnya, Pak. Dean mau saya titipan pada pengasuhnya kalau keadaannya sudah lebih baik."


"Jangan Manda. Putramu sedang sakit dan tidak seharusnya kamu malah memikirkan tentang pekerjaan. Nanti urusan pekerjaan kamu biar Gio yang menanganinya."


"Tapi pekerjaan Pak Gio akan semakin banyak nantinya, Pak."


"Tidak apa-apa, dia memang butuh banyak pekerjaan agar tiap hari dia tidak bingung mau melakukan apa."


Ucapan Arthur malah membuat Manda tertawa. "Pak Arthur ini ternyata bisa melucu juga, saya kira Pak Arthur orangnya selalu serius."


Arthur yang dianggap Manda lucu malah mendapat cubitan kecil pada perut kotak-kotaknya.


"Aduh!"


"Pak, apa Anda baik-baik saja?"


"A-aku baik-baik saja, Manda, tadi aku digigit semut. Ya sudah kalau begitu aku mau bersiap-siap pergi ke kantor, kamu jangan meninggalkan putramu dengan pengasuhnya. Dia anak kamu dan saat ini dia sangat membutuhkan kamu."


"Terima kasih sekali lagi atas kebaikan Pak Arthur."


"Sama-sama Manda." Arthur mematikan panggilannya dan dengan cepat menarik tubuh Kiara yang hendak lari darinya.


"Lepaskan, Mas!"


"Kamu mau ke mana?"


"Semut ini mau membuat sarapan pagi untuk kamu." Kiara akhirnya bisa lepas dari cengkraman Arthur dan beringsut turun dari tempat tidur.


Arthur yang mendengar Kiara menyebut dirinya semut, seketika tertawa dengan kerasnya. Arthur juga sangat senang melihat wajah kesal istrinya yang baru bangun tidur, apa lagi Kiara berjalan masih dengan tubuh polosnya, membuat Arthur semakin gemas saja.


"Ara, kita mandi bersama saja." Arthur dengan cepat menyusul Kiara yang sudah masuk ke dalam kamar mandi.


"Tidak mau, nanti kamu kesakitan karena digigit semut." Kiara malah mengunci pintu kamar mandinya membuat Arthur menggaruk-garukkan kepalanya yang tidak gatal.


"Dia marah lagi. Wanita itu memang kadang susah untuk dimengerti, padahal kemarin malam dia bilang sangat mencintaiku, sekarang dia mengunci pintu kamar mandi."


Beberapa menit kemudian, Kiara yang baru saja keluar dari kamar mandi melihat suaminya yang sedang duduk di atas tempat tidur dengan masih menutupi tubuhnya dengan selimut tampak mengerutkan alisnya.


"Mas, kamu tidak mau mandi dan bersiap-siap berangkat ke rumah mama?" Kiara mengeringkan rambutnya dengan handuk.


"Apa hari ini aku tidak masuk ke kantor saja, ya?"


"Kamu memangnya tidak ada rapat atau urusan kantor yang penting?"


"Tidak ada, aku akan pergi ke rumah mama kemudian aku akan mengajakmu untuk pergi ke rumah sakit me jenguk Dean. Bagaimana?"


Kiara tampak tersenyum karena sebenarnya dia tidak rela Arthur pergi sendiri ke rumah sakit, tapi Kiara gengsi juga kalau harus meminta diajak, nanti dia dikira cemburu dan tidak percaya dengan suaminya, tapi ternyata Arthur sangat memahami apa yang Kiara pikirkan.


"Aku mau, Mas. Nanti kita ke toko mainan dulu sebelum pergi ke rumah sakit karena sebenarnya aku juga ingin menjenguk Dean."


Arthur beranjak dari tempat tidurnya dengan masih keadaan polos. Dia mendekat ke arah istrinya dan dengan cepat menggendong tubuh Kiara ala karung beras.


"Mas, kamu mau apa? Kenapa malah membawaku ke kamar mandi?"


"Aku ingin mandi bersama kamu, Sayang."


"Tapi aku baru saja selesai mandi, Mas, dan aku mau menyiapkan makan pagi untuk kita berdua."


"Kita makan pagi di restoran dekat apartemen saja." Arthur dengan santainya menggendong dan membawa masuk Kiara kembali ke dalam kamar mandi.