
Mega menghubungi supirnya, tapi ternyata supirnya itu bilang jika hari ini tuan muda Arthur yang akan menjemput mereka dengan mobil karena keadaan di jalanan yang tadi macet dan banjir sudah mulai membaik.
"Kita tunggu Arthur sebentar lagi. Dia mungkin masih di jalan."
"Kakak kamu itu katanya tadi ada rapat di kantornya dan dia kelihatan sibuk sekali, kenapa masih menyempatkan untuk menjemput kita, sebaiknya kamu bilang saja jika kita bisa naik mobil online saja."
"Kakakku memang bisa dibilang orang yang gila kerja, dan mungkin dia ingin menjemput kita karena dia masih khawatir tentang kejadian tadi."
Dalam hatinya Kiara, dia tau kenapa Arthur melakukan hal ini. Itu karena dia tidak mau Elang mendekat lagi seperti tadi.
"Kiara, kamu mau tidak menginap lagi di rumahku? Ini sudah dua hari dan waktunya kamu kembali ke rumah, tapi aku berharap kamu masih mau menginap di rumahku. Enak kalau ada kamu di rumah karena aku bisa belajar dengan guru sebaik dan telaten seprti kamu."
"Aku bukannya tidak mau, tapi aku juga tidak enak meninggalkan rumah terlalu lama. Aku kemarin coba mengirim pesan pada mba Tami dan dia mengatakan sekitar tiga hari lagi pulang. Kalau rumah ditempati mba Tami mungkin aku akan mau menginap lebih lama di rumahmu."
"Ayolah, Kiara. Aku mau kamu menginap lagi di rumahku," rengek Mega.
Kiara terdiam sejenak dan kemudian sebuah anggukan menjadi jawaban atas apa yang ditanyakan oleh Mega. "Serius?" Mega dengan senangnya langsung memeluk sahabatnya itu.
"Siang, Mega," sapa seseorang dari arah belakang kedua gadis yang sedang berpelukan itu.
Kedua mata gadis itu mendelik melihat siapa yang ada di depan mereka. "Tante Kella?" ucap mereka berjamaah.
"Mega, aku tadi mendengar jika ada keributan antara kakak kamu dan putraku. Apa itu benar?"
"Em ... itu tadi hanya salah paham, Tante."
"Salah paham karena apa?" Kedua mata Kella tajam melihat pada Kiara sekarang. "Mega, tadi aku diberitahu jika Arthur membuat Elang sampai tersungkur ke tanah hanya karena dia memeluk Kiara. Dan kamu Kiara, aku ingin kamu menjauh dari Elang karena kamu bisa membawa hal yang buruk untuk putraku seperti kejadian hari ini."
"Tante, Kiara sudah menyuruh Elang jangan mendekatinya, tapi Elang tidak mau mendengarkan Kiara," jelas Mega ingin membela sahabatnya.
"Mega, kalau saja teman kamu ini tidak menggoda Elang terus, Elang juga tidak akan mendekatinya. Kamu jangan tertipu dengan wajah polos dan sok lugunya itu. Dia diam-diam ingin merayu Elang lagi."
"Saya tidak serendah itu, Tante. Dulu saat masih pacaran dengan Elang pun, saya tidak pernah memanfaatkan uang Elang sedikitpun."
Wanita paruh baya itupun tersenyum seolah menghina. "Kamu gadis yang pintar, sekarang saja kamu seolah-olah tidak membutuhkan uang Elang karena kamu mengincar hal yang lebih besar dari Elang. Kamu dan Ayahmu sama saja, suka mencuri uang orang lain hanya demi hidup mewah."
"Cukup, Tante! Jangan membawa-bawa mendiang ayahku, ayahku orang yang baik dan aku tau itu. Ayahku bukan seorang pencuri uang perusahaan, dia hanya dituduh dan itu semua sudah terbukti kalau ayahku tidak bersalah."
"Tante, Kiara ini gadis yang baik dan aku sangat mengenalnya."
"Mega, sekali lagi Tante ingatkan kamu. Hati-hati berteman dengan seseorang, apa lagi tidak sederajat denganmu karena kamu hanya akan dimanfaatkan saja."
"Aku tidak pernah memanfaatkan siapa pun karena aku tidak gila akan kekayaan. Mega, sebaiknya kita pulang naik mobil online saja."
Tangan Kiara menarik tangan Mega untuk diajak pergi, tapi saat berbalik Kiara melihat di depannya ada pria yang adalah suaminya.
Sorot mata pria itu sedetik berpindah melihat pada wanita paruh baya yang dari tadi menghina istrinya.
"Halo, Tante. Apa Tante ada masalah dengan Kiara?"
"Arthur, Tante tadi baru saja diberitahu oleh pihak sekolah bahwa Kam sempat ada masalah dengan Elang dan itu karena gadis ini." Sorot mata wanita bernama Kella itu sekali lagi menatap tajam pada Kiara.
"Yang ada masalah dengan Elang itu aku, dan Tante tidak perlu menyalahkan Kiara." Arthur berjalan di depan Kiara, dia seolah menjadi benteng untuk istrinya itu.
Kiara melihat punggung lelaki yang ada di depannya. "Tante tau kalau kamu tidak salah dalam hal ini, tapi gadis itu yang sudah memancing masalah ini. Jika dia tidak menggoda Elang, maka kalian tidak akan ada masalah."
"Maaf ya, Tante.Waktu itu aku melihat jika Kiara sama sekali tidak menggoda Elang, tapi justru Elang yang sudah berbuat hal yang tidak semestinya dia lakukan pada Kiara."
"Arthur, aku tau siapa putraku, dan dia tidak akan berbuat hal tidak sopan jika dia tidak dipancing."
"Kiara juga gadis yang sopan dan baik. Dia tidak akan suka menggoda pria manapun."
Kella melihat jika putra sambung dari sahabatnya ini malah membela gadis yang sangat dia tidak sukai. "Arthur, kamu menyukai Kiara? Kenapa aku melihat kamu sangat membelanya?"
"Ada masalah jika aku menyukai gadis itu?"
"Arthur, kamu harusnya berpikir seribu kali jika menyukai gadis seperti Kiara karena dia hanya mengincar harta kamu. Gadis yang pintar. Putus dengan anakku, sekarang kamu mendapat mangsa yang lebih besar lagi," ucapnya dengan menekankan kata-katanya.
"Jaga mulut, Tante," Arthur pun menekankan kata-katanya.
Kiara langsung memegang lengan tangan Arthur. Dia tidak mau kalau sampai Arthur malah ribut dengan mamanya Elang.
"Arthur, kita pergi saja sekarang. Tante, saya minta maaf jika sudah berbuat salah pada Tante. Permisi." Kiara menggandeng tangan Arthur dan mengajak pria yang sudah diliputi kemarahan itu pergi dari sana.
Mega yang berdiri di sana tampak bingung sekarang. "Peringatkan kakak kamu agar jangan sampai masuk ke dalam perangkap yang dibuat oleh sahabat kamu itu."
"Tante salah dalam menilai Kiara."
Mega berlari pergi dari sana mengejar Kiara dan kakaknya. "Kenapa kamu harus minta maaf pada wanita itu?"
"Arthur, aku tidak mau memiliki masalah yang lebih besar lagi dengannya dan aku harap kamu juga tidak perlu ikut campur dalam masalah ini."
Arthur dengan agak kasar menarik lengan tangan Kiara dan mendekatkan tubuh Kiara padanya. "Kalau kamu bukan istriku, aku juga tidak akan mau terlibat dalam masalah seperti ini, Kiara. Dan satu hal lagi, kamu jangan selalu diam jika ada orang yang menghinamu," ucap Arthur tegas kemudian dia melepaskan pegangannya dan berjalan pergi masuk ke dalam mobilnya.
Kiara tampak terdiam di sana. Mega yang baru saja datang ke sana tampak memeluk Kiara yang sedang terdiam.
"Kiara, kita pulang saja sekarang dan kamu jangan memikirkan tentang masalah ini. Anggap saja semuanya sudah selesai."