
"Bisa tidak, kita tidak membicarakan soal perceraian dulu. Aku lapar, dan haus." Arthur menatap Kiara dengan tatapan yang membuat hati Kiara merasa dia orang jahat pada Arthur.
"Tunggu sebentar." Kiara masuk ke dalam dapur dan kembali dengan membawa segelas air serta piring dan sendok. Ini minumnya."
Kiara duduk di depan Arthur dan pria itu minum air yang diberikan oleh istrinya.
"Kenapa cuma membawa piring satu saja? Apa mau makan dengan disuapi suami kamu?"
"Aku tadi sudah bilang kalau aku tidak lapar. Kamu makan saja sendiri dan setelah itu kamu bisa pergi dari sini."
Arthur yang tadinya mau membuka nasi gorengnya, dia kembali meletakkan dan duduk bersidekap di depan Kiara.
Kiara yang melihat tampak heran. "Kamu kenapa tidak jadi makan?"
"Aku sudah bilang, jika aku mau makan denganmu. Jadi, kalau kamu tidak makan, aku juga tidak mau makan. Kita pandangan-pandangan terus saja di sini sampai pagi." Arthur seolah menantang Kiara.
"Arthur, jangan membuat masalah. Aku harus segera tidur karena besok aku ada ujian dan itu hari pertamamu mengikuti ujian."
"Temani aku makan."
Kiara sebal sekali dengan pria di depannya ini. Dia tidak mau berlama-lama melihat Arthur dia sana. Kiara beranjak dari tempatnya, masuk ke dapur untuk mengambil pieing dan sendok untuknya.
Dia akhirnya mau makan menemani suaminya. Arthur tampak senang makan malamnya ditemani oleh istrinya walaupun muka Kiara ditekuk kesal.
"Kamu itu tamu yang tidak diharapkan. Menyebalkan sekali mendapatkan tamu sepertimu," ucap Kiara dan hanya malah mendapat senyuman kecil dari Arthur.
Setelah makan malam selesai. Kiara membereskan semuanya dan menyuruh Arthur segera pulang karena ini sudah malam.
"Kalau begitu kamu siapkan baju-bajumu dan alat sekolahmu karena aku selain ke sini ingin mengajak kamu makan malam, aku juga ingin mengajakmu tinggal di apartemenku selama mba Tami pergi."
"Apa?" Kedua mata Kiara membulat mendengar apa yang Arthur katakan.
"Apa mau aku bantu membereskannya?"
"Arthur! Aku sudah katakan kalau kau tidak akan pergi dari sini karena ini rumahku dan sebaiknya kamu segera pulang karena kalau tetanggaku tau akan jadi masalah nantinya."
Arthur malah menutup pintu rumah Kiara dan sekali lagi membuat kedua mata Kiara membulat karena melihat Arthur mengunci pintu itu.
"Arthur, apa yang kamu--."
Kiara tidak melanjutkan ucapannya karena melihat Arthur malah masuk ke dalam kamar Kiara.
"Jadi, aku akan menginap di sini saja kalau kamu tidak mau pergi denganku." Arthur mengamati kamar Kiara yang jauh sekali ukurannya dengan kamar di apartemennya. Arthur merasa kasihan dengan kehidupan sederhana yang selama ini Kiara jalani.
"Arthur, kamu ini kenapa sih?" Kiara yang kesal, tapi mencoba meredam suaranya agar tidak terdengar keras.
"Aku mau menginap di sini menemani kamu. Kalau perlu tinggal di sini sama kamu juga aku tidak keberatan," ucapnya santai.
"Apa? Arthur, aku minta jangan membuat keributan di tempat tinggalku. Apa kata mereka jika melihat aku memasukkan seorang pria di rumahku?"
"Aku bukan orang asing, tapi aku suamimu dan kamu tidak perlu takut karena posisi kita benar, dan aku pastikan kamu tidak akan mendapat masalah."
"Tidak semudah itu, Arthur! Mereka tidak tau tentang pernikahan kita ini. Arthur, tolong segera pergi dari rumahku."
"Arthur, kamu pergi dari sini, atau aku akan berteriak agar kamu diusir dari sini?" Kiara mencoba menakuti Arthur. Dia salah lawan kalau melawan Arthur. Amnesia kayaknya ini Kiara, lupa siapa Arthur.
"Berteriak? Silakan, dan aku mau lihat apa yang setelah itu terjadi? Aku suamimu dan posisiku lebih kuat terhadapmu."
Kiara sekali lagi harus menelan pil kekalahan karena dia tau jika selamanya dia tidak akan bisa melawan Arthur yang memiliki kekuasaan yang sangat besar.
"Kamu mau ke mana?"
"Kamu tidur saja di sini dan aku mau tidur di kamar Ibuku." Kiara mengambil bantal dan selimutnya.
"Kita bisa tidur satu ranjang dan kamu jangan khawatir karena aku tidak akan berbuat apa-apa padamu, meskipun aku berhak melakukan hal itu, tapi aku tetap menghormatimu, Kiara."
Kiara tidak menjawab dia tetap berjalan pergi dari kamarnya dan meninggalkan Arthur sendirian di sana.
Arthur tidak masalah karena dia yang terpenting tidak membiarkan Kiara berada di rumahnya sendirian.
Pria itu mengamati barang-barang milik Kiara yang hanya terdiri dari beberapa saja. "Dia masih menyimpan foto Elang dan dirinya." Arthur melihat bingkai foto kecil di mana ada foto Kiara dengan Elang yang tampak tersenyum bersama.
Arthur mengambil foto itu dan membuangnya keluar jendela kamar Kiara. Dia kemudian melihat lagi sebuah boneka kecil berwarna toska dan ada rajutan nama Elang pada bagian dadanya.
"Pasti dari bocah laki-laki itu." Arthur mengambilnya dan dengan seenaknya membuangnya di luar jendela. "Dia masa lalu Kiara dan aku tidak suka kenangannya membuat Kiara sedih.
Itu bukan niat agar Kiara tidak sedih, tapi lebih ke perasaan cemburu.
Kiara tampak mondar mandir di dalam kamar ibunya. Dia benar-benar sebal pada Arthur yang sekarang sedang tidur di dalam kamarnya.
"Bagaimana kalau tetanggaku mengetahui keberadaan Arthur di sini? Aduh! Bisa-bisa kampungku gempar ini, dan yang paling aku takuti, jika nama baik keluargaku menjadi sangat buruk di sini, padahal aku dan Arthur memang adalah suami istri."
Kiara berjalan keluar dari kamar ibunya dan mengendap-endap menuju ruang tamu. Kiara mematikan lampu di rumahnya dan dia mencoba melihat ke arah luar jendela.
"Mobil Arthur kenapa tidak ada di luar? Apa dia ke sini tidak membawa mobil?" Kiara tampak bingung.
Dia pergi ke kamarnya untuk sekali lagi meyakinkan Arthur agar pergi dari rumahnya.
Kiara mengetuk pintu kamarnya, tapi sama sekali tidak ada respon dari dalam kamarnya.
"Apa dia sudah tidur? Tapi cepat sekali."
Kiara membuka perlahan pintu kamarnya dan dia melihat Arthur tengah tertidur dengan wajah lelapnya.
"Menyebalkan! Kenapa dia malah tidur dengan tidak memakai atasan? Dia pasti kepanasan di sini. Sudah aku bilang lebih baik pulang, tapi dia malah memaksa di sini."
Kiara yang tidak pantang menyerah agar Arthur tidak menginap di rumahnya, dia mencoba membangunkan Arthur dan mengatakan ebih baik pulang dan tidur dengan nyaman di rumahnya, dari pada di sini panas.
Kiara melihati tubuh putih mulus dan berotot itu dengan perlahan. Tubuh indah yang pernah menyentuhnya itu tampak membuat desiran aneh pada diri Kiara. Arthur 'kan memang pria penuh pesona.
"Sok pamer tubuh," gerutunya pelan. Kiara menunduk dan menepuk pundak Arthur agar pria itu bangun. Tapi--.
Blup!