Be Mine

Be Mine
Aku Cemburu



Kiara menarik Arthur menjauh dari Elang. Sedangkan Mega mencoba menjelaskan pada Elang tentang kenapa Arthur sampai bisa mengantar Kiara ke sekolah.


"Arthur, aku mohon jangan membuat masalah di sini. Aku juga tidak mau kalau sampai mereka tau tentang pernikahan kita."


"Aku tidak suka dia memelukmu seperti itu. Kamu istriku dan aku tidak suka dia berbuat seperti itu." Arthur menatap Kiara tajam.


"Apa kamu cemburu?"


"Iya, dan aku berhak cemburu." Kiara terdiam di tempatnya saat pria itu berjalan melewatinya.


"Dia tidak mungkin mencintaiku. Dia hanya tidak mau dikalahkan oleh orang lain. Arthur itu egois dan tidak mau terlihat lebih kecil dari orang lain." Kiara malah berasumsi sendiri.


Ujian dimulai seperti biasa, sampai tiba waktu istirahat ujian mata pelajaran pertama. Kiara duduk malas di kantin dan Mega juga duduk di kantin tepatnya di depan Kiara.


Mega tak hentinya melihat pada Kiara, dia masih tanda tanya tentang kakaknya dan Kiara. Arthur kenapa tadi semarah itu saat melihat Kiara di dekati oleh Elang.


"Ara, kamu mau jujur tidak denganku?"


Kiara yang tadinya terlihat malas seketika mengangkat kepalanya melihat serius pada Mega. "Kamu pasti mau tanya sebenarnya aku dan Arthur apa memiliki hubungan?"


"Iya. Kok kamu tau?"


"Hal itu sudah bisa ditebak. Kakak kamu begitu karena dia tidak suka melihat ada seorang pria yang tidak sopan pada seorang wanita. Mungkin jika ada pria yang bersikap memaksa seperti Elang tadi, Arthur juga akan melakukan hal yang sama."


Dalam hati Kiara, dia malas sebenarnya mengatakan tentang hal itu karena bagi Kiara, Arthur tidak seperti itu. Dia sama sekali tidak ingat jika Kiara seorang gadis dan dia malah terbawa oleh napsunya.


"Iya juga sih. Eh, tapi aku melihat Arthur tadi seperti dia sedang cemburu, seolah kekasihnya itu sedang digoda oleh pria lain."


"Dia tidak tempramen, hanya saja jika dia diusik oleh seseorang, maka sifatnya yang seperti singa itu keluar."


"Aku juga menyayangkan sikap Elang tadi. Ucapannya juga sangat kasar dan menyakitkan bagiku."


"Dia masih cemburu sama Arthur dan hal itu wajar. Aku juga sudah menjelaskan pada Elang kenapa kamu bisa bersama dengan Arthur, tapi Elang seperti masih saja mengira kamu dan Arthur ada hubungan."


"Bagus kalau begitu." Kiara beranjak dari kursi kantin.


"Bagus apanya, Kiara? Yang ada Elang akan menyangka kamu yang sebenarnya tidak setia dan mencoba menutupinya dengan menyalahkan hubungan ini berakhir karena mamanya yang tidak suka sama kamu."


"Terserah dia mau menganggapnya bagaimana, yang jelas aku dan Elang tidak akan memiliki hubungan lagi."


Mega melihat dengan mengerutkan kedua alisnya. "Kamu kenapa bicaranya seperti itu?".


"Tidak apa-apa. Elang lebih baik mendapatkan seseorang yang sangat mencintainya dan dia cintai. Pastinya keluarganya juga bisa menerima gadis itu nantinya. Hanya doa itu yang bisa aku katakan berkali-kali."


"Kalaupun kalian memang benaran tidak akan balikan, setidaknya kalian bisa menjadi teman baik, Walaupun agak sakit nanti rasanya karena bagaimanapun kita dulu adalah teman baik."


"Mamanya tidak akan memperbolehkan hal itu, Mega. Sudah! Aku tidak mau membahas ini dulu. Aku ke kelas dulu mau belajar sebentar."


Mega mengangguk, dia melihat Kiara berjalan menuju anak tangga yang merupakan jalan satu-satunya ke kelas.


Bel pulang sekarang berbunyi. Mega mengajak Kiara menunggu jemputan mereka di lantai bawah.