
Kiara tampak bingung dengan apa yang Delia lakukan, dia memberi lipstik pada bibir Kiara, dan tidak hanya itu. Lipstik yang dia oleskan pada bibir Kiara sangat menor sekali.
"Wow! Kamu kelihatan cantik sekali seperti ini." Delia tertawa dengan senangnya.
Momo yang melihat wajah Kiara sekarang bibirnya mangap sangat besar. Dia benar-benar tercengang melihat penampilan Kiara saat ini.
"Kenapa Kak Delia memakaikan lipstik sangat tebal seperti ini?"
"Katanya mau tanda tanganku. Kalau mau aku tanda tangan di bukumu itu kamu harus melakukan apa yang aku suruh."
"Memangnya apa yang mau Kak Delia suruh? Dan kenapa harus memakai lipstik seperti ini?"
"Kamu harus mencium seseorang dan dia harus laki-laki. Terserah kamu mau mencium pipi, dahi, atau bahkan bibir karena itu lebih baik." Sekali lagi Delia tertawa dengan senangnya.
"Apa?" Kiara tampak kaget.
"Wah! Gak bener ini. Kamu jangan mentang-mentang sebagai kakak senior di sini bisa melakukan hal seenaknya sama kami adik kelas! Apa yang kamu suruh itu sudah keterlaluan!" Momo tampak marah.
"Aku tidak memaksanya. Kalau mau tanda tanganku, dia bisa melakukan apa yang aku suruh, tapi kalau tidak, juga tidak masalah, cari saja kakak angkatan lainnya kalau kalian bisa menemukannya." Delia tersenyum miring sembari bersidekap.
"Kita memang membutuhkan tanda tanganku, tapi tidak seperti itu caranya! Lagi pula Kiara sudah punya kekasih, bagaimana perasaan kekasihnya kalau tau akan hal itu?"
"Bukan urusanku! Kamu kalau mau juga harus melakukan hal yang sama."
"Tidak mau! Lebih baik aku dihukum dari pada minta tanda tanganmu. Memang kamu artis!"
"Kamu berani sekali sama senior di sini!"
Momo yang mau maju untuk melawan Delia, tangannya seketika ditahan oleh Kiara.
"Momo! Jangan buat keributan! Kita pergi saja!"
"Iya, lebih baik kita dihukum membersihkan kamar mandi itu, dari pada menuruti orang gila ini!"
Kiara menarik tangan Momo untuk mengajaknya pergi agar Momo tidak bertengkar sama kakak angkatan itu.
Saat mereka hendak melangkah pergi dari sana, tiba-tiba langkah mereka terhenti karena ada seseorang yang menghalangi langkah mereka berdua.
"Kiano! Ya ampun! Kamu ke mana saja?" Momo segera mendekat pada Kiano.
"Panggil aku dengan sopan," ucap Kiano lirih, tapi bernada tegas.
"Iya, maaf. Kak Kiano, kamu ke mana saja dari tadi?"
"Aku sedang ada urusan ke kampus lain untuk acara bazzar amal di sini nantinya."
Kiano sekarang melihat pada Kiara yang berdiri di depannya. "Kiara, lipstik kamu tebal sekali."
"Oh ini ... ini tadi--." Kiara tampak bingung mencari sesuatu untuk menghapus lipstiknya, dia sampai lupa membersihkan lipstiknya karena perdebatan Delia dan Momo tadi.
"Itu gara-gara teman kamu si judes itu." Momo melihat pada Delia yang masih berdiri di sana dengan wajah seramnya.
Kiano memberikan saputangan miliknya pada Kiara. "Hapus pakai ini saja. Aku belum menggunakannya sama sekali."
Kiara melihat ragu pada saputangan pemberian Kiano, tapi akhirnya dia mau mengambilnya dan menghapus bekas lipstik yang dipakaikan oleh Delia tadi.
Kiano berjalan mendekati Delia dan mereka berdua tampak berbicara sesuatu.
"Sukurin! Biar dia dimarahi sama Kiano. Kiara, lipstiknya masih terlihat walaupun tidak semenor tadi."
"Iya, dan saputangan Kiano juga jadi kotor."
"Kamu bawa saja dulu dan cuci di rumah dan besok kamu berikan pada Kiano. Itu saputangan pemberian ibunya, aku masih ingat saputangan ini."
"Haduh! Bagaimana ini?" ucapnya lirih.
"Ada apa, Kiara?"
"Tidak apa-apa." Kiara meringis lucu.
Tidak lama Kiano berjalan menghampiri Kiara dan Momo. Dia mengatakan agar Kiara dan Momo memberikan bukunya agar ditanda tangani oleh Delia dan dirinya.
Momo tampak sangat senang sekali dan akhirnya dia sudah mendapatkan tanda tangan lengkap, tinggal Kiara yang masih kurang satu.
Mereka kembali ke kelas karena jam untuk mengumpulkan tugas sudah selesai.
"Seperti peraturan yang sudah tadi aku katakan. Bagi yang belum mendapat sepuluh tanda tangan akan dihukum, dan Kiara, kamu harus menjalani hukumannya."
"Itu semua gara-gara kamu! Kamu memperlambat Kiara buat mendapatkan tanda tangan."
"Kamu jangan berani-berani melawan kakak angkatan di sini! Walaupun kamu sepupunya Kiano, kamu tidak bisa sok jagoan di sini!'
"Aku bukan sok jagoan, tapi tindakan kamu keterlaluan!" bentak Momo marah.
"Momo, cukup! Jaga sikap kamu!" Kiano yang memegangi tangan Momo yang hampir mencakar wajah Delia juga tampak marah.
"Kasihan Kiara kalau harus melakukan hal itu. Teman kamu itu benar-benar keterlaluan!"
"Kamu harus menjaga sikap kamu di sini, Momo, kamu mahasiswa baru. Ikuti aturan di sini."
Kiara yang melihat hal itu menjadi merasa bersalah. Dia merasa dirinyalah yang menyebabkan pertengkaran Delia dan Momo.
"Aku akan melakukan hukumanku, Kak. Momo, aku tidak apa-apa karena memang aku harus mengikuti aturan yang sudah disebutkan tadi."
"Bagus. Sekarang aku akan antarkan kamu ke gudang belakang." Delia berjalan lebih dulu dan diikuti oleh Kiara. Kiano hanya bisa terdiam di tempatnya karena memang itt
Di kamar mandi yang berada di gudang belakang tampak sangat kotor dan menyeramkan karena memang tempat itu sudah lama tidak digunakan.
"Kak, tempat ini menyeramkan sekali." Kiara tampak takut berada di sana.
"Makannya, kalau diberi tugas harus kamu kerjakan dengan baik, jangan manja! Sekarang kamu bersihkan ini semua. Di sini sudah ada kain pel dan airnya di sini masih ada yang bisa keluar tinggal kamu cari salah satu kran airnya."
Delia berjalan pergi dari sana. Kiara tampak mengamati setiap sudut ruangan di sana. "Seram sekali, tapi aku harus menjalani hukumanku." Kiara mengelus-elus perutnya. "Sayang, kamu harus kuat ya, Ibu sangat sayang sama kamu."
Kiara mulai membersihkan bagian yang sekiranya bisa dia bersihkan lebih dulu. Di kelas, mereka sedang mendengarkan apa yang harus di bawa untuk besok.
"Aku mau ke kamar mandi dulu, tolong lanjutkan dulu."
Kiano berjalan keluar dan dia saat dia akan menuju lorong kamar mandi. Kiano merasa ada yang mengganggunya. Langkah kakinya seketika berubah arah dan menuju ke tempat di mana Kiara dihukum.
"Argh!" teriak Kiara yang terdengar sangat keras membuat Kiano yang mendengarnya langsung berlari menuju ke arah suara teriakan itu.
Blup!
Kiano terkejut saat Kiara yang menabrak dan langsung memeluknya dengan erat.
"Kiara, ada apa?"
"Aku takut, ada hantu di sana!" Kiara bicara dengan tangan masih memeluk Kiano.
"Hantu? Hantu apa? Tidak ada hantu di sini, Kiara."
"Ada ... ada, Kiano."
Kiano menarik tubuh Kiara agar dia dapat melihat wajah Kiara dan menenangkannya.