
Kiara hanya memandangi kartu ATM itu. Dia sama sekali tidak tertarik dengan uang yang ada di dalam kartu itu.
"Kamu tidak perlu memberikan aku kartu itu karena aku juga tidak butuh uang dari kamu."
"Ini uang kamu, Kiara."
"Oh ... uang agar aku tetap tutup mulut walaupun kamu sudah menikahiku?"
"Tentu saja bukan. Ini uang nafkah dari suami untuk istrinya. Jadi, kamu berhak menerima uang ini dan memang ini sudah menjadi uangmu"
Kiara merasa ada yang salah dalam hatinya saat mendengar apa yang Arthur katakan. "A-aku tidak meminta kamu memberikan uang nafkah itu, Arthur. Lagi pula pernikahan ini juga aku tidak mengharapkan berjalan dengan lama." Kiara beranjak dari tempatnya dan mengambil tasnya.
"Kiara, apa tidak bisa kita tidak perlu membahas tentang perceraian? Aku sudah katakan jika aku tidak akan menceraikan kamu meskipun kita tidak ada perasaan satu sama lain."
"Kalau tidak ada perasaan, bagaimana kita bisa menjalani pernikahan ini dengan baik, Arthur? Apa lagi rasa sakit yang kamu berikan padaku sangat-sangat menyakitkan dan masih terus membekas di sini." Telunjuk Kiara menunjuk pada dadanya dengan wajah menahan tangis.
Arthur terdiam sejenak. Kemudian kedua kakinya melangkah mendekat pada Kiara." Kiara." Tangan Arthur menelusup perlahan dan lembut pada pipi gadis itu. Kedua mata Kiara sekarang menatap nanar pada pria di depannya. "Cobalah memaafkan kesalahanku. Aku pun berusaha ingin kamu bisa melupakan kejadian itu. Jujur, bukan kamu saja yang merasa sakit, tapi aku juga. Aku bahkan sampai sekarang merasa sangat-sangat bersalah sama kamu."
Kiara menggeleng beberapa kali seolah dia tidak bisa melakukan hal itu. "Tidak akan semudah itu, Arthur."
"Aku tau, tapi kita akan mencobanya, apa lagi kita sudah menikah Kiara, dan aku sudah memutuskan ingin membina keluarga yang harmonis dan normal layaknya sebuah keluarga pada umumnya. Dan itu sama kamu." Arthur mencoba menaikkan wajah Kiara yang menusuk tidak ingin melihat Arthur.
Kiara berjalan menuju pintu ruangan Arthur. "Aku tunggu saja kamu di tempat parkir." Kiara keluar dari dalam ruangan Arthur dengan menangis.
Sekretaris Arthur yang melihatnya seketika bingung. Namun, dia tidak berani bertanya apapun pada bosnya itu karena dia tau sifat Arthur yang tidak suka urusan pribadinya dicampuri oleh orang lain.
"Damn! Oh God." Arthur bertolak pinggang dengan wajah yang benar-benar marah dan kesal pada dirinya sendiri.
Arthur turun untuk mengantar Kiara pulang. Di sepanjang perjalanan Kiara terus melihat ke arah luar jendela dan mereka tidak bicara satu kata pun.
Sesampai di depan rumahnya Kiara yang karena ingin segera keluar dari mobil Arthur malah tidak bisa melepaskan sabuk pengamannya.
"Bagaimana sih ini?" omelnya kesal.
Arthur seketika mendekat dan membantu Kiara melepaskan sabuk pengamanya. "Yang bersalah bukan sabuk pengamannya, melainkan perasaanmu.
"Terima kasih, aku mau masuk ke rumahku dan sebaiknya kamu segera pergi sebelum kita menjadi pembicaraan para tetanggaku."
"Besok dan seterusnya selama motor kamu belum selesai diperbaiki, aku yang akan mengantar jemput kamu dan kamu tidak bisa menolaknya, Kiara."
Mulut Kiara sudah mangap saja, tapi terhenti karena dia mendengarkan ucapan Arthur.