
Mega meminta maaf karena memang tadi tidak mendengar saat Kiara ingin meminta tolong. Dia malah asik menikmati kue dan jusnya.
"Tapi, Arthur, bagaimana kamu tau jika Kiara saat itu tenggelam?" tanya Mega penasaran.
"Aku tadi tidak sengaja menoleh ke arah kolam dan melihat tangan Kiara mencoba meraih ke atas. Saat itu juga aku tau jika Kiara ada dalam masalah."
"Sebaiknya sekarang Kiara kamu bawa saja ke kamar agar dia dapat berganti baju karena wajah Kiara sudah tampak pucat. Dia pasti kedinginan."
"Iya, Kak, benar apa kata Kak Gio. Sebaiknya bawa saja Kiara ke dalam kamarku karena bajunya ada di sana, dan aku akan membuatkan coklat hangat untuknya."
Arthur menggendong tubuh Kiara menuju kamar Mega. Mega yang berdiri di sana tampak melihat dengan perasaan tanda tanya melihat kedekatan antara kakaknya dan Kiara hari ini.
"Mega, kamu melamun apa? Ayo kita ke dalam! Katamu mau membuatkan coklat hangat karena aku juga mau."
"KaK Gio, apa tadi Kakak tidak merasa jika kakakku Arthur sikapnya beda sekali pada Kiara temanku?
"Beda bagaimana? Sikap Arthur biasa saja pada Kiara."
"Kakakku tidak seperti itu, dia terlalu cuek pada seorang wanita dan aku merasa sikap kakakku hari ini beda sekali. Apa kakakku sebenarnya memiliki perasaan pada Kiara? Tapi kok bisa?"
Gio yang tidak ingin Mega mengetahui tentang hubungan Arthur dan Kiara mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Itu hanya perasaanmu saja, hal yang dilakukan Arthur itu biasa saja. Sudah! Sebaiknya kita segera masuk karena aku haus dan ingin sekali minum yang dingin, nanti coklatnya kamu beri es saja tidak perlu hangat."
"Kak Gio ini! Aku sedang bahas Kak Arthur, tapi malah dia memikirkan es coklatnya." Bibir Mega manyun.
"Sebaiknya tidak perlu membicarakan kakakmu, kamu tahu sendiri 'kan, Arthur, tidak suka urusannya dicampur oleh siapapun. Dia 'kan memang seperti itu orangnya."
"Tapi kalau dia memang menyukai Kiara, aku juga tidak keberatan, malahan aku senang karena Kiara 'kan baik cantik dia juga pintar. Aku tidak keberatan jika memiliki kakak ipar seperti dia walaupun usianya sama denganku
Gio melihat ke arah Mega, dia sebaiknya menceritakan apa tidak, ya tentang pernikahan kakaknya dengan sahabatnya itu? Mega tampaknya senang jika memang Arthur dan Kiara adalah sepasang kekasih, tapi sekali lagi Gio sadar itu bukan porsinya sebaiknya dia diam saja dan membiarkan Arthur nanti yang akan bicara dengan Mega.
"Arthur, sudah turunkan saja aku di sini, aku bisa berjalan sendiri."
"Aku akan membawamu ke kamar Mega dan membantumu berganti baju yang lebih hangat. Wajah kamu sudah pucat."
"Apa? Membantu berganti baju, Arthur? Aku tidak mau! Aku bisa berganti baju sendiri, jangan mencari kesempatan dalam kesempitan."
"Untuk apa aku mencari kesempatan dengan istriku sendiri? Lagi pula ini tidak pertama kali aku melihat tubuh kamu Kiara."
"Iya, kamu memang pernah melihat tubuhku, bahkan merasakannya, tapi hal itu sama sekali bukan hal yang aku inginkan dan membahagiakan! Apa Kamu lupa akan hal itu?"
Arthur kembali terdiam sejenak saat Kiara mengingatkan kejadian buruk yang mereka alami.
"Sekarang kamu boleh pergi, Arthur. Aku mau berganti baju."
Arthur tidak pergi, tapi dia malah duduk bersimpuh di bawah kaki Kiara. Kiara yang melihat Itu tampak terkejut.
"Arthur, apa yang kamu lakukan? Kenapa kamu malah duduk di bawah kakiku?"
"Kiara, aku ingin bicara serius denganmu, Aku harap kamu mau mendengarkannya."
"Mau bicara apa lagi? Kita tidak perlu bicara banyak hal lagi, Arthur. Kamu segera urus saja perceraian kita, dengan begitu kamu bisa bahagia dengan wanita yang kamu sukai dan aku bisa hidup bebas menjalani kehidupanku sendiri."
"Kiara, lihatlah aku sebentar. Aku sangat serius menjalani pernikahan ini denganmu dan aku tidak akan merusak amanah yang sudah ibumu berikan padaku, aku ingin menjaga pernikahan ini dengan baik."
"Tapi aku tidak bisa Arthur. Kamu tidak tau rasanya menjadi aku saat ini."
Arthur terdiam sejenak. Kepalanya yang tadinya menunduk, sekarang terangkat ke atas menatap wajah sayu istrinya. "Kiara bagaimana jika kita membuat perjanjian?"
"Perjanjian? Perjanjian apa maksudmu Arthur?"
"Bagaimana jika selama tiga bulan ke depan kita menjalani pernikahan ini selayaknya pasangan suami istri yang normal. Kita tinggal bersama dan hidup bersama di satu atap."
"Aku tidak mau, Arthur! Untuk apa kita melakukan hal seperti itu? Atau kamu hanya ingin aku melakukan tugasku sebagai seorang istri melayanimu di atas ranjang? Aku tidak mau," ucap Kiara tegas.
"Bukan seperti itu maksudku, Kiara. Aku ingin kita hidup selayaknya suami istri dan aku tidak akan memaksamu melayaniku di atas ranjang. Aku akan menghormatimu mengenai hal itu, kita hanya hidup bersama, aku mohon jangan memikirkan tentang perceraian dulu, dan selama 3 bulan itu, jika kita berdua sama-sama tidak menemukan adanya kecocokan, kita akan bercerai. Aku akan menceraikanmu, tapi dengan syarat kamu tidak boleh menolak atas apa yang akan aku berikan padamu, seperti harta dan separuh dari kekayaan yang aku punya akan aku berikan untukmu."
"Aku masih tidak mengerti maksudmu?" Kiara mencoba mencerna apa yang Arthur katakan.
"Kita akan membuat perjanjian hidup bersama selayaknya suami istri selama tiga bulan, dan dalam tiga bulan itu kita sama sekali tidak menemukan adanya rasa saling ingin memiliki dan kenyamanan. Aku akan menceraikan kamu, tapi dengan syarat, kamu akan tetap menerima tunjangan hidup dariku. Masa depanmu akan tetap aku jamin sampai kamu memiliki seseorang yang bisa menjagamu karena ini adalah janjiku pada ibumu."
Kiara agak terkejut dengan apa yang Arthur katakan, dia tidak menyangka jika Arthur memiliki pemikiran seperti itu.
Tidak ada hal buruk yang merugikan Kiara dari apa yang diungkapkan oleh Arthur, tapi entah kenapa seperti masih ada sesuatu yang menahan Kiara untuk bisa benar-benar menerima pria di depannya itu.
"Kamu tidak perlu memikirkan tentang masa depanku, Arthur. Jika kita bercerai aku juga tidak akan meminta apapun padamu, termasuk pembagian harta atau apa itu. Aku tidak membutuhkannya."
"Aku tahu, Kiara, kamu bukan seorang gadis yang gila akan harta dan kekuasaan, tapi janji tetap janji, apa lagi aku mau ucapkan di depan ibumu sebelum beliau meninggal." Arthur menggenggam tangan Kiara dengan erat.
"Arthur."
"Bagaimana? Apa kamu setuju dengan apa yang aku katakan? Hanya tiga bulan, Kiara," ucap Arthur dengan nada penuh harap. Dia memang berharap Kiara mau menerima apa yang dia usulkan. Arthur ingin sekali membuat Kiara dapat melupakan trauma buruknya jika mereka tinggal bersama nantinya.