
Arthur tampak meneteskan aif mata mendengar apa yang baru saja Kiara katakan. "Ka-kamu tidak berbohong, kan, Kiara?"
"Mas, untuk apa aku berbohong? Aku awalnya juga tidak percaya karena belum melakukan tes kehamilan, tapi saat Tante Maura yang mengatakan, aku sangat bahagia mendengarnya.
"Benar ya, Tante Maura?"
"Iya, Arthur, selamat kamu akan menjadi seorang ayah." Wanita paruh baya itu tersenyum pada Arthur.
"Gio, aku jadi seorang ayah! Terima kasih, Tuhan!" Arthur kembali memeluk Kiara dengan erat bahkan dia menelusuri wajah Kiara dengan kecupannya.
"Mas! Di sini banyak orang. Malu."
"Aku bersyukur sudah dewasa. Jadi, aku boleh, kan melihat hal seperti ini?" celetuk Morgan.
"Aku minta maaf karena aku benar-benar bahagia dan tidak bisa mengendalikan diriku." Arthur masih memeluk istrinya.
"Tidak apa-apa Arthur. Tolong jaga istrimu dengan baik, jangan biarkan dia lelah serta banyak pikiran."
"Aku pasti akan menjaganya dengan sangat baik, Tante."
"Arthur, aku juga sudah menyiapkan vitamin untuk Kiara yang bisa dia minum agar bayi kalian tumbuh dengan baik. Satu bulan lagi kalian bisa memeriksakan secara rutin di rumah sakit agar bisa mengetahui kesehatan ibu dan bayinya. Aku yakin jika kamu akan menjadi suami yang siaga."
"Aku akan melaksanakan semua yang Tante Maura katakan. Sekali lagi terima kasih atas semua kebaikan Tante Maura pada istriku, dan aku mungkin tidak bisa menggantinya dengan apapun."
"Aku tidak membutuhkan apapun, Arthur. Meskipun aku baru bertemu Kiara, tapi entah kenapa aku merasa dia seperti putriku sendiri."
"Mommy, kan memang dari dulu ingin punya anak perempuan, tapi tidak jadi karena terburu berpisah dengan daddy."
"Makannya, kamu cepat masuk kuliah, lulus dan menikah. Nanti kamu bisa memberi mommy cucu."
"Ya Lord! Masih lama Mommy!"
Sebelum pulang, Arthur bertanya pada mommynya Morgan tentang semua yang berhubungan dengan ibu hamil. Dari hal apa yang boleh di makan dan tidak. Arthur tiba-tiba menjadi cerewet karena dia ingin sekali memastikan keadaan Kiara dan bayinya baik-baik saja.
Arthur, Kiara dan Gio izin untuk pulang. Gio diantar oleh Arthur langsung ke apartemennya, dan Arthur sangat berterima kasih pada sahabatnya itu yang selalu setia menemani Arthur saat mencari Kiara.
"Kak Gio, sampaikan salamku pada Kak Elena. Semoga dia dan bayi kalian sehat selalu."
"Terima kasih, Kiara. Kamu juga semoga dirimu dan bayimu sehat selalu sampai nanti si Arthur junior lahir." Arthur memeluk sahabatnya itu dan kemudian Kiara dan Arthur melanjutkan perjalanan.
"Sayang, apa kamu mau berbaring? Biar aku atur posisi tempat duduk kamu."
"Tidak perlu, Mas. Aku sudah merasa nyaman seperti ini."
"Apa benar kamu tidak merasa sakit kalau duduk seperti itu?"
"Mas, aku merasa nyaman."
"Em... Kalau begitu apa kamu ingin makan sesuatu? Kamu dan bayi kita pasti lapar."
Kiara malah langsung mengerutkan kedua aliasnya. "Mas, jangan menyebut tentang makanan, aku mau muntah jika mendengarnya."
"Mau muntah? Apa kita ke dokter saja sekarang?" Arthur seketika panik.
"Kiara, aku tidak mau kamu dan bayiku kenapa-napa."
"Aku baik, Sayang. Bukannya tadi Tante Maura sudah menjelaskan kalau wajar jika ibu hamil muntah-muntah di kehamilan awalnya."
"Okay! Huft!" Arthur mencoba mengatur napasnya dengan baik. Entah kenapa dia menjadi paranoid sendiri setelah mengetahui istrinya hamil?
Kiara sampai tertawa melihat sikap suaminya yang terlalu khawatir begitu. "Mas itu jangan yang malah membuat aku ikutan bingung. Sekarang sebaiknya kita pulang saja karena aku mau berbaring di atas dada kamu, Mas."
"Tapi kata Tante Maura, kalau di awal kehamilan ini kita sebaiknya menghindari dulu melakukan hubungan suami istri sampai janin dalam perut kamu kuat."
Kiara langsung tertawa mendengar apa yang suaminya katakan. "Mas, siapa yang mau melakukan hubungan suami istri? Aku hanya ingin berbaring saja di atas dada kamu. Mungkin aku sedang mengidam."
"Menyenangkan sekali jika mengidamnya seperti itu."
Kiara dan suaminya sampai di parkiran mobil, dan Arthur tidak memperbolehkan Kiara untuk berjalan menuju ke lantai atas apartemen mereka. Arthur menggendong istrinya agar tidak kecapean.
"Mas, aku boleh tidak kalau memeriksakan kandunganku pada Tante Maura? Dia dokter spesialis kandungan terbaik bagiku karena dia bercerita jika klinik yang dia bangun itu juga dia tujukan untuk ibu hamil dari keluarga yang tidak mampu yang mau memeriksakan kandungannya, bahkan di sana mereka dapat melakukan USG 4D dengan membayar semampunya. Tante Maura baik sekali."
"Iya, aku tidak menyangka jika teman kamu yang aku anggap menyebalkan itu memiliki seorang ibu berhati malaikat."
"Aku juga baru tau akan hal itu. Eh, tapi kamu tadi kenapa bisa terlihat akrab dengan Morgan?" Mata Kiara melihat penasaran.
Arthur yang masih berjalan dengan Kiara yang ada dalam gendongannya itu terlihat sedang berpikir. "Aku tidak tau, tapi setelah mengenal dia lebih dekat seperti tadi. Dia orang yang bisa dijadikan teman."
Kiara menyandarkan kepalanya pada pundak suaminya. "Mas, soal mama kamu bagaimana?"
"Aku sudah mengurusnya. Kamu mulai sekarang tidak perlu memikirkan hal itu."
"Mas, kamu akan tetap mempertahankan aku, kan? Aku takut jika kamu pergi dariku, Mas."
Arthur yang sudah sampai di dalam kamarnya. Dia perlahan meletakkan Kiara di atas tempat tidur dan menyelimutinya.
Arthur duduk tepat di depan istrinya, tangan Arthur mengusap lembut wajah Kiara. "Aku lebih baik mati jika harus berpisah dari kamu dan bayi kita."
Kiara dengan cepat menutup mulut suaminya, dia tidak mau Arthur bicara tentang kematian. "Mas, aku percaya kamu akan selalu berada di sampingku." Kiara kembali memeluk suaminya sampai dia menangis.
"Jangan tinggalkan aku lagi, Kiara. Jangan pergi dariku walaupun keluargaku menyuruhmu melakukan hal itu. Di sini bukan kamu yang takut aku tinggalkan, tapi aku yang takut kamu meninggalkan aku."
"Aku tidak akan pergi, Mas. Aku akan berjuang dengan kamu walaupun mama kamu tidak menyukaiku."
Arthur mengangguk. "Ini hidup kita, dan kita sendiri yang menjalaninya."
Malam ini mereka berdua bisa tidur dengan nyenyak karena mereka berdua sama-sama tidak mau memikirkan tentang apa yang baru saja terjadi. Mereka sekarang akan lebih memikirkan tentang menyambut kehadiran bayi kecil yang selama ini mereka nantikan.
"Ma, apa kata ayah tentang pernikahan diam-diam Kak Arthur?"
"Ayah kamu mengatakan hal yang membuat mama semakin kesal. Dia tidak mau menyalahkan Arthur dan mendukung apapun yang dilakukan oleh kakakmu itu."
"Ma, walaupun Kiara adalah teman baikku, tapi aku tidak mau kalau sampai dia menjadi kakak iparku. Jika dia menjadi kakak iparku, maka hubunganku kelak dengan Elang tidak akan berjalan dengan baik karena aku tau jika Elang masih sangat mencintai Kiara."
"Kamu pikir mama sudi Kiara menjadi bagian dari keluarga kita?" Wajah Alexa tampak terlihat sangat marah. Dia benar-benar dibuat sangat kecewa oleh Arthur.