
Elang tersenyum melihat pada perut Kiara. Kiara yang merasa perutnya diperhatikan oleh Elang tampak bingung sembari memegang perutnya.
"Kenapa melihat perutku? Apa ada yang aneh, Lang?"
"Tidak ada apa-apa, aku hanya membayangkan pasti anak kamu sangat cantik karena memiliki wajah dari kamu."
"Dari mas Arthur juga."
"Iya, dari suami kamu. Semoga kamu dan suamimu hidup bahagia, Kiara. Doakan aku juga agar bisa bahagia dengan Mega nanti kalau kami sudah menikah."
"Tentu saja, Lang. Aku akan selalu mendoakan gara Mega dan kamu bisa menikah dan hidup bahagia." Kiara tersenyum dengan manis dan tulus.
Ketiga teman Kiara yang melihat Elang berbicara dengan Kiara tampak saling melihat.
"Kisah yang aneh, ya mereka ini. Dulu mereka sepasang kekasih yang sangat manis di sekolah, tapi sekarang mereka malah jadi ipar."
"Iya, tapi inilah hidup, kita tidak tau jalannya akan ke mana."
"Eh! Mereka kok berpelukan?"
Ketiga teman Kiara tampak terkejut melihat Elang dan Kiara tiba-tiba berpelukan dan tidak lama Elang berjalan pergi dari sana.
Kiara berjalan mendekati meja di mana teman-temannya pasti sedang menunggu penjelasan Kiara.
"Kiara, kamu dan Elang tidak balikkan, Kan?" tanya Tia langsung saat Kiara baru saja duduk.
"Hah! Balikan? Siapa yang balikan?"
"Tadi aku melihat kalian berpelukan. Aku kira kamu akan balikan dengan Elang. Kalau balikan juga tidak apa-apa, aku mau kok sama Mas Arthur walaupun duda."
"Iya, ini Tia. Kalau bicara itu difilter dulu. Lagian Kak Arthur juga kagak bakal mau sama kamu."
"Ih! Kamu mulutnya juga jahat sekali." Tia mendelik ke salah satu temannya
"Habisnya kamu juga ngeselin."
"Aku cuma bercanda. Kalian jangan serius begitu, dunk! Lagi pula aku itu orang yang paling seneng melihat teman aku bahagia. Beneran. Kiara, kamu jangan balikan sama Elang, kasihan sama bayi kamu."
"Ya ampun, Tia! Siapa yang balikkan? Aku itu cinta mati sama suamiku, apalagi kami mau punya anak. Tadi Elang sudah meminta izin ingin memelukku sebagai teman, apa lagi nanti kalau dia menikah dengan Mega dia akan jadi adik iparku, dia sudah bisa menerima semuanya dan ingin menjadi Elang yang baru dengan semua lembaran barunya."
"Kamu percaya akan hal itu?"
"Percaya, Tia. Aku tidak mau memiliki pikiran buruk dengan seseorang, dan apa salahnya jika aku mempercayai seseorang yang ingin berubah lebih baik. Semoga Elang berubah seperti apa yang dia katakan."
"Benar apa yang dikatakan oleh Kiara, Tia. Kalau semua bisa menerima takdir yang sudah digariskan pasti kehidupan akan lebih berjalan dengan lancar dan baik untuk semuanya." Mereka semua berpelukan.
"Kiara, pokoknya nanti kalau kamu melahirkan, kamu harus memberitahu kami."
"Tentu saja." Mereka semua tersenyum dengan senang.
Di tempatnya, Arthur sedang berbicara dengan seseorang yang dia kenali karena juga berbisnis dengannya.
"Arthur, sekarang keluarga kamu akan lebih berjaya karena akan menjadi keluarga besar setelah bersatu dengan keluarga Winata. Perusahaan mereka juga sangat besar."
"Aku tidak melihat hal itu sebenarnya. Yang aku lihat adalah kebahagiaan adikku-- Mega. Mega terlihat sangat bahagia bisa bersama dengan orang yang dia cintai."
"Tentu saja karena aku juga tau jika kamu adalah seorang Arthur yang memang tidak tergantung pada keluargamu. Kamu seseorang yang hebat yang bisa berdiri dengan kakinya sendiri." Pria itu mengajak Arthur bersulang.