Be Mine

Be Mine
Pagi Yang Manis part 2



Kiara masih fokus mengamati suaminya. Kedua matanya tidak lepas dari pria yang sedang menaik turunkan tubuhnya pada power rack di sana.


"Jangan melihatku terus, nanti kamu menginginkan aku," sindir Arthur yang sadar dari tadi diperhatikan oleh istrinya.


"Memangnya kenapa kalau aku menginginkan kamu? Tidak boleh?"


"Tentu saja boleh. I am always ready to serve you princess."


Kiara tidak menyadari jika suaminya itu sudah sangat dekat dengannya. Kiara mendongak melihat wajah suaminya.


"Mas, kamu menyuruhku ke sini untuk apa?"


"Menemaniku berolah raga dan aku akan mengajari kamu juga."


"Ajari apa?" Kiara sekarang yang malah semakin mendekat pada suaminya, seolah dia sedang menantang pria di depannya.


"Aku suka dengan caramu bertanya." Arthur memberikan kecupan lembut nan manis tepat di bibir Kiara. Untuk beberapa menit mereka saling berciuman.


Arthur mengajak Kiara melakukan beberapa gerakan seperti **** up dan mengangkat barbel. Arthur juga melakukan gerakan di atas matras berdua dengan Kiara. Kiara tampak menikmati hal itu.


"Apa kamu lelah?" tanya Arthur yang tepat berada di atas tubuh Kiara.


"Sedikit. Apa kamu lelah?"


"Tidak sama sekali, apa lagi melakukan **** up dan di bawahku ada kamu seperti ini."


Kiara malah terkekeh dengan senangnya. "Kamu kenapa banyak sekali akalnya kalau menyangkut hal seperti ini?"


"Entah kenapa setiap dekat sama kamu, aku selalu ingin melakukan hal yang sangat romantis."


"Apa kamu dulu dengan mantanmu juga sering melakukan hal romantis?"


Arthur bangkit dari tubuh Kiara. Dia duduk pada bangku gym yang disebut Abdominal Bench, yaitu bangku yang biasa Arthur gunakan untuk membentuk perutnya six packnya.


"Kenapa wajah kamu jadi kesal seperti itu?" Kiara mendekat dan sekarang dia malah duduk membuka kakinya pada pangkuan Arthur.


"Aku hanya kesal saja dengan pertanyaanmu. Bisa tidak, kalau kita tidak perlu membahas masa lalu saat kita bersama mantan kekasih?"


"Aku minta maaf, aku hanya ingin menjadi satu-satunya buat kamu."


"Kamu satu-satunya untukku Kiara." Mereka kembali berciuman dengan mesra di sana, sampai ponsel Arthur berbunyi sehingga mereka menghentikan ciuman mereka.


"Mama? Untuk apa mama menghubungiku?"


"Mas, aku akan ke sana dulu sehingga kamu bisa menjawab panggilan video dari mamamu."


Kiara beranjak dari pangkuan suaminya, dia agak menjauh dari sana.


"Halo, Ma, ada apa?"


"Sayang, kamu itu di mana?"


"Aku sedang berada di apartemenku, Ma."


"Oh, mama kira kamu tidur di rumah mendiang ibumu. Kenapa kamu berada di apartemenmu? Tumben sekali kamu tinggal di sana."


"Aku beberapa hari tinggal di sini karena ingin mencari suasana yang baru, Ma. Mama ada apa menghubungiku?"


"Arthur, kalau nanti Belinda ke kantormu, kamu jangan lupa ajak dia makan siang bersamamu. Kalian berdua pasti banyak yang perlu dibicarakan jika ingin melakukan kerja sama."


"Iya, Ma." Arthur melihat pada Kiara yang juga sedang mendengarkan apa yang Arthur dan mama mertuanya bicarakan.


"Ma, nanti saja kita bicara lagi karena aku ingin bersiap-siap mau berangkat ke kantor."


"Iya, Sayang. Oh ya, Arthur! Mama juga ingin agar kamu bisa bersikap baik dengan Belinda, kalau perlu kamu ajak juga dia jalan atau berbelanja selama dia berada di sini. Orang tua Belinda itu sangat baik dan mama sudah mengenalnya lama sebelum mama menikah dengan ayahmu. Anggap saja kamu membantu mama kamu ini balas Budi atas kebaikan mereka."


"Iya, Ma. Kalau begitu terima kasih, Arthur."


Arthur mematikan panggilan teleponnya dan kedua matanya menatap pada Kiara yang juga dari tadi sedang menatapnya.


"Jadi kemarin malam di acara amal itu kamu dikenalkan oleh gadis bernama Belinda, Mas?"


"Iya, dia anak dari sahabat mama Alexa. Mereka tinggal di luar negeri dan datang ke sini karena ada urusan pekerjaan."


"Apa dia cantik?"


"Biasa saja." Arthur berjalan mendekat pada Kiara.


"Kenapa kamu tidak menceritakan hal itu padaku, Mas?"


"Kiara, itu bukan hal yang penting."


"Bukan hal penting? Bagaimana jika dia dikenalkan sama kamu karena ingin dijadikan calon istrimu?" Kiara berjalan pergi dari ruang gym dengan wajah marah.


"Sayang, dengarkan aku. Ara!" panggilan Arthur sama sekali tidak dipedulikan oleh Kiara.


Arthur tampak mengusap wajahnya kasar. Dia tau Kiara pasti marah karena tidak menceritakan tentang hal itu.


Kiara tampak berdiri di dalam kamar tidurnya. Dia kecewa pada suaminya kenapa kemarin dia tidak menceritakan tentang perkenalannya dengan seorang gadis?


Sebuah pelukan dari belakang membuat Kiara menyadari akan kehadiran suaminya di sana. Arthur memeluk Kiara sangat erat.


"Lepaskan, Mas." Kiara berusaha melepaskan pelukan suaminya, tapi Arthur tidak ingin melepaskan pelukannya pada Kiara.


"Sayang, jangan marah seperti ini denganku! Apa kamu lupa dengan apa yang kemarin kira bicarakan?"


"Aku masih ingat, Mas. Aku marah karena kamu tidak jujur saja denganku."


"Aku bukannya ingin menyembunyikan hal ini darimu, Sayang, tapi bagiku memang tidak perlu aku katakan sama kamu. Aku dan Belinda hanya berkenalan biasa, sebagai bentuk sikap menghormati karena mamaku yang memperkenalkannya."


Kiara melepaskan pelukan Arthur dan dia melihat Arthur lekat. "Aku ingat dengan apa yang dikatakan Mega waktu itu, bahwa kamu pasti juga akan dikenalkan oleh seseorang yang memiliki status yang sama dengan keluargamu."


"Mamaku boleh berharap seperti itu, tapi semua tetap aku yang memutuskan hidupku Kiara. Ara, kamu jangan terlalu memikirkan hal yang berat karena hal itu bisa membuat kita lama memiliki seorang anak nantinya, bukankan hal ini pernah dijelaskan oleh teman Elena."


Kiara duduk di atas ranjang sembari menutup mukanya. Dia tampak merasa tidak karuan.


"Mas, mungkin sebaiknya kita tunda dulu memiliki anak sampai pernikahan kita diketahui oleh keluargamu dan mereka bisa menerima diriku sebagai menantunya.


"Apa? Sayang, aku tidak peduli jika mamaku tidak menyetujui pernikahan kita. Aku hanya ingin memiliki keluarga kecil yang sempurna bersama kamu."


Arthur sekarang duduk bersimpuh di bawah Kiara. Kedua tangan Arthur menangkup wajah Kiara dan memandangnya sangat lekat.


"Mas, aku minta maaf jika keputusan ini menyakitimu, tapi mungkin lebih baik seperti itu agar jika nanti aku mengandung anakmu, anak kita bisa diterima dengan baik oleh mama kamu, bagaimanapun juga mama Alexa adalah mama kamu juga sekarang."


Arthur berdiri dari tempatnya dan dia tidak mengeluarkan sepatah katapun. "Mas," panggil Kiara dengan wajah sedihnya.


Arthur sekali lagi hanya memandangi wajah Kiara beberapa detik sampai akhirnya dia berjalan masuk ke dalam kamar mandi.


Kiara tau jika suaminya itu pasti kesal dan marah dengan apa yang baru saja Kiara katakan. Di pikiran Kiara mungkin sekarang lebih baik mencari restu dari mama sambung Arthur dan setelah itu dia bisa menjalani kehidupan pernikahan dengan tenang dan menunggu baby kecil dikirimkan Tuhan pada rahimnya.