Be Mine

Be Mine
Acara Wisuda part 2



Alexa berjalan mendekat pada putranya dan menarik tangan Arthur agar menjauh dari Kiara. Kiara yang melihat hanya bisa terdiam.


"Arthur, nanti kamu ikut dengan kita makan bersama bersama keluarga Elang."


"Aku minta maaf, Ma karena hari ini aku ada meeting nanti siang dengan salah satu rekan bisnisku."


"Tapi, Sayang, kamu harus ikut karena kita akan membicarakan tentang acara pesta pertunangan adik kamu, dan sebagai kakaknya, kamu juga harus ikut membahas masalah ini."


"Ma, apa waktu Mama memutuskan Mega akan bertunangan dengan Elang, Mama mengatakannya padaku? Aku sangat terkejut mengetahui Mega akan bertunangan dengan Elang, padahal Mama tau sendiri jika Elang adalah mantan kekasih Kiara--sahabat Mega."


"Oh, Arthur. Mama melakukan itu karena keputusan itu muncul begitu saja. Kella tidak ingin Elang ditipu dan dirayu oleh gadis miskin yang hanya ingin mengambil harta Elang saja. Oleh karena itu mamanya Elang memutuskan perjodohan itu. Mama setuju saja karena memang Elang anak yang baik dan setara dengan keluarga kita."


Arthur ingin sekali mengatakan jika apa yang mamanya Elang pikirkan tentang Kiara adalah hal yang salah, tapi Arthur tidak perlu ikut campur terlalu dalam masalah itu karena Arthur tau sendiri siapa Kiara itu.


"Aku tidak mau ikut campur masalah ini, aku hanya mengingatkan jika Mama selain ingin Mega mendapatkan calon suami yang baik, Mama juga harus memikirkan tentang perasaan Mega."


"Sayang, mama minta maaf jika tidak memberitahumu mengenai masalah ini, tapi mama ingin kamu mendukung apa yang mama lakukan karena hal ini baik untuk Mega."


"Apa Mama yakin itu baik untuk Mega?"


"Arthur, Mega sudah menerima perjodohan ini dan kamu akan melihat adik kamu itu pasti bahagia bersama dengan Elang."


"Aku harap begitu."


Acara wisuda selesai dan nanti malam akan ada acara pesta perayaan yang akan dihadiri semua wali murid, dan Kiara akan menyumbangkan suara emasnya pada acara itu.


Kiara dan Arthur sudah berada di dalam mobil. Mereka berhenti agak jauh dari gedung di mana acara wisuda tadi berlangsung. Kiara tampak terdiam melihat piagam penghargaan di tangannya.


"Kenapa, Ara?" Arthur mengusap lembut pucuk kepala istrinya.


"Aku hanya teringat dengan ibuku, Mas."


"Ibumu pasti senang melihatmu hari ini. Sangat cantik dan menjadi siswa dengan nilai terbaik. Apa lagi kamu mendapat undangan masuk fakultas yang kamu impikan."


"Iya, aku sangat senang, tapi semua itu aku masih harus berjuang lagi agar bisa diterima di sana. Aku 'kan masih harus tetep ikut ujian tes nantinya."


"Kamu pasti bisa, Sayang." Arthur mengambil sesuatu di kursi belakang mobilnya. "Ini untuk istriku tercinta."


"Mas! Ini indah sekali." Wajah Kiara tampak berbinar melihat buket bunga berukuran kecil, tapi sangat cantik dan manis.


"Sebenarnya, aku dari tadi ingin memberikan ini untuk kamu, tapi tidak mungkin aku berikan di acara itu, kamu tau sendiri kenapa."


"Iya, Mas, aku tahu. Mas Arthur, boleh tidak aku mencium kamu?"


Arthur yang mau menyalakan mesin mobilnya seketika tidak jadi dan langsung menoleh pada Kiara.


Tangan Arthur perlahan mendekat pada pipi Kiara dan dia mencium duluan bibir istrinya. Beberapa menit mereka berciuman di dalam mobil.


"Aku kesal jika kamu harus meminta izin padaku seperti tadi."


"Aku 'kan takut kamu nanti belepotan lipstikku. Bukannya kamu mau kembali ke kantor."


"Huft! Jangan mencari alasan yang aneh, Kiara. Lipstik kamu itu tidak akan membuat belepotan, kamu memang suka sekali memancingku akhir-akhir ini. Ya sudah! Sekarang kita pulang saja dan aku akan bilang pada sekretarisku untuk membatalkan meeting hari ini."


"Jangan, Mas!" Kiara ini sudah tau maksud suaminya tidak ke kantor lagi.


"Aku sedang tidak memancingmu untuk bercinta, tapi tadi memang aku gemas sekali melihat wajahmu. Pokoknya aku hari ini tidak mau membuat capek diriku karena nanti malam aku ada banyak kegiatan di pesta acara kelulusan itu." Kiara mengerucutkan bibirnya.


"Ya sudah, aku akan mengantarmu ke apartemen dan aku akan kembali ke kantor untuk meeting. Kamu beristirahatlah nanti kalau begitu."


"Siap, Sayang."


Arthur mengantar Kiara pulang ke apartemen dan dia kembali ke kantornya.


Kiara di dalam apartemen tampak tiduran di sofa sembari menonton televisi. Tidak lama ponselnya berdering dan Kiara melihat ada nama Elang di sana.


"Untuk apa Elang menghubungiku lagi?" Kiara mematikan panggilan teleponnya. Kiara ini mau mengganti nomor ponselnya, tapi nomor itu sudah lama dia pakai dan semua teman-temannya tau nomor itu.


Elang yang panggilannya tidak di jawab oleh Kiara, akhirnya mengirimkan pesan pada Kiara.


Elang mengatakan jika dia sedang bersama dengan keluarga Mega, dan mereka sedang membicarakan tentang pertunangannya dengan Mega.


"Aku sudah tidak peduli akan hal itu, Elang."


Kiara akhirnya membalas dan mengatakan jika dia senang mendengar perjodohan Elang dengan Mega, dan Kiara juga berharap Elang bisa menjadi suami yang baik bagi Mega kelak. Terakhir Kiara mengatakan jika Elang tidak perlu menghubunginya lagi.


Elang yang mendapat balasan pesan seperti itu wajahnya tampak marah.


"Aku mau menerima pertunangan ini karena aku berencana akan mendapatkan kamu kembali Kiara. Saat aku dan Mega menikah, harta keluargaku akan diberikan padaku, dan setelah itu aku akan meninggalkan Mega untuk mendapatkan kamu kembali." Elang menggenggam ponselnya dengan kuat.


"Lang," suara Mega tiba-tiba berada di belakang Elang.


"Ada apa, Mega?"


"Kamu dipanggil oleh mamamu."


"Katakan saja aku mau ke kamar mandi dulu."


Mega melihat Elang memegang ponselnya dan Mega tau jika Elang pasti baru saja menghubungi Kiara.


"Apa kamu baru saja menelepon Kiara?"


"Iya, aku baru saja menghubungi gadis yang sangat aku cintai. Kenapa? Apa kamu mau melaporkan pada mamaku?"


Mega menggelengkan kepalanya pelan. "Aku tidak mungkin membuat kamu dimarahi oleh mama kamu. Lang, tolong jangan membenciku hanya karena kita akan bertunangan. Semua ini juga bukan kesalahanku."


Wajah Elang seketika berubah karena apa yang dikatakan oleh Mega adalah hal yang benar.


"Kalau kamu memang tidak mau bertunangan denganku, kenapa tidak kamu yakinkan pada kedua orang tuamu, Terutama mama kamu."


"Lang, aku tidak berani menyakiti hati mamaku karena selama ini mamaku selalu menuruti apa yang aku inginkan. Aku tidak mau dicap sebagai anak yang tidak berbakti pada orang tua."


Elang terduduk lemas di sana. Dia juga tidak mungkin melawan kedua orang tuanya karena akan buruk bagi masa depannya.


"Tapi aku tidak ingin kita bertunangan, atau bahkan sampai menikah, Mega. Kita tidak saling mencintai ataupun memiliki perasaan apapun."


Mega duduk berjongkok di depan Elang. "Apa benar kamu sama sekali tidak memiliki perasaan apapun padaku? Lalu, ciuman kita yang waktu itu?"