
Kiara beranjak dari tubuh suaminya dan berjalan ala model di catwalk dengan penampilan yang bisa membuat sesuatu dalam diri Arthur terbangun.
Arthur melihat ke dalam selimutnya dan dia terkejut melihat apa yang dilakukan Kiara pada dirinya. "Kenapa melepas celanaku begini?"
"Supaya memudahkan kamu pergi ke kemar mandi. Jadi, kamu tidak perlu bersusah payah melepaskan bajumu lagi, Mas." Kiara mengambil celananya yang dia lempar di bawah lemari.
"Lalu, kamu sendiri kenapa berpenampilan seperti itu?"
Kiara menoleh dengan senyum menggodanya. "Aku hanya ingin menggoda kamu saja, Mas."
"Hanya menggoda?"
"Iya, aku hanya menggoda saja supaya kamu cepat bangun tidur."
"Tapi aku tidak suka digoda seperti ini, Kiara."
Arthur seketika beranjak dari tempat tidurnya dan berlari kecil, tangannya langsung menyambar pada tubuh istrinya. Sekarang Kiara sudah berpindah di atas pundak Arthur.
"Mas! Turunkan aku, aku mau mandi dan kembali ke kamarku."
Arthur tidak menggubris apa yang dikatakan oleh istrinya, dia meletakkan Kiara di atas tempat tidur kemudian menindihnya.
"Salah sendiri, kenapa membangunkan singa yang sedang tidur?"
"Habis! Nanti singanya marah kalau tiba-tiba aku tinggal pergi."
"Tentu saja marah, tapi singa ini juga marah kalau dipancing seperti ini."
"Terus, singa ini maunya apa?"
"Memakan mangsanya."
"Kalau begitu, mangsa ini akan melawan singanya."
"Huh! Aku suka pertarungan seperti ini."
Tangan Arthur sudah langsung menyerang bagian inti Kiara yang hanya ada satu penghalang, dan dengan cepat dia menurunkannya sampai bawah.
"Jangan curang, Mas." Kiara berteriak-teriak kecil karena sentuhan yang membuat dirinya geli.
"Ini bukan curang, Sayang, tapi ini adalah taktik untuk menaklukan musuhnya dengan mudah."
Setelah mengatakan hal itu Arthur membungkam bibir Kiara dengan bibirnya agar tidak membela diri lagi.
Tangan Kiara pun melepas kemeja yang masih menyangkut pada tubuh suaminya. Pagi itu sang singa akhirnya bisa menaklukan mangsanya.
"Mas, aku harus segera kembali ke kamar, nanti kalau Mega bertanya, aku harus jawab apa?"
"Jawab saja kamu semalaman tidak tidur dan bertemu denganku. Kita berbincang di pantai, sembari menunggu matahari terbit, atau kamu bilang pura-pura saja aku habis mengajak kamu olahraga pagi."
"Itu bukan pura-pura, Mas. Kamu memang baru saja berolahraga pagi denganku."
Arthur tersenyum dan mengecupi lagi bibir Kiara. Dia seolah tidak ingin beranjak dari atas tubuh istrinya.
"Kita mandi bersama setelah ini. Mau, kan?"
"Tidak mau, Mas, aku ini penasaran kenapa Mega tidak mencariku? Dia pasti sadar jika aku tidak kembali ke kamar dan dia pasti menghubungiku."
"Nanti saja memikirkan hal itu, sekarang aku hanya ingin bermesraan sama kamu."
Tidak lama terdengar suara pintu kamar Arthur diketuk. Arthur yang sudah membawa tubuh Kiara menuju kamar mandi seketika berhenti.
"Mas, apa kamu pesan pelayanan hotel?"
"Aku tidak memesan apapun dan aku tidak ada janji dengan siapa pun."
"Apa itu Mega yang datang?"Kedua mata Kiara mendelik dan dia segera turun dari gendongan Arthur mengambil semua bajunya kemudian masuk ke dalam kamar mandi.
Arthur yang hanya memakai celana pendeknya berjalan menuju pintu. Dia melihat dari lubang kecil yang ada di depan pintunya.
"Inikan temannya Mega, kalau gak salah namanya Tia. Untuk apa dia ke sini?"
Arthur membuka pintunya. Tia yang ada di depan pintu tampak tercengang melihat sosok di depannya, apa lagi ada pemandangan indah di sana.
"Ka-kak Arthur."
"Iya, aku Tia, Kak."
"Ada apa kamu ke sini? Apa ada perlu denganku?"
"Iya. Kak, aku sebenarnya mau mengajak kak Arthur, Mega dan Kiara jalan-jalan pagi melihat matahari terbit sebelum besok kita kembali pulang, tapi Mega aku hubungi tidak dijawab dan pesanku juga tidak dibaca."
"Mungkin dia masih tidur karena dia kalau liburan suka bangun siang."
"Tapi Kiara juga aku coba hubungi tadi, tapi tidak diangkat juga, padahal Kiara itu bangunnya selalu pagi."
"Dia mungkin sudah keluar jalan-jalan. Bisa saja, kan?"
Tia tampak berpikir sejenak. "Iya juga sih! Lantas, aku mengajak siapa?"
"Kamu tunggu saja di lobby bawah dan aku akan mencoba menghubungi Mega atau membangunkan dia. Nanti aku menghubungimu."
"Iya, kalau begitu aku minta nomor telepon Kak Arthur."
Arthur memberikan nomornya dan Tia berjalan pergi dari sana. Arthur kembali ke dalam kamar, dan ternyata istrinya itu sudah bersiap.
"Siapa tadi yang ke sini, Mas?"
"Tia teman kamu dan Mega."
"Tia? Untuk apa dia ke sini, Mas?"
Arthur mengatakan tentang ajakan Tia pada Kiara. Kiara pun akhirnya mengatakan dia akan ke kamarnya mencari tau tentang Mega dan nanti dia akan menghubungi Tia jika dia mau diajak jalan-jalan pagi.
"Ya sudah, kalau begitu aku mau mandi dulu dan nanti aku mau ikut pergi dengan kalian."
"Mas serius mau ikut pergi?"
"Kenapa tidak? Mega pasti mengajak Elang dan aku ikut untuk menjaga kamu dari Elang. Jujur saja aku khawatir sama kamu kalau di luar sendirian setelah kejadian lelaki aneh yang mengaku mengenal kamu waktu itu."
"Jujur saja aku juga masih penasaran dengan lelaki itu, Mas, tapi aku tidak mau memikirkannya karena jika dipikirkan akan membuat aku semakin sakit hati."
"Iya, tidak perlu kamu pikirkan." Arthur mengecup kening istrinya dan berlalu dari sana.
Kiara izin kembali ke kamarnya dan dia sana dia mencoba menghubungi Mega, dan karena tidak ada respon akhirnya dia mengetuk pintu kamar.
"Kiara, kamu dari mana saja?"
"Aku baru selesai jalan-jalan. Kamu masih tidur saja."
Mega ternyata masih tidur. Mega berjalan masuk dan diikuti oleh Kiara.
"Kamu semalam tidur di mana? Aku tidak mendengar kamu mengetuk pintu."
A-aku tidak tidur semalam, tapi aku berada di bawah menikmati pemandangan malam yang indah."
"Kamu serius?" Mega agak kaget.
"Iya, aku juga ditemani oleh kakak kamu yang kebetulan dia ada di pantai malam-malam katanya dia ingin sejenak mencari suasana yang tenang."
"Kalau Arthur memang selalu sibuk bekerja, dan mungkin di sini dia bisa menghilangkan sedikit kebosanannya."
"Iya karena di sini tempatnya sungguh indah, aku saja seolah tidak mau pulang."
"Kiara, aku tidak tau apa yang terjadi dengan Elang," ucap Mega tiba-tiba terdengar sedih.
"Kenapa memangnya dengan Elang?"
"Kemarin dia bilang kalau ingin mempercepat pertunangannya denganku agar bisa secepatnya menikah juga."
"Apa?" Kiara agak terkejut.
"Aku senang sekali mendengarnya Kiara, makannya aku kemarin bisa tidur nyenyak, senyanyak-nyenyaknya dan aku sampai bermimpi menikah dan memiliki anak yang lucu dengan Elang." Mega memeluk Kiara dengan erat. Kiara hanya bisa tersenyum terpaksa
"Tapi kenapa tadi kamu sedih? Pura-pura?"
"Aku itu bingung mau senang apa sedih sebenarnya?" Sekarang Mega melirik pada Kiara.