
"Kenapa meninggalkan aku sendirian? Kamu seharusnya membangunkan aku, Arthur."
Arthur meletakkan kopernya dan mendekat ke arah istrinya. "Aku melihat kamu masih terlelap. Jadi, aku tidak mau menganggu tidurmu. Apa sudah lebih baik hari ini?"
"Aku sudah baikkan dan aku mau berangkat ke sekolah."
"Aku sudah bicara dengan Dokter Elena, dan sebenarnya dia tidak memperbolehkan kamu, tapi aku bilang hanya beberapa jam saja setelah itu kamu akan kembali ke rumah sakit."
"Terus? Kamu tetap tidak diperbolehkan."
"Arthur, minta pulang saja karena aku benar-benar sudah baikkan. Aku tidak mau ketinggalan ujian yang tinggal hari ini dan besok. Arthur, aku mohon," rengeknya sembari memegang tangan suaminya.
Arthur tampak terdiam sejenak. Dia tidak tega jika melihat Kiara yang sangat menginginkan untuk masuk sekolah. "Kita pulang paksa saja, dan nanti biar aku sewa perawat untuk merawat kamu di rumah. Bagaimana?"
"Tidak perlu perawat. Aku bisa menjaga diriku sendiri. Pokoknya aku sekarang mau masuk sekolah." Kiara malah mau turun dari tempat tidur, tapi Arthur menghalanginya dan akhirnya Arthur mengalah menuruti apa yang istrinya itu minta.
salah satu perawat di sana membantu Kiara berganti baju sementara Arthur mengurus surat untuk kepulangan Kiara.
Kiara memakai seragam dari rumah sakit dan karena hanya membawa alat tulis. Kiara memilih membeli lagi saja di koperasi.
"Aku nanti akan menunggumu di sini, setelah selesai langsung ke mari."
"Kamu menungguku di sini? Kamu ke kantor saja dan nanti jam pulang kamu bisa ke sini."
"Hari ini aku mau libur dari kantorku. Semua urusan sudah aku minta tolong pada sekretarisku."
Kiara terdiam sejenak. Dia benar-benar speechless dengan apa yang suaminya itu lakukan. "Kiara, cepat masuk, nanti kamu terlambat."
"Iya, Arthur." Kiara mengecup punggung tangan suaminya dan kali ini Arthur mengecup kening Kiara.
Gadis itu turun dari dalam mobil dan masuk ke dalam gedung sekolahnya. Mega yang sudah ada di dalam kelas tampak mengerutkan wajahnya melihat muka Kiara.
"Kamu sakit, Ara? Wajah kamu pucat sekali."
"Aku baru saja dari rumah sakit."
"Oh ya! Kamu kenapa?"
"Aku panas tinggi dan ternyata terkena infeksi pencernaan," suara Kiara masih terdengar lemas.
"Sekarang sudah tidak panas, Kan?" Tangan Mega menyentuh dahi Kiara untuk memeriksa keadaan sahabatnya itu.
"Sudah tidak apa-apa. Aku sudah mendapat perawatan dan tinggal pemulihannya saja."
"Lalu, siapa yang mengantar kamu ke rumah sakit? Bukannya mba Tami belum pulang?"
Kiara bingung harus menjawab apa? Dia sepertinya harus berbohong lagi pada Mega. "Aku diantar oleh tetanggaku, dan setelah itu kami pulang."
"Nanti pulang sekolah biar aku antar sampai ke rumah kamu."
Kepala Kiara menggeleng pelan. "Tidak perlu repot-repot, Mega. Aku nanti naik angkutan umum saja. Lagi pula aku sudah baikkan dan hanya tinggal menghabiskan obatku saja."
"Tidak apa-apa, Kiara. Pokoknya nanti aku akan mengantarkan kamu pulang ke rumah karena aku takut kamu nanti bisa-bisa pingsan di jalan."
"Aku tidak akan pingsan di jalan, Mega." Mega memeluk sahabatnya itu dengan erat.
Ujian dimulai dan semua anak-anak mengerjakan dengan fokus dan serius. Setelah itu jam istirahat berbunyi. Mega mengajak Kiara pergi ke kantin, tapi Kiara bilang jika dia ingin di dalam kelas saja.
"Kalau begitu aku akan membelikan kamu teh hangat dan roti isi. Kamu tunggu di sini saja."
"Mega, tidak usa."
"Jangan membantah Kiara." Mega segera turun dan pergi menuju ke kantin.
Mega yang sedang menunggu pesanan ya dibuat, dihampiri oleh Elang yang ternyata juga berada di sana.
"Mega, Kiara mana? Apa dia tidak masuk?"
"Kiara ada di dalam kelas, dan dia sedang tidak enak badan."
"Iya, tadi waktu masuk ke dalam kelas, aku melihat wajah Kiara pucat dan dia bilang semalam baru dari dokter. Dia panas tinggi dan terkena infeksi pencernaan."
"Oh Tuhan! Aku akan menemuinya."
"Tunggu, Elang!" Tangan Mega dengan cepat menahan tangan Elang.
Elang melihat tangannya yang ditahan oleh Mega. "Ada apa, Mega?"
"Kamu lupa tentang apa yang mama kamu bicarakan kemarin saat ke rumahku?"
Kedua mata Elang membulat. "Mega, bukannya kita sudah mengatakan pada kedua orang tua kita tentang persahabatan kita berdua."
Mega perlahan melepaskan tangan Elang. "Aku tau, tapi bisa tidak kita berpura-pura menerima semua itu karena itu untuk kebaikan kamu dan juga sahabat aku. Elang, Kiara sudah sangat menderita dengan sekarang dia hidup sendiri. Apa tidak bisa kamu jangan membebani dia dengan masalah lain?"
"Aku tidak bermaksud membebani dia dengan masalah lain, tapi aku tidak bisa tinggal diam jika mendengar Kiara kenapa-napa."
Mega menghela napasnya panjang. Dia benar-benar bingung harus menjelaskan bagaimana lagi kepada Elang.
"Lang, Kiara sedang sakit, kamu mau gara-gara dirimu mendekati dia lagi. Dia akan mendapat hinaan terus dari mama kamu. Cukup ya, Lang."
"Mega!" Gantian sekarang Elang yang menahan tangan Mega. "
"Ada apa?" tanya Mega ketus.
"Kamu bisa tidak membantuku agar aku bisa dekat lagi dengan Kiara. Mamaku pasti sangat percaya sama kamu dan hanya kamu satu-satunya yang bisa membantuku."
Mega melepaskan tangan Elang dari tangannya. "Maaf, Lang, tapi aku tidak mau membantu kamu karena bukan karena apa-apa, tapi aku tidak mau merusak kepercayaan mama kamu dan nanti juga mendatangkan masalah untuk sahabat baikku." Mega berjalan pergi dari hadapan Elang .
Elang hanya bisa berdiri terdiam di tempatnya. "Kenapa semua orang seolah tidak memberikan kesempatan kepada aku untuk bisa bahagia dengan Kiara?" Tangan Elang dengan marah menggebrak meja.
Kiara yang di kelasnya baru saja menghubungi Arthur dan bertanya di mana Arthur sekarang. Pria itu mengatakan sedang berada di tempat di mana dia selalu menunggu Kiara.
Kiara merasa bersalah sendiri sudah membuat Arthur susah. Kiara juga mengatakan jika sebaiknya Arthur pergi saja karena nanti dia akan di antar Mega pulang, tapi lagi-lagi Arthur bisa mengakali semuanya.
"Halo, Kak, ada apa?"
"Mega, nanti kakak akan menjemput kamu pulang sekolah, kamu hubungi supir agar tidak perlu menjemput kamu."
"Tumben sekali, ada apa memangnya?"
"Mau kakak jemput tidak?"
"Iya, mau, tapi tumben sekali dan tidak biasanya."
"Kakak ada urusan sebentar pulang ke rumah untuk mengambil barang kakak yang tertinggal di kamar."
"Oh ... begitu. Ya sudah! Nanti Kakak juga antarkan Kiara pulang ke rumahnya sekali karena hari ini dia masuk sekolah dengan wajah pucatnya. Dia sedang sakit."
"Oh, iya, nanti aku antar dia pulang."
"Hem! Jawabannya kembali ke sosok Kakak Arthur yang aku kenal. Kenapa? Sudah tidak tertarik dengan Kiara? Beberapa hari yang lalu beda sekali dengan Kiara, sekarang sudah berubah."
"Lalu, aku harus bagaimana?"
"Iya-iya! Aku kan tau sifat Kakak itu bagaimana. Ya sudah nanti jangan terlambat menjemputnya karena aku tidak mau berpanas-panasan menunggu Kakak."
"Iya, cerewet."
Mereka mengakhiri panggilan teleponnya dan Mega kembali berjalan menuju kelasnya. Di sana Mega melihat Kiara berbaring dengan menyandarkan kepalanya pada meja sekolah.
"Kamu masih sakit, Ara? Ini minum dulu teh hangatnya."
Kiara menarik kepalanya perlahan dan mengambil teh hangat dari tangan Mega. "Terima kasih, ya Mega. Aku selalu merepotkan keluarga kamu."
"Keluarga? Memang siapa saja yang kamu repotkan?