Be Mine

Be Mine
Tulisan Yang Mengganggu



Arthur membaca tulisan yang Elang tuliskan pada seragam Kiara. Kiara tentu saja kaget karena dia tidak tau kalau Elang akan menuliskan hal semacam itu.


"Apa benar Elang menuliskan seperti itu?"


"Baca saja sendiri."


Kiara mencoba menengok ke belakang, tapi dia tidak bisa. "Tidak bisa, apa aku buka saja seragamku?" Tangan Kiara malah sudah berada di depan kancing seragamnya. Dia yang saking penasarannya lupa kalau dia ada di kantor suaminya.


Kiara yang tadinya menunduk ingin membuka kancing seragamnya, seketika melirik melihat wajah pria di depannya yang menunggu apa yang akan dilakukan oleh Kiara.


"Mau aku bantu membukanya?"


"Nanti saja aku buka di rumah."


"Kenapa harus di rumah? Di sini juga bisa." Tangan Arthur perlahan membuka satu kancing seragam Kiara.


"Mas! Ini di kantor kamu." Kiara tampak mendelik takut, takut jika ada yang melihat apa yang Arthur lakukan, apa lagi di belakang kursi yang Arthur duduki adalah kaca yang sangat besar, di luar sana juga banyak gedung bertingkat yang pastinya bisa melihat apa yang mereka lakukan.


"Mas, kamu jangan berbohong. Elang tidak menuliskan kata itu, kan? Kamu hanya ingin aku membuka seragamku. Kamu nakal sekal!" Kiara mencoba menyingkirkan tangan Arthur.


"Aku tidak bohong, kalau tidak percaya, lepaskan seragammu dan baca sendiri."


"Nanti aku lihat di rumah." Kiara yang hendak beranjak ditarik kembali pinggangnya sehingga dia kembali duduk dipangkuan Arthur. Arthur menciumi bibir Kiara semakin dalam dan sekarang mereka malah terbawa suasana.


Tok ... Tok ... Tok


Kiara seketika menarik tubuhnya dari Arthur. "Mas! Ya Tuhan! Kenapa aku jadi terbawa suasana sama kamu?"


Kiara segera beranjak dari pangkuan Arthur dan merapikan dirinya dengan cepat. Dia kembali duduk di sofa panjang seolah tidak terjadi apa-apa.


Arthur yang duduk di tempatnya antara kesal karena dia diganggu, tapi juga gemas melihat sikap istrinya itu.


"Masuk."


"Pak Arthur, permisi." Sekretaris cantik itu masuk dan melihat ada Kiara yang tampak memainkan ponselnya duduk di sofa.


"Ada apa?"


"Pak, ada yang ingin bertemu dengan Pak Arthur."


"Siapa? Bukannya aku tidak ada janji pertemuan dengan siapapun."


"Arthur aku mau bicara sama kamu," suara seseorang yang Kiara kenali.


Pria paruh baya bernama Jhon masuk ke dalam ruangan Arthur. Kiara tampak kaget sampai dia berdiri di tempat.


"Ada apa kamu datang ke sini? Bukannya kamu seharusnya pulang ke rumahmu." Arthur tersenyum miring.


Arthur membuat perusahaan Jhon bangkrut dan mau tidak mau Jhon kembali ke kota asalnya di mana anak dan istrinya tinggal selama ini. Kota kecil di suatu negara yang Jhon sama sekali tidak pernah mengunjungi mereka.


"Arthur, kenapa gadis itu bisa berada di sini? Apa dia sugar babymu?"


"Tapi dia masih sekolah, Arthur, dan apa yang aku katakan itu benar, jika dia pasti seorang gadis yang sedang mengincar pria kaya demi mencukupi keinginannya untuk hidup enak."


"Aku tidak seperti itu," ujar Kiara marah.


"Lantas, apa maksud kamu mendekati Arthur? Dia pria kaya raya dan segalanya dia miliki. Kamu tidak mungkin jatuh cinta. Bisa jadi kamu jatuh cinta karena memang Arthur pria yang memiliki wajah tampan, tapi pasti yang utama adalah hartanya yang kamu inginkan."


"Mas Arthur itu adalah--." Kiara terdiam, dia tidak mungkin mengatakan jika Arthur adalah suaminya karena pria bernama Jhon itu pasti akan memberitahu kedua orang tua Arthur.


Arthur berdiri dari tempatnya dan berjalan mendekat pada Jhon. "Mau kamu apa datang ke sini? Setahuku, aku tidak ada urusan lagi denganmu."


"Arthur, aku ke sini meminta agar kamu tidak membuat perusahaanku menjadi bangkrut, aku memiliki keluarga yang harus aku penuhi kebutuhannya."


"Keluarga? Sejak kapan kamu memikirkan tentang keluargamu? Bukannya uang yang kamu hasilkan hanya untuk bersenang-senang dengan wanita yang kamu sukai. Kamu pria menjijikan dan nikmati saja apa yang sekarang terjadi padamu. Sekarang pergi dari sini!" Arthur mengusir pria itu dengan ketus.


Jhon melihat pada Kiara dan kemudian dia melihat ke arah Arthur. "Gadis itu hanya gadis yang bisa kamu dapatkan di manapun, dan hanya karena dia, kamu sudah merusak hubungan kerja sama yang selama ini kita jalin."


"Karena dia aku tau, orang seperti apa kamu dan aku lebih baik tidak melanjutkan berkerja sama denganmu. Sekarang pergi dari sini!" usir Arthur sekali lagi.


Jhon tampak marah dan segera berjalan pergi dari sana. Kiara segera berlari kecil memeluk suaminya. Entah kenapa dia takut melihat wajah marah dari Jhon.


"Dia kelihatannya sangat marah padamu, Mas, dan semua ini karena aku."


"Bukan salah kamu, dia memang perlu diberi pelajaran agar menghargai seorang wanita, terutama istrinya yang suka sekali dia sakiti hatinya dan aku tau semua setelah aku menyuruh orangku mencari tau siapa orang yang akan bekerja sama denganku, walaupun ayahku sendiri yang memperkenalkannya."


"Tapi apa yang kamu lakukan tidak terlalu kejam? Benar apa yang dia katakan, bagaimana keluarganya jika perusahaanya kamu buat bangkrut dan para karyawannya.


"Aku mengambil alih perusahaannya dan keluarganya aku sudah mengurusnya dengan baik tanpa sepengetahuannya. Aku berharap dia nanti akan bisa berubah lebih baik setelah semua yang terjadi, dan dia bisa sadar siapa yang ada di sisinya saat dia seperti ini."


"Apa dia tidak akan berbuat buruk sama kamu, Mas?" Kiara masih memeluk suaminya erat.


Arthur tersenyum kecil. "Aku tidak takut padanya Kiara. Kamu tenang saja." Kiara mengangguk perlahan. "Sekarang aku akan menyelesaikan pekerjaanku dan kita segera kembali ke apartemen, bukannya kamu mau melihat tulisan yang ditulis oleh Elang."


Kiara menarik dirinya melihat wajah suaminya yang tampak tersenyum seolah menggoda Kiara. Kiara kembali memeluk erat suaminya.


Tepat pukul dua siang mereka pulang ke apartemen dan Arthur sudah memesan makan siang di dekat apartemennya untuk dikirim ke tempatnya.


Di dalam kamar Kiara melihat tulisan yang dibuat oleh Elang. "Elang ini! Kenapa dia malah menulis hal semacam ini?" Kiara mencoba menghilangkan dengan mengusap-usap dengan tangannya, tapi tidak bisa hilang.


"Biarkan saja, Kiara. Kalau kamu mencucinya, nanti tulisan dari teman-teman kamu juga ikut hilang," kata Arthur yang baru saja keluar dari kamar mandi.


"Tapi aku tidak suka dia menulis seperti ini."


"Seragam itu nantinya kamu simpan terus, kan, jadi tidak perlu kamu permasalahan. Aku juga tidak mempermasalahkan hal itu. Sekarang kamu mandi saja dan kita makan siang bersama."


"Kamu tidak marah sama sekali karena masalah ini, kan?"


Arthur menggeleng pelan kemudian mengecup perlahan pucuk kepala Kiara. Kiara lebih tenang sekarang karena jujur saja dia tidak mau membuat suaminya merasa tidak nyaman dengan hal yang berhubungan dengan Elang.