Be Mine

Be Mine
Mengunjungi Dean part 1



Setelah Arthur berangkat kerja, Kiara di apartemen sendirian. Dia menghabiskan waktu dengan membaca buku dan menonton film sampai nanti Bibi Yaya datang.


Tidak lama ponsel Kiara berdering dan Kiara melihat ada nama Momo di sana.


"Halo, Momo!" seru Kiara senang.


"Kiara, aku kangen sama kamu, kenapa kamu tidak pernah menghubungiku?"


"Maaf, aku sangat sibuk di sini. Lagi pula besok kita juga bertemu. Besok kita sudah mulai masuk kuliah dengan normal. Aku tidak sabar menunggu hal itu."


"Iya. Oh ya! Kamu tidak ada di kampus, rasanya tidak enak sekali, apa lagi aku tiap hari harus melihat si nenek sihir itu."


"Kak Delia? kamu sendiri sekarang tidak ada kegiatan atau tugas?"


"Tidak, kita free. Aku capek sekali karena tadi kena hukuman, dan kamu tau? Hukuman apa yang si nenek sihir itu berikan?"


"Memangnya apa hukumannya?" tanya Kiara penasaran.


"Aku disuruh melompat seperti katak sembari menirukan suara katak. Apa tidak keterlaluan? Belum lagi kita harus mengitari lapangan dengan tetap melompat katak. Capek banget, kan?"


"Y ampun! memangnya kamu melakukan kesalahan apa sampai akhirnya kamu mendapat hukuman?"


"Aku hanya keceplosan memanggil si Delia itu dengan sebutan nenek sihir dan aku akhirnya kena hukuman. Huft! Coba kamu masuk kuliah, pasti enak aku ada temannya pas terkena hukuman."


"Apa? Dasar kamu itu keterlaluan! Masak mencari teman untuk sama-sama menjalani hukuman!"


Terdengar suara Momo tertawa dengan kerasnya. "Setidaknya, aku tidak sendirian menjalani hukuman itu, Kiara."


"Sukurin! Niat kamu tidak baik, makanya kamu menjalani hukuman itu sendirian."


"Tega sekali nyukurin aku. Awas saja nanti kalau masuk kuliah, aku tidak belikan bakso."


"Ngambek!"


Tidak lama bibi Yaya datang dan dia melihat Kiara sedang berada di dapur.


"Kamu sedang apa, Kiara?"


"Bibi Yaya, aku sedang membuat puding susu dengan rasa leci. Entah kenapa aku ingin sekali makan buah leci."


"Kenapa tidak tunggu Bibi Yaya saja?" Bibi Yaya mengambil alih tugas Kiara menuangkan puding ke dalam cetakan.


Kiara sengaja membuat puding agak banyak karena dia mau membawanya ke tempat Dean.


"Bi, aku mau berganti dulu dan bersiap-siap. Bibi sudah diberitahu oleh Mas Arthur, kan?"


"Iya, Bibi sudah diberitahu sama suami kamu. Sekarang kamu bersiap-siap dan akan bibi tunggu sekaligus menyelesaikan pekerjaan yang masih ada ini.


Kiara yang sudah bersiap berangkat ke tempat Dean, dan dia juga sudah membawakan puding rasa leci yang Kiara tau jika Dean juga menyukai buah leci.


"Bi, aku tadi sangat amat terkejut saat mas Arthur menceritakan siapa bibi Yaya. Bibi Yaya memang sangat keren. Bibi dan suami pasangan yang benar-benar sempurna."


"Pujian kamu sangat berlebihan, Kiara. Aku biasa saja karena hal itu."


"Tuch, kan! Bibi itu selalu tampil dengan apa adanya." Bibi Yaya hanya menanggapi dengan senyuman.


Tidak lama mereka sampai di tempat Dean. Kiara menekan bel pintu dan tidak lama. seseorang membukakan pintunya.


"Mba Manda? Mba Manda kenapa?"


Kiara agak kaget saat yang membukakan pintunya adalah Manda, dan Manda yang berdiri di depan Kiara sedang memegangi hidungnya yang berdarah.


"Kiara, aku tidak apa-apa. Sebaiknya kamu masuk saja dulu karena Dean dari tadi menanyakan kamu."