Be Mine

Be Mine
Berpura-pura



Kiara mengatakan jika dia sering merepotkan Mega, mamanya dan juga Arthur. Bukankah Kiara sering merepotkan Arthur juga dan kemarin mamanya yang memberi dia sejumlah uang untuk digunakan sebagai kebutuhan acara pengajian ibunya.


"Aku belum membantu kamu apapun, tapi malah aku terus yang menyusahkan kamu."


"Jangan bicara seperti itu, Kiara. Kamu sudah membantuku sangat besar dan aku tidak akan melupakan apa yang sudah kamu lakukan."


Kedua alis Kiara mengkerut. "Membantu kamu hal yang sangat besar? Memangnya aku membantu apa? Perasaan aku tidak pernah membantu kamu apa-apa." Kiara terlihat bingung.


"Ada, tapi mungkin kamu tidak sadari. Sudahlah, sekarang kamu makan dulu rotinya dan habiskan teh hangat ini agar kamu bisa menghadapi ujian selanjutnya."


"Aku pasti bisa karena semalam aku belajar semua materinya yang mungkin hari ini keluar."


Kiara teringat akan Arthur yang dengan baik dan telatennya membacakan rangkuman serta latihan soal yang Kiara sudah tulis. Arthur juga membetulkan jawaban soal milik Kiara yang jawabannya salah.


Kiara mengakui kalau suaminya itu pria yang pintar. "Kiara, kamu melamun terus. Kamu melamun Elang, Ya?"


"Siapa yang melamun Elang? Aku tidak melamun dia."


"Kalau begitu kamu melamun siapa? Hanyo mengaku!" Mega malah menggelitik sahabatnya itu.


"Mega, jangan seperti itu, aku geli sekali." Mereka berdua malah tertawa dengan senangnya.


Tok... tok


Terdengar suara ketukan pintu di kelas Kiara. Dua orang gadis yang memang hanya mereka berdua yang berada di dalam kelas tampak kaget dan langsung menoleh ke arah suara itu.


"Morgan? Ada apa kamu ke sini?"


Siswa laki-laki berperawakan tinggi besar dan memilih wajah blasteran itu berjalan masuk mendekati dua gadis yang ada di sana.


"Mega, apa boleh aku meminjam sesuatu sama kamu?"


"Pinjam? Kamu mau meminjam apa?"


"Ehem ...." Kiara malah seolah menggoda sahabatnya itu.


"Kiara! Jangan bertingkah aneh. Aku dan Morgan tidak ada apa-apa. Kamu itu mau pinjam apa, sih Mo?"


"Kok Mo sih? Memangnya aku sapi kamu panggil Mo?"


"Nama kamu Morgan, kan? Jadi apa salahnya kalau aku panggil Mo?"


"Terserah kamu, deh! Aku anggap itu nama panggilan sayang kamu ke aku," celetuknya.


"Apa?" Mega tampak mendelik kaget.


"Wah ...! Panggilan sayang." Tangan Kiara menyenggol lengan tangan Mega.


"Morgan! Sudah cepat katakan saja, kamu ke sini mau meminjam apa?"


"Aku mau meminjam buku catatan matematika kamu untuk aku foto copy dan buat belajar. Besok bukannya ulangan terakhir kita. Ulangan terakhir, tapi yang paling sulit mata pelajarannya," omelnya.


"Makannya kamu belajar kalau ingin bisa mengerjakannya." Mega mengambilkan buku catatan matematika dari dalam tasnya dan memberikan pada Morgan.


"Kenapa tidak meminjam punyaku saja?" tanya Kiara hanya ingin tau jawaban Morgan.


"Tulisan Mega rapi dan bagus. Aku membacanya lebih mudah."


"Jadi, maksud kamu tulisan aku tidak bagus? Jelek begitu?"


"Bukan jelek, tulisan kamu bagus, tapi aku lebih senang meminjam buku Mega. Lagi pula kamu tidak membawa tas, kan hari ini?"


"Iya, aku hanya membawa alat tulis saja. Aku bertanya seperti itu hanya ingin tau jawaban kamu saja. Penasaran." Kiara tersenyum kecil.


"Kenapa membawa nama Elang. Aku dan Elang memang sudah putus, tapi aku juga tidak akan mudah kamu rayu."


Laki-laki di depan Kiara itu tertawa dengan kerasnya mendengar kalimat yang dilontarkan oleh Kiara.


"Iya, kamu tidak tidak mudah aku rayu karena kamu sudah memiliki kekasih baru, kan?"


"Kekasih baru?" Mega dan Kiara tampak sama-sama terkejut.


"Kekasih baru? Apa maksud kamu dengan kekasih baru Kiara?" tanya Mega penasaran.


Kiara juga bingung dengan apa yang Morgan katakan. "Aku tidak punya kekasih baru?"


Kiara memang tidak punya kekasih, tapi dia punya suami.


"Jangan bohong, Kiara. Aku tadi melihat kamu turun dari mobil mewah berwarna hitam, tapi kamu turun agak jauh dari gedung sekolah. Ayo ...! Kamu sama siapa? Apa kamu sedang berkencan dengan om-om kaya ya?"


"Enak saja kalau bicara! Aku tidak serendah dan seburuk itu, Morgan!"


"Iya, ini mulutnya sadis sekali. Temanku itu baik dan dia dari keluarga baik-baik. Tidak mungkin Kiara seperti itu."


"Aku minta maaf. Keceplosan, Kiara. Lantas, itu mobil siapa?"


"Iya, Ara. Kamu naik mobil siapa? Bukannya kamu berangkat sekolah naik angkutan umum." Mega sekarang melihat penasaran pada Kiara. Kiara bingung harus menjawab apa sekarang. "Apa itu Kakakku Arthur?"


"Iya, dia kakak kamu, Mega. Tadi saat aku menunggu angkutan umum, mobil dia lewat di depanku dan kemudian menawariku untuk ikut dengannya."


"Oh, begitu. Tapi, tadi dia kenapa seolah biasa saja dan tidak cerita sudah mengantar kamu ke sekolah. Dis juga aku beritahu kalau kamu sakit, dia biasa saja. Apa dia tidak melihat wajah pucat kamu saat di mobilnya?"


"Kenapa dia harus memperhatikan aku? Aku ini bukan siapa-siapanya, Mega, dan aku memintanya untuk menurunkan aku di tempat yang agak jauh dari gedung sekolah karena takut dia akan mendapat malu karena mengantar anak gadis yang masih sekolah."


"Dia tidak akan malu, Kiara. Morgan yang mengantar Kiara itu adalah kakakku. Dia bukan om-om kaya yang suka mencari sugar baby. Kakakku itu pria yang baik."


"Oh ... jadi dia kakak kamu. Kalau dia tampan, pacaran saja sama dia, Kiara. Dari pada harus berpacaran sama Elang yang diam-diam playboy."


"Apa maksud kamu?"


Morgan tidak menjawab, dia langsung pergi dari sana, apa lagi bel masuk juga sudah terdengar beberapa kali.


Kegiatan ujian mata pelajaran kedua dimulai. Semua anak-anak kembali fokus dalam mengerjakan soal ujian itu.


Saat bel pulang berbunyi. Mega menghampiri meja Kiara sekali lagi. "Kita pulang sekaran. Arthur tadi sudah mengirim pesan jika dia sudah berada di tempat parkir menunggu kita. Dia cepat sekali."


Tentu saja Arthur datang lebih cepat karena dia memang dari tadi menunggu Kiara di sana. Arthur tidak mau pulang sebab dia tidak mau meninggalkan Kiara yang keadaannya masih belum sehat. Arthur takut jika Kiara kenapa-napa saat di sekolah.


Mega dan Kiara berjalan menuju parkiran di mana Arthur berdiri di depan mobilnya sembari menghubungi seseorang.


"Kakak sudah lama menungguku?"


"Tidak juga." Sekarang pandangan mata Arthur tertuju pada Kiara. "Kata Mega kamu sedang sakit. Apa sekarang sudah baik-baik saja?"


"A-ku hanya demam, tapi sekarang sudah baikkan." Mereka berpura-pura seolah baru bertemu.


"Tapi kamu pucat sekali, apa kamu masih demam?" Tangan Arthur menyentuh dahi Kiara guna memastikan bahwa gadis yang adalah istri rahasianya baik-baik saja.


Kiara diam saja saat telapak tangan Arthur menyentuh pada dahinya. "Aku tidak apa-apa, Arthur."


"Aku tadi juga memeriksanya, tapi memang tidak panas, hanya saja wajahnya masih tampak pucat."


Elang yang berdiri di sana dengan Morgan tampak menahan marah. Kedua tangannya mengepal erat ingin sekali menonjok wajah Arthur.


"Itu kakaknya Mega, ya? Aku tadi melihat dia mengantar Kiara sekolah. Selera Kiara bagus juga, dia putus dari kamu dan sekarang mendapatkan pria yang lebih segalanya lebih matang. Kakak Mega itu juga sangat tampan," ucap Morgan.