
Kiara mengikuti mata kuliah dengan amat senang, dia pun sangat fokus mendengarkan apa yang dosennya jelaskan.
"Kamu rajin dan rapi sekali, tulisan kamu juga bagus." Momo memuji saat dia melihat buku catatan Kiara.
Mereka ini sudah jam istirahat, tapi Kiara tidak mau keluar kelas. Dia lebih memilih menikmati bekalnya di dalam kelas.
"Momo, nanti aku mau pinjam buku catatan kamu kelas kemarin yang aku tidak masuk."
"Tenang saja, nanti aku pinjamkan sama kamu. Kamu itu sedang hamil, tapi semangat sekali untuk belajar."
"Iya karena bisa kuliah adalah cita-citaku dan juga mendingan ibuku. Aku sangat senang bisa berkuliah meskipun dalam keadaan hamil."
Kiara di sana berbicara dengan Momo sambil menikmati bekal makan siangnya. Momo terlihat senang melihat Kiara menikmati makanannya dengan wajah puas.
"Kiara, kamu ada hubungan spesial ya sama Kak Kiano? Eh, bukannya aku dengar kamu sudah menikah, kenapa malah menjalin hubungan dengan Kak Kiano?" Tiba-tiba ada teman satu kelas Kiara datang menghampiri meja Kiara dan bertanya seperti itu.
Kiara yang baru saja memasukkan makanannya ke dalam mulut tampak tercengang.
"Kiara itu tidak ada hubungan apa-apa dengan Kiano, lagipula memangnya kenapa kalau Kiara sudah menikah dan bertemu baik dengan Kiano? Apa hal itu dilarang?" tanya Momo terlihat kesal.
"Tentu saja hal itu tidak boleh, Momo karena Kiara seorang istri dan tidak baik jika memiliki hubungan walaupun hanya pertemuannya dengan pria lain, apa Kiara mau dicap sebagai istri yang tidak baik."
"Pikiran mereka itu yang tidak baik. Kiara hanya berteman saja sama Kiano, mereka pikirannya yang jelek. Apa Kiara tidak boleh punya teman setelah dia menikah? Kan tidak harus seperti itu."
"Kalian jangan malah bertengkar. Citra, aku dan Kak Kiano hanya kenal biasa saja, lagi pula Kak Kiano adalah sepupunya Momo, jadi aku juga kenal dan aku tidak ada hubungan apa-apa. Sudah ya kalian jangan malah ribut."
"Aku cuma mengingatkan kamu saja, Kiara agar tidak dicap jelek nantinya."
"Aku berterima kasih sama kamu, Citra. Aku akan terus berusaha menjadi istri yang baik untuk suamiku." Kiara tampak tersenyum.
Gadis bernama Citra itu tampak berjalan pergi dari meja Kiara. Wajah Momo masih tampak kesal.
"Dia itu sebenarnya iri karena dia ngefans sama Kiano, sayangnya dia bukan tipe Kiano."
"Sudahlah, Momo. Apa yang dikatakan Citra d itu juga benar. Mas Arthur saja saat tau aku membawa botol termos milik Kiano, dia langsung cemburu, bahkan kami sempat ribut kecil waktu itu, bagaimanapun juga seorang suami juga tidak akan suka melihat istrinya dekat dengan pria lain, walaupun hanya berteman. Aku juga begitu sama suamiku, tapi aku lebih melihat dulu hubungan seperti apa yang Mas Arthur dan wanita itu jalin."
"Huft, ternyata menikah juga merepotkan juga. Aku suka memiliki banyak teman, kalau harus dikekang seperti itu setelah menikah, aku jadi mikir seribu kali kalau mau menikah."
Kiara membereskan tempat makannya dan dia melihat datar pada Momo. "Jangan menganggap pernikahan itu seperti saat kita masuk rumah hantu. Pernikahan itu hal yang indah jika dua orang di dalamnya bisa saling mengerti, setiap hari memupuk perasaan cinta, kalau tentang kita tidak boleh berteman dengan pria lain, itu bisa dibicarakan baik-baik karena kita juga harus bisa menjaga kehormatan kita sendiri sebagai istri dan juga keluarga. Jangan disamakan dengan kita dulu yang masih hidup sendiri karena ada perasaan yang harus kita jaga. Perasaan orang yang akan hidup bersama kita sampai kakek nenek kelak."
"Benar juga yang kamu katakan, Kiara. Eh, tapi jujur aku senang sekali melihat kamu saat bersama suamimu. Kalian itu vibes positif banget."
"Terima kasih pujiannya."
"Kiara, kita ke kantin yuk! Aku mau beli es mocca sama makan bakso, kamu kan sudah makan, aku lapar, Kiara."
Kiara terkekeh melihat ekspresi wajah Momo. "Salah sendiri, kenapa tidak kek kantin tadi?"
"Aku tadi sebenarnya tidak lapar, tapi saat melihat kamu makan, aku jadi lapar."
"Ya sudah, aku juga mau beli jus alpukat."
"Ya ampun! Kamu mau beli jus? Apa tidak kenyang itu perutnya?"
Kiara menggeleng. "Kamu lupa kalau aku ini sedang hamil, jadi ada dua orang yang menikmati makanan yang aku makan."
"Kiara, aku lupa mengambil ponselku, kamu tunggu saja di luar."
"Iya, Momo, aku tunggu di depan kelas saja."
Kiara melangkah keluar pintu kelasnya, sedangkan Momo kembali ke mejanya untuk mengambil ponselnya.
"Kiara, awas!"
Kiara ditarik dengan cepat tangannya oleh lelaki yang berteriak dan dia masuk ke dalam pelukan pria itu.
Prang!
Momo yang tadi berlari keluar kelas tampak terkejut saat melihat ada pot bunga yang ada di lantai atas tepat di bawa kelasnya jatuh dengan keras sampai pecah.
Semua yang di sana tampak tercengang melihat kejadian itu.
"Kiara, kamu tidak apa-apa?" tanya Momo yang langsung menghampiri Kiara.
Kiara yang tersadar masih dipelukan seseorang seketika mendongak dan dia melihat wajah Kiano yang tampak cemas.
"Kamu tidak apa-apa, Kiara?"
"Kiano? Aku tidak apa-apa. Bisa tolong lepaskan aku?"
Kiano tersadar jika dia dari tadi memeluk Kiara. "Kiara, aku minta maaf. Aku tadi mau ke kelas kalian, tapi aku lihat pot bunga itu malah jatuh.
"Kamu tidak apa-apa? Aku benar- benar minta maaf tadi aku tidak sengaja sedang bercanda dengan temanku."
Kiano langsung menatap tajam pada lelaki yang ternyata adalah orang yang menjatuhkan pot bunga itu, dia bilang tidak sengaja menjatuhkan pot bunga itu saat bercanda dengan temannya.
"Dasar tidak tau diri!" Kiano dengan cepat mencengkeram kra baju pria itu.
"Hei, tenang! Aku tadi bilang jika aku tidak sengaja." Tangan lelaki itu mencoba melepaskan cengkraman tangan Kiano.
"Enak saja kamu tinggal bilang tidak sengaja! Bagaimana jika kebodohanmu itu sampai melukai orang lain, apa lagi Kiara itu sedang hamil."
Bruk!
Lelaki itu langsung jatuh tersungkur ke tanah karena mendapat pukulan Kiano. Kiano terlihat sangat marah sampai dia tidak bisa mengendalikan dirinya.
"Kiano, sudah!" Momo mencoba melerai dua orang yang sedang bertengkar.
Lelaki yang dipukul Kiano itu berdiri dengan memegangi bibirnya yang mengeluarkan darah.
"Kamu suka sama dia? Pantas saja sikap kamu berlebihan seperti itu."
"Dasar bodoh!" Kiano sekali lagi mencoba mencengkeram kra baju lelaki itu, tapi Momo berhasil menarik mundur dua orang yang bertengkar itu.
""Kiano, sudah! Kenapa kamu malah bertengkar seperti ini?"
"Dia ini orang yang sangat bodoh! Aku akan menolong siapapun jika aku melihat dia dla.a keadaan bahaya. Apa kamu terlalu bodoh sehingga tidak paham masalah ini?"