Be Mine

Be Mine
Apa Dia Elang?



Kiara menunggu panggilannya dijawab oleh Arthur, dan tidak lama suara Arthur akhirnya terdengar juga.


"Ada apa, Sayang? Maaf tadi aku sedang ada rapat."


"Apa aku mengganggu kamu, Mas?"


"Tidak karena rapatnya baru saja selesai. Ada apa kamu menghubungiku? Apa kamu sudah pulang?"


"Mas, apa aku boleh minta izin sama kamu?"


"Izin? Izin apa?"


"Hari ini aku tidak ada kelas, tapi Momo ingin mengajak aku jalan-jalan di Mall dekat kampus dan sekalian kami mau nonton bioskop."


"Jadi kamu tidak ada kelas?"


"Iya karena beberapa hari lagi kampusku akan dibuat acara bazzar amal, jadi sekarang Kakak angkatan aku dan beberapa dosen sedang mempersiapkan hal itu. Mas, boleh tidak aku pergi dengan Momo?"


"Kalau mau jalan-jalan, nanti jalan-jalan sama aku saja dan kalau mau nonton bioskop, bukannya kamu bisa melihat di apartemen saja. Kamu mau lihat film apa, nanti aku carikan."


"Mas ini! Kalau nonton di rumah beda walaupun kamu punya layar sebesar bioskop itu, lagi pula aku juga tidak pernah jalan-jalan sama temanku. Sebentar saja, Mas."


Arthur terdiam di tempatnya. Dia itu sangat protektif pada Kiara sejak Kiara hamil. "Mas! Kenapa diam saja?"


"Kamu hanya pergi jalan-jalan dengan Momo saja?"


"Tentu saja, Mas! Apa Mas berpikir aku pergi dengan Kiano juga?" Kedua alis Kiara mengkerut.


"Mereka, kan saudara sepupu. Bisa saja, kan?"


"Aku wanita yang paling bodoh kalau harus selingkuh dengan Kiano."


"Maksud kamu?"


"Maksud aku, kalau aku berniat selingkuh, aku harus mencari yang ada di atasnya Mas Arthur. Kaya rayanya, baiknya, gantengnya, sayangnya, dan matangnya. Kiano masih kalah semua sama Mas Arthur."


Momo yang mendengar percakapan Arthur dan Kiara malah menggeleng-gelengkan kepalanya.


Lain halnya dengan Arthur. Suaminya Kiara itu malah tertawa mendengar pujian istrinya. "Ya sudah, kalau begitu kamu boleh pergi dengan Momo, tapi nanti aku yang menjemput kalau sudah pulang dan orang suruhanku akan terus mengawasi kamu. Jangan membantah."


Kiara yang awalnya kegirangan karena diperbolehkan pergi dengan Momo mendadak agak kecewa mendengar kalimat terakhir suaminya, tapi dia seperti apa yang Arthur katakan. Dirinya tidak bisa membantah lagi dan akhirnya menurut saja.


"Bagaimana, Kiara?"


"Boleh, tapi tetap saja aku diawasi oleh orang suruhan suamiku."


"Yeah! Tidak apa-apa yang terpenting kamu tetap dibolehkan untuk pergi. Kita pergi sekarang saja."


Kiara dan Momo pergi ke mall dekat kampus mereka dengan berjalan kaki karena memang jaraknya yang tidak terlalu jauh. Sampai di sana mereka segera menuju ke lantai atas untuk menonton bioskop.


"Jangan melihat film romantis, Kiara. Aku belum punya pacar, pasti geli sendiri aku nanti kalau melihat dua orang yang romantis-romantisan."


"Terus? Kamu mau melihat film apa? Horor? Tidak mau!"


Momo tampak berpikir sejenak. "Kita lihat apa kalau begitu?" Momo melihat daftar film yang ada di depannya.


"Film kartun saja?"


"Hah? Kartun? Memangnya kita anak kecil yang pergi ke bioskop dengan orang tuanya untuk melihat film kartun?"


"Ampun dah! Ribet amat ngajak bumil nonton ini." Momo akhirnya memilih melihat film drama keluarga yang hari itu juga sedang tayang.


"Momo, beli tiga tiketnya sama aku mau membelikan pengawalku itu."


"Hah?" Momo sampai melongo.


Setelah mendapat tiket Kiara minta beli popcorn dan makanan yang akan dia bawa masuk ke dalam ruangan.


"Kiara, kita cuma melihat film yang durasinya hanya dua jam saja, dan kamu membeli makanan sebanyak ini." Momo matanya mendelik melihat makanan yang dibeli oleh Kiara.


"Kamu lupa kalau aku ini dua orang, yang di dalam perutku juga perlu menyamil, lagi pula rotinya aku lihat enak sekali." Kiara meringis lucu.


"Terserah kamu sajalah!" Momo memutar bola matanya jengah.


Kiara ternyata membeli makanan tidak hanya untuk dirinya dan Momo, tapi dia memberikan pada pengawal yang mengikutinya agar bisa dinikmati di dalam ruangan.


"Jangan lupa dibuang di tempat sampai plastik makannya ya."


Momo yang melihatnya tersenyum. Dia tidak salah menganggap Kiara orang yang benar-benar baik.


Mereka masuk ke theater satu dan film pun di mulai. Kiara menikmati film yang dia lihat, bahkan dia sampai menangis karena cerita film itu yang memang sangat mengharukan.


"Kenapa juga aku memilih film sedih begini? Tau begitu aku melihat film kartun saja." Momo menghapus air matanya yang menetes dari tadi.


Kiara yang melihat Momo tampak sedikit terkejut. "Kamu bisa menangis juga ternyata, aku kira kamu bakalan tidak memiliki reaksi dengan film bagus ini."


"Entah kenapa aku melihat film ini membayangkan diriku yang menjadi orang tua anak itu."


"Aku bisa belajar dari film ini. Menjadi orang tua itu hal yang sangat-sangat sulit, apa lagi jika masalah ekonomi juga kurang. Perjuangan orang tua anak itu benar-benar hebat. Kalau sebagai orang tua mudah menyerah, lalu mau jadi apa anak kita kelak?"


"Benar juga, aku juga bisa belajar dari film ini untuk menjadi orang tua suatu hari nanti."


"Ya sudah, sekarang kita keluar dan aku mau pergi ke restoran yang ada di dekat wahana permainan anak."


"Hah! Apa kamu lapar? Kiara, kamu sudah menghabiskan lima roti isi dan popcorn jumbo, sama coklat hangat! Masih mau makan?"


"Siapa yang mau makan di restoran? Aku mau membeli salad sayur untuk suamiku, tadi aku melihat ada gambar salad sayur sebagai menu baru di restoran itu. Jadi, aku mau mencoba membelikan untuk suamiku."


"Ya sudah kalau begitu kita ke sana."


Kiara berjalan dengan Momo sembari bercanda, tapi saat Kiara hendak menuju pintu utama restoran itu, langkahnya terhenti karena dia baru saja melihat orang yang dia kenali keluar dari dalam restoran di mana dia akan membeli salad sayur.


"Elang? Itu Elang, kan?" Kedua alis Kiara hampir saja menyatu karena melihat penasaran pada dua orang yang sedang bergandengan tangan mesra berjalan membelakangi Kiara.


"Kiara, ada apa?" tanya Momo yang heran melihat Kiara.


"Elang sama siapa? Sepertinya bukan Mega." Kiara tiba-tiba berlari kecil mengejar laki-laki dan seorang wanita yang sedang berjalan dengan tangan si wanita memeluk lengan lelaki yang Kiara anggap sebagai Elang.


"Kiara, kamu mau ke mana?" Momo ikut mengejar Kiara yang tiba-tiba saja berlari.


Kiara terus saja berlari kecil ingin memastikan jika memang Elang yang dia lihat. Dia mencari di mana lelaki tadi, tapi sepertinya dia kehilangan dua orang itu.


"Nyonya Kiara, Awas!"


Tiba-tiba Kiara kaget tangannya ditarik dengan cepat oleh pengawal suruhan suaminya.