Be Mine

Be Mine
Salah Paham part 2



Arthur sesampai di apartemen langsung membawa Kiara naik ke dalam lift menuju lantai unit apartemennya tanpa melepaskan gandengan tangannya.


Kiara hanya diam saja mengikuti ke mana Arthur membawanya karena dia tau ini suaminya sedang marah padanya.


"Arthur, kamu juga ikut pulang?" tanya Bibi Yaya yang hanya dijawab deheman oleh Arthur.


Bibi Yaya yang melihat wajah Arthur seperti sedang menahan kesal hanya bisa diam saat Arthur berjalan melewatinya.


"Ada apa lagi ini? Kenapa pulang dari menjemput Kiara seperti itu wajahnya?"


Di dalam kamar Arthur melepaskan tangan Kiara dan sekarang dia menatap Kiara dengan sorot mata menunggu jawaban atas pertanyaannya tadi di kampus.


"Mas mukanya jangan begitu. Aku hari ini sudah mendapat hukuman yang berat, ditambah melihat Mas wajahnya seperti itu." Kiara mengerucutkan bibirnya.


"Tidak perlu masuk kuliah kalau begitu," jawab Arthur tegas.


"Kenapa selalu mengatakan hal itu? Mas, aku tidak mengatakan jika aku sudah menikah bahkan hamil karena aku masih menunggu waktu yang tepat. Nanti setelah kuliahku berjalan dengan normal, aku akan mengatakan segalanya. Aku masih menjalani OSPEK, Mas, dan aku tidak mau menjadi bahan tertawan mereka nantinya."


"Tidak ada yang akan menertawakan kamu, Kiara." Arthur merasa sedikit kecewa dengan istrinya. Dia memilih masuk ke dalam kamar mandi untuk berendam guna mendinginkan pikirannya.


Kiara yang tampak sedih dengan sikap suaminya hanya bisa duduk di tepi ranjang. "Aku tidak bermaksud menyembunyikan keberadaanmu, Mas. Aku itu sayang dan sangat mencintaimu," Kiara berdialog sendiri.


Beberapa menit kemudian. Arthur yang sedang berendam di bathtub, merasakan air di dalam bathubnya bergetar. Arthur membuka kedua matanya dan dia melihat wanita yang dia cintai sudah berdiri dengan tubuh polos di depannya.


"Aku mau menemani kamu berendam."


Arthur tidak menjawab, dia kembali memejamkan kedua matanya dengan kedua tangan yang membuka peregangan pada tepi bathubnya.


Kiara memilih tetap duduk saja tepat di depan Arthur. Dia menyandarkan punggungnya pada dada bidang suaminya.


"Sayang, ayah kamu marah sama ibu, padahal ibu tidak pernah berpikiran menyembunyikan status pernikahan ibu dengan ayahmu. Ibu, kan sangat mencintaimu ayahmu." Kiara mengusap perutnya sembari mengajak bayi kecil di dalam perutnya untuk berbicara.


"Aku tidak akan bisa marah sama kamu, Ara, hanya saja aku kesal! Kenapa tidak bicara sama jika kamu sudah menikah dan saat ini sedang hamil. Aku kesal jika nanti ada yang menganggap kamu masih sendiri dan akhirnya banyak yang menggodamu."


"Aku juga tidak akan peduli jika ada yang menggodaku, Mas. Perselingkuhan itu kan bisa muncul jika dua orang saling menyambut. Kalau aku tidak memperdulikan, tidak akan ada yang namanya selingkuh."


"Aku tidak menerima alasan apapun," ucap Arthur masih dengan sikap dinginnya dan tanpa membuka matanya.


"Kok begitu sih, Mas?" Kiara menengok ke belakang melihat wajah suaminya. Arthur masih saja memejamkan kedua matanya dengan memperlihatkan postur rahang tegasnya.


"Iya-iya! Besok akan aku katakan jika aku sudah menikah dan sekarang sedang mengandung anak kita." Kiara kembali ke posisinya bersandar pada dada suaminya.


"Gadis pintar." Arthur dengan cepat mengecup kepala bagian belakang Kiara dan sontak saja membuat Kiara kaget. Kiara menoleh ke arah belakang lagi melihat wajah suaminya yang sekarang tersenyum pada Kiara


"Aku membencimu calon ayah."


"Tapi aku sangat mencintaimu, calon ibu dari anakku." Arthur mendaratkan ciumannya tepat pada bibir Kiara, dan mereka pun berciuman di sana.


Beberapa menit kemudian, Kiara dengan handuk kimononya keluar dari dalam kamar mandi, dan diikuti oleh Arthur yang hanya memakai handuk pada bagian pinggangnya.


"Oh ya?" Arthur mendengarkan Kiara dengan memakai celana pendek dan kaos santainya.


"Iya, dan tadi aku mendapat--." Kiara dengan senang mencari sesuatu di dalam tasnya. Dia mengambil gambaran dena yang dibuat oleh Arthur dan membentangkannya. "Mendapat bintang besar." Kiara tersenyum.


"Itu apa, Kiara?" Kedua mata Arthur malah menangkap sesuatu yang terjatuh dari tas Kiara.


Saat Kiara melihat, dia sangat terkejut karena saputangan milik Kiano yang dia mau sembunyikan malah terjatuh di sana.


"Ini bukan apa-apa, Mas." Kiara dengan cepat mengambil saputangan itu.


Arthur melihat gelagat istrinya yang tak biasa dan dia berjalan mendekati Kiara. "Apa itu? Aku mau lihat." Tangan Arthur meminta Kiara memberikan apa yang sedang dibawa oleh Kiara.


Kiara tampak bingung, dia takut suaminya akan marah lagi, padahal tadi barusan mereka baikkan.


"Mas, ini saputangan milik Kiano yang tadi dia pinjamkan untuk menghapus lipstik di bibirku," ucap Kiara dengan rasa takut, sembari memberikan saputangan yang dia pegang.


"Apa? Saputangan Kiano dan ini untuk menghapus lipstik kamu?" suara Kiano sudah meninggi. Tangannya meremas saputangan itu dengan kuat seolah dia sedang melumatkan sesuatu yang dia benci.


"Mas, dengarkan dulu."


"Aku benar-benar tidak percaya dengan semua ini, Kiara!" Arthur yang emosi memilih pergi dari hadapan istrinya agar dia tidak sampai lepas kendali.


Brak!


Kiara terkejut mendengar suara pintu di tutup dengan keras oleh Arthur. Bibi Yaya yang ada di sana mau memanggil Kiara dan Arthur tampak kaget mendengar hal itu. Dia berpapasan dengan Arthur, tapi pria dengan wajah marahnya itu tidak menengok sama sekali pada Bibi Yaya. Arthur hanya melewati bibi Yaya begitu saja.


"Mas Arthur kenapa marah seperti itu? Aku, kan bisa menjelaskan semua." Kiara duduk lemas di atas tempat tidur.


Bibi Yaya yang mendengar suara Isak tangis Kiara mengetuk pintu kamar Kiara dan Kiara menyuruhnya masuk.


"Kiara, ada apa?" Wanita paruh baya itu mendekat pada Kiara dan langsung dipeluk oleh Kiara.


"Mas Arthur kenapa tadi sikapnya seperti itu, Bi?" suara Kiara terdengar terbata.


"Memangnya ada apa lagi? Apa dia cemburu lagi sama pria bernama Kiano itu?"


Kiara mengangguk perlahan. "Tadi mas Arthur melihat saputangan milik Kiano yang ada bekas lipstikku, dan tanpa mau mendengarkan aku berbicara, dia malah pergi begitu saja, dan yang membuat aku sedih karena melihat sikapnya."


"Kamu tenang dulu, ini hanya salah paham dan tunggu saja dia tenang baru nanti kamu katakan semuanya sama dia." Tangan Bibi Yaya mengusap perlahan punggung Kiara guna menenangkan Kiara.


"Aku tidak pernah melihat Mas Arthur seperti ini. Dia membuatku sedih dengan sikapnya, Bi. Aku sangat mencintainya, seharusnya dia tau jika aku tidak akan bisa mengkhianatinya." Kiara kembali menangis dan kali ini tangisannya terdengar keras.


"Iya-iya. Sudah, Kiara, nanti pasti bisa diselesaikan dengan baik. Arthur mungkin sekarang juga butuh menenangkan dirinya. Kamu tenang saja dulu."


"Aku mau menemui Mas Arthur, Bi."