Be Mine

Be Mine
Belum Jatuh Cinta



Gio terlihat tertawa dengan senangnya mendengar cerita Arthur yang kemarin menginap di rumah Kiara.


"Kasihan sekali, seorang Arthur Maxian Lucas harus tinggal dan tidur di rumah yang sangat jauh dari kehidupan sehari-harinya, apa lagi dia dibilang tikus." Terdengar sekali lagi tawa dari Gio.


"Tidak ada yang lucu, Gio." Wajah Arthur terlihat kesal dengan tawa sahabatnya.


"Tentu saja lucu. Kamu itu benaran jatuh cinta sama Kiara ya, Pangeran Tikus?" Gio tertawa lagi.


"Jatuh cinta? Siapa yang jatuh cinta? Aku hanya melakukan janji yang aku ucapkan di depan mendiang ibunya Kiara, dan aku tidak mau istriku itu kenapa-napa."


"Masih belum mau mengaku."


"Memang aku belum tau perasaanku pada Kiara."


"Kalau sama Selena, bagaimana perasaanmu sekarang?"


"Biasa saja, aku malah tidak merasakan apa-apa lagi pada Selena." Arthur beranjak dari tempat duduknya dan mengambil suitnya.


"Kamu mau ke mana? Aku mau mengajakmu bertemu orang yang aku pilih menjadi manager di cafe yang kita buka bersama-sama itu."


"Jangan hari ini dan seminggu ke depan karena aku akan sibuk mengantar jemput Kiara, dia hari ini sampai seminggu ke depan sedang menghadapi ujian."


Gio menggeleng-gelengkan kepalanya tidak percaya dengan sikap sahabatnya itu. Arthur seolah sekarang lebih peduli dengan orang lain dibanding dulu yang cueknya minta diampuni.


"Kamu akan menginap lagi di rumah istrimu itu?"


"Sepertinya iya. Dia susah sekali diajak pergi ke apartemenku."


"Culik saja dia. Kamu bius dan bawa ke apartemenmu."


"Idemu bisa membuatku dibenci setengah mati oleh Kiara. Dasar! Mau menjerumuskan aku?


"Tidak ada cara lain menghadapi istrimu yang keras kepala itu. Eh, atau sebenarnya dia ingin bulan madu di rumahnya saja. Pasti seru tidur di ranjang kecil yang terbuat dari kayu, dan nanti bisa menimbulkan suara yang membuat orang yang mendengarnya panas dingin." Gio sekarang terkekeh dengan kerasnya.


"Halo, Kiara."


"Arthur ada apa?" suara Kiara terdengar lirih. Kiara ini berbicara di dalam kamar mandi di sekolahnya.


"Aku akan menjemputmu sekarang, kamu tunggu di tempat biasa."


"Kamu tau dari mana kalau aku sudah pulang?"


"Kiara, aku juga pernah sekolah sepertimu. Lagi pula Mega pernah bilang padaku."


"Arthur, apa bisa kamu tidak menjemputku hari ini? Mega mengajakku pulang bersamanya, dan kalau aku sering menolak dia pasti akan curiga nantinya."


"Ya sudah kalau begitu, kamu silakan pulang bersama dengan Mega. Hati-hati Kiara."


Kiara tampak lega menutup panggilan teleponnya. Dia segera kembali ke tempat parkir di mana Mega sudah menunggunya dari tadi.


"Lama sekali, kamu itu buang air kecil apa ketiduran di kamar mandi?"


"Maaf, Mega yang cantiknya sejagat raya." Kiara mencubit pipi Mega dengan gemas.


Mereka berjalan pergi dari sana. Tidak membutuhkan waktu lama, mobil Mega berhenti di depan rumah sederhana milik Kiara.


"Aku mampir boleh, kan? Aku malas di rumah sendirian." Mega menyandarkan punggungnya pada kuris yang ada di rumah Kiara.


"Tentu saja boleh. Kamu tunggu sebentar di sini dan aku akan membuatkan minuman yang enak buat kamu."


Kiara masuk ke dalam rumahnya karena dia ingin membuatkan minuman untuk Mega. Mega tampak mengedarkan pandanganya melihat isi rumah Kiara.


"Itu apa?" Kedua mata Mega menangkap sebuah benda yang tidak mungkin ada di rumah Kiara karena benda itu pasti tidak berguna untuk Kiara.