
Mega agak terkejut mendengar apa yang dikatakan oleh Elang. Tumben sekali Elang bersikap baik seperti hari ini, apa lagi dia ingin mengajak Mega berbicara berdua.
"Mega, sebaiknya aku ke kamar dulu, ya?" Kiara hanya melihat sekilas pada Elang dan berjalan pergi dari sana.
Kiara berharap apa yang akan Elang bicarakan dengan Mega adalah hal kebaikan untuk mereka berdua.
"Lang, kamu mau bicara apa?"
Tangan Elang menarik tangan Mega perlahan. Mega tampak mendelik tidak percaya jika Elang memegang tangannya.
"Lang, kamu sakit,ya? Atau kamu habis minum?" Mega melihat Elang penasaran.
"Aku baik-baik saja, Mega."
"Lalu, kamu kenapa?"
"Aku mau minta maaf sama kamu karena mungkin beberapa hari ini sikapku kasar sama kamu. Apa yang dikatakan oleh Kiara memang benar jika kamu tidak bersalah dalam hal perjodohan kita ini. Kamu orang yang baik."
"Lang, aku tau semua ini pasti berat untukmu. Aku juga berat harus menerima kamu menjadi calon suamiku apa lagi kamu mantan dari sahabat baikku, tapi aku berusaha menerima semua ini dan berusaha menerima kamu kelak menjadi suamiku. Aku harap kamu juga bisa melakukan hal itu, Lang."
Elang hanya terdiam tidak menjawab pertanyaan Mega. Dia hanya mengangguk perlahan.
"Mega, ini sudah malam, kamu tidurlah karena aku juga mau kembali ke kamarku. Selamat malam, Mega."
"Malam, Lang." Mega tampak tersenyum bahagia, dia tidak beranjak dari tempatnya melihat punggung Elang sampai pria itu hilang dibalik dinding.
Mega baru masuk ke dalam kamarnya dan Kiara melihat wajah bahagia dari sahabatnya itu.
"Ada apa ini? Kenapa wajah kamu ceria sekali?"
Mega tidak menjawab dia malah berbaring di samping Kiara, bahkan membelakangi Kiara. Kiara yang penasaran lantas mencoba membalikkan tubuh Mega, tapi Mega tidak mau Kiara melihat wajah bahagianya.
"Kamu kenapa sih, Mega?"
"Aku tidak apa-apa, aku mau tidur dan mimpi indah malah ini, Kiara. Kamu juga tidur saja." Mega menutup kepalanya dengan bantal.
"Apa Elang mengatakan sesuatu yang indah?"
"Besok saja aku cerita, aku mau mimpi indah dulu."
"Ya sudah kalau tidak mau cerita." Kiara akhirnya memilih tidur juga.
Di dalam kamarnya Elang duduk terdiam sembari memandang foto seseorang di dalam ponselnya.
"Gila! Kamu masih menyimpan foto Kiara di sana. Lang, sudah lupakan mantan kekasihmu itu."
"Aku tidak meminta saranmu." Elang tampak marah dan segera mematikan ponselnya. Dia berbaring di atas tempat tidurnya sembari sedang memikirkan sesuatu.
"Kamu kenapa? Eh, iya, tadi ponsel kamu berdering dan aku melihat ada nama mama kamu, kamu sudah menghubungi mamamu?"
"Aku sudah tau apa yang akan mamaku katakan."
Tiba-tiba Morgan dikejutkan bunyi benda dilempar dan itu adalah ponsel Elang yang dengan kerasnya Elang lempar sampai casingnya ada yang terlepas.
"Hei! Kamu gila ya, Lang? Ada masalah apa?"
Elang kembali bangun dari tempatnya dan sekarang dia duduk menunduk dan meremas kuat rambutnya.
Morgan bisa menduga, sepertinya temannya ini sedang berada pada dilemma yang rumit.
"Kenapa aku harus menjadi anak dari kedua orang tuaku itu? Kenapa juga aku harus bertemu Kiara dan jatuh cinta padanya. Kenapa?" teriaknya.
Morgan duduk di sebelah Elang dan tangannya menepuk pundak Elang beberapa kali sebagai bentuk dia ingin memberi sahabatnya itu semangat.
"Lang, jangan menyalahkan kehidupan karena kita tidak tau apa yang nanti akhirnya terjadi. Bisa saja kita mengira semua ini jahat untuk kita, tapi ternyata ada hal indah yang sudah menunggu kita."
"Hal itu bagiku hanya bisa bersama dengan Kiara, tapi untuk saat ini hal itu tidak akan bisa."
"Aku tau, bahkan aku yang sudah mencuri ciuman pertama."
Morgan langsung mendelik. "Maksudmu? Jadi, kamu pernah berciuman dengan Mega?"
"Iya. Gadis yang kamu lihat di dalam mobil sedang berciuman denganku itu adalah Mega."
"Brengsek benar kamu, Lang." Morgan tidak percaya dengan apa yang baru saja Elang katakan.
"Semua itu terjadi begitu saja, dan aku sedang terbawa suasana saat itu."
"Kamu dan Mega yang sudah berkhianat. Jangan menyalahkan Kiara lagi."
Elang kembali membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur. "Tapi aku tidak memiliki perasaan apapun pada Mega. Aku sangat mencintai Kiara walaupun selama pacaran dia susah sekali kalau aku mengajaknya berciuman."
"Ya sudah, sama Mega saja. Dia tau apa yang kamu mau." Morgan beranjak dari tempat duduknya dan menuju pintu keluar.
"Kamu mau ke mana?"
"Mencari gadis cantik anak kampung sini, siapa tau bisa aku jadikan pacar karena aku sudah bosnya berpacaran dengan anak satu sekolah kita."
***
Pagi itu Mega yang sudah bangun tampak sedang mencari sesuatu di koper bajunya. Kiara yang melihat segera bangun dan duduk di lantai bawah mendekati sahabatnya itu.
"Kamu cari apa?"
"Baju yang bisa aku gunakan untuk ke pantai hari ini."
"Itu satu koper kamu isinya baju semua ya?" Kiara melihat salah satu koper milik Mega hanya berisi baju-baju saja. Kiara saja satu koper isinya baju dan semua peralatan yang dia butuhkan, tapi Mega membawa dua koper dan satunya isi full baju, padahal mereka hanya berlibur selama tiga hari empat malam.
"Ini cocok sekali, dan satu lagi ini buat kamu Kiara."
"Buat aku? Tapi aku sudah bawa baju santai untuk ke pantai."
"Pasti bajunya norak dan tidak sesuai dengan temanya."
"Maksud kamu apa?"
"Mana baju kamu yang mau dipakai ke pantai?"
"Ada, itu celana pendek selutut dan kaos."
"Hem! Kamu mau main di kampung sebelah apa ke pantai? CK! Kamu itu gaya sedikit, calon suami bule, bajunya norak."
"Kekasihku itu malah orangnya sederhana."
"Malas berdebat sama kamu pagi-pagi. Sekarang kamu mandi dan pakai baju yang aku berikan ini."
"Mini dress ini terlalu pendek, apa lagi lengannya juga terbuka begini."
"Aku juga pakai, dan aku kemarin tanya teman-teman kita juga sudah sepakat memakai mini dress, kita nanti kita foto bersama biar terlihat kompak dan keren."
"Tapi--."
"Berisik! Cepat mandi dan ganti bajunya."
Satu jam kemudian, Kiara dan Mega yang sudah siap tampak berdiri di depan cermin. Kiara tampak diam saja memperhatikan dirinya dengan baju yang terlihat sexy, tapi terkesan manis.
"Kenapa aku terlihat manis begini?"
"Sudah aku bilang, kan. Kamu itu pantas memakai baju itu," ucap Mega sembari memutar-putar tubuhnya berkaca di depan cermin.
Kiara sekali lagi melihat dirinya di depan cermin dan dia tampak senang melihat dirinya sendiri. Dalam hatinya, dia berpikiran bahwa suaminya pasti senang melihat penampilannya nanti. Suaminya pasti akan memujinya. Kiara malah nyengir sendirian di depan kaca.
"Sudah dibilang bagus tidak percaya," celetuk Mega melihat Kiara tersenyum sendirian.