Be Mine

Be Mine
Idola Anak Sekolah part 2



Beberapa jam mereka berada di sana semua murid sangat menikmati suasana yang tidak pernah mereka rasakan sebelumnya karena selama ini mereka berputar dengan pelajaran dan suasana kota yang bising.


"Kiara, ini mahkota dari rumput dan bunga yang aku buatkan untuk kamu. Kamu suka sekali dengan mahkota dari rumput liar dan bunga seperti ini." Elang menyodorkan apa yang dia bawa.


Kiara terdiam melihat apa yang ada di tangan Elang. Mega yang ada di sana pun tampak melihat datar pada Elang.


"Lang, maaf aku tidak dapat menerima pemberianmu."


"Kenapa, Kiara? Apa ada yang salah dengan pemberianku?"


"Elang, sekali lagi aku ingatkan, kita sudah tidak ada hubungan apa-apa, dan kita benar-benar harus menjaga jarak."


"Aku hanya memberimu sesuatu yang kamu sukai, Kiara."


"Lang, aku minta maaf karena aku tidak bisa menerima pemberian kamu, dan kamu seharusnya memberikan apa yang Mega suka. Lang, aku bukannya sudah bilang sama kamu, kita sudah tidak bisa bersama dan kamu hormati perasaan Mega, dia adalah calon tunanganmu dan calon istrimu kalau kamu berbuat seperti ini sama saja kamu ingin membuat persahabatanku dengan Mega hancur dan aku tidak akan membiarkannya Lang."


"Kiara, aku tidak bermaksud seperti itu, aku memberikan kamu ini karena aku tahu kamu sangat menyukainya, hanya itu saja. Mega, aku minta maaf, aku tidak bermaksud melukaimu. Oh ya, kado darimu sungguh indah aku akan menyimpannya." Setelah mengatakan itu Elang pergi dari sana.


Elang sengaja mengatakan hal seperti itu hanya untuk terlihat baik di mata Kiara, dan agar dia tidak dimarahi lagi oleh mamanya karena mama Mega yang mengadu pada mamanya.


Kiara dan Mega melihat mahkota dari rumput dia itu ada di bawah. Mega segera mengambilnya dan dia mengatakan pada Kiara bahwa dia akan menyimpannya. Kiara benar-benar salut dengan hati Mega.


"Mega, aku sama sekali tidak ingin menyakiti hati kamu."


"Aku tau Kiara, dan aku tidak menyalahkan kamu. Kiara, aku mau kembali ke dalam bus untuk menyimpan ini agar tidak rusak, kamu dan yang lainnya lanjutkan saja berfoto bersama. Nanti aku akan menyusul ke sana." Kiara mengangguk.


Kiara dan keempat temannya pergi ke sebuah tempat yang banyak ditumbuhi bunga liar yang indah. Semua berfoto di sana. Tidak lama ponsel Kiara berbunyi dan dia melihat ada satu pesan masuk dari suaminya.


"Ara, aku tunggu kamu di sebelah kolam ikan sekarang."


"Di sebelah kolam ikan. Itu di mana ya?" Kiara mencoba mencari di mana ada kolam ikan dan dari kejauhan dia dapat melihat ada sebuah kolam besar di sana.


"Kiara, Mega ke mana, kenapa dia belum ke sini?"


"Mungkin masih di Bus mencari sesuatu. Oh ya! Aku pergi ke kamar mandi dulu ya."


"Ya sudah, tapi jangan lama-lama."


"Iya."


Kiara segera berjalan menuju area kolam ikan dengan terus memperhatikan sekitarnya, dia takut jika ada temannya yang melihatnya menemui kakaknya Mega.


Kiara melihat suaminya sedang berdiri bersandar tepat di belakang tembok kolam ikan.


"Mas, Arthur. Mas, kamu kenapa tidak datang langsung saja? Mega dan yang lainnya sudah tau kalau kamu ada di sini. Jadi, tidak perlu seperti ini."


"Aku ingin memberikan ini buat kamu." Arthur memberikan setangkai bunga mawar merah dan baunya masih tercium harum.


"Terima kasih, Sayang." Kiara menerima bunga pemberian Arthur dengan wajah bahagia. "Kamu bunga ini beli di mana?"


"Aku tidak membelinya, tapi aku memetiknya di sana."


"Apa, Mas?" Kiara langsung tertawa. "Mas, bunga ini pasti ada yang menanamnya, kamu jangan mengambilnya sembarang."


Arthur menarik pinggang Kiara dan mendekatkan tubuh istrinya itu sangat dekat dengannya. "Aku bercanda, Sayang, bunga itu aku beli dari wanita cantik yang ada di sana. Tadi saat melewati rumahnya, aku melihat di depan rumahnya ada kebun bunga mawar yang sedang bermekaran dan sangat indah. Ternyata dia memang suka bunga mawar dan aku bilang ingin membeli setangkai saja untuk istriku."


"Iya, dia sangat cantik, dan memiliki rambut yang sangat indah. Dia malah tidak memperbolehkan aku untuk membayarnya. Dia memberiku cuma-cuma."


"Tentu saja dia memberimu cuma-cuma karena kamu pasti merayunya, Mas." Kiara memberikan lagi setangkai bunga yang dia terima dari Arthur.


"Ara, kenapa bunganya diberikan lagi padaku?"


"Kamu simpan saja, siapa tau bunga ini ditujukan untuk kamu, Mas." Muka Kiara ditekuk kesal.


"Kamu cemburu, Sayang?"


"Siapa yang cemburu."


Arthur malah tersenyum miring. "Kamu jangan cemburu dengan seorang nenek yang usianya hampir delapan puluh tahun, tapi dia memang memiliki rambut putih yang sangat indah."


"Jadi, pemilik kebun bunga mawar itu seorang nenek?" Arthur mengangguk. "Kenapa tidak mengatakannya dari tadi?" Kiara mengambil kembali bunga mawar yang tadi dia berikan pada Arthur.


Tidak lama Arthur melihat ada beberapa teman Kiara yang berjalan menuju arah di mana dirinya dan Kiara sedang berduaan.


"Sayang, Kita bertemu di bukit saja dan aku akan pura-pura baru datang ke sana. Aku mencintaimu. Bye!" Arthur segera memakai kaca mata hitamnya dan berjalan lewat belakang pergi menuju area perbukitan.


"Aku juga mencintaimu, Mas." Kiara berjalan menuju ke arah temannya, tapi langkahnya terhenti saat dia melihat ada Mega di depannya.


Kiara tampak terkejut karena melihat Mega tiba-tiba ada di sana.


"Mega, kamu ada apa ke sini?"


Mega celingukan melihat sekitar Kiara, dia curiga Kiara baru saja bertemu dengan siapa di sana.


"Kamu habis bicara dengan siapa?"


"Oh ... aku tadi bicara dengan seorang penjual bunga mawar ini di sana, tapi dia sudah pergi." Kiara lagi-lagi berbohong.


"Penjual bunga mawar?" Mega menengok, tapi tidak menemukan siapapun di sana. "Kiara mana ada penjual bunga mawar di sana? Kamu jangan mengadi-ngadi, Kiara."


Mega dengan cepat menarik tangan Kiara. "Aduh! Mega, ada apa?"


"Jangan-jangan yang jualan bunga mawar itu hantu. Ayo pergi!" Mega menggandeng tangan Kiara dan membawanya pergi dari sana.


Dalam hatinya Kiara ingin sekali tertawa. Ini adiknya tidak tau diri, masak kakaknya sendiri dibilang hantu.


Mereka kembali berkumpul di tempat utama. Keadaan di sana seketika menjadi ramai saat Arthur tiba dan menyapa Mega adiknya.


"Kak Arthur, aku kira kamu tidak jadi ke sini. Kamu itu, kan orang yang super sibuk, Kak."


"Pekerjaanku di sini tidak terlalu banyak. Jadi, aku bisa menyempatkan berjalan-jalan."


"Kak, nanti aku boleh tidak pergi ke kamar Kakak?"


"Mega, aku juga mau pergi ke kamar kakak kamu." Tia malah melihat pada Arthur dengan mata menggodanya.


"Ya ampun, Tia! Kamu dengar, ya! Kakak aku itu tidak suka gadis kegenitan macam ulet pohon sagu seperti kamu."


"Siapa yang kegenitan? Aku Ini lemah lembut." Gadis bernama Tia itu langsung merubah sikapnya." Mega dan lainnya tampak terkekeh.