
Kiara akhirnya menceritakan semua yang terjadi antara dirinya dan Arthur. Seketika darah mba Tami mendidih mendengarnya. Dia teringat pada kejadian yang dulu hampir dia alami dan mba Tami pasti akan memilih bunuh diri saja jika memang hal buruk itu terjadi padanya karena Mba Tami pasti tidak akan sanggup menghadapi hidupnya setelah kejadian itu.
"Kiara, tapi Arthur sudah sangat berani bahkan bisa dibilang bertanggung jawab karena dia sudah mau mengatakan hal sejujurnya sama ibumu dan menikahimu."
"Mungkin dia takut aku akan merusak nama baiknya saja, oleh karena itu dia akhirnya memilih menikahiku."
"Kalau dia memang ingin bertanggung jawab dan mau menjaga serta melindungimu, maka hal itu akan sangat baik untukmu yang memang sebatang kara sekarang, Ara."
"Meskipun aku sekarang sebatang kara, tapi aku tidak ingin Arthur menjadi bagian dari hidupku. Aku pasti bisa hidup walaupun tanpa Arthur. Nanti, setelah lulus sekolah, aku akan bicara pada Arthur untuk meminta dia menceraikan aku dan dia bisa hidup bebas."
"Apa? Kamu gila, Ara?" Mba Tami tampak terkejut dan terkesan marah karena nadanya terdengar tinggi.
"Aku tidak gila, Mba. Aku dan Arthur tidak bisa hidup bersama karena kami tidak pernah saling memiliki rasa. Kenapa aku dan Arthur menikah itu bukan karena cinta, tapi hanya karena Arthur ingin bertanggung jawab pada perbuatan yang sebenarnya kami berdua tidak inginkanā·
"Aku paham masalah itu, tapi bukan perceraian yang harus kamu lakukan? Kiara, kalau kamu sampai bercerai dengan Arthur hanya karena hal itu, aku pasti Tante Kinan jika masih hidup akan melarangmu bahkan membenci pemikiranmu seperti itu."
"Kenapa Mba Tami malah membawa nama ibuku?"
"Karena ibu kamu juga yang ingin kamu menikah dengan Arthur dan berharap kamu bersama Arthur bisa hidup bahagia, bukan malah bercerai."
"Apa aku bisa hidup bahagia dengan Arthur?"
"Tentu saja bisa kalau kamu mau memaafkan Mas Arthur dan benar-benar mau menerima jika sekarang dia adalah suamimu. Cinta itu bisa datang seiring berjalannya waktu Kiara."
Kiara hanya terdiam tidak menjawab. Dia memang masih ada rasa marah dan kecewa atas apa yang sudah Arthur perbuat padanya, dan Kiara menganggap jika pernikahan ini hanya karena Arthur takut suatu hari nama baiknya akan jelek.
"Kiara!" seru suara seseorang yang mengangetkan Kiara serta Mba Tami.
"Mega?"
Sebuah pelukan dengan erat membuat Kiara terkejut sekali lagi. "Kamu kenapa tidak mengatakan padaku jika ibumu meninggal? Apa kamu sudah tidak menganggapku sebagai sahabat, Kiara?"
"Mega, aku bukannya tidak ingin memberitahumu, tapi kejadian ini begitu cepat dan aku sendiri masih belum bisa menerima semuanya."
"Aku minta maaf karena tidak bisa mendampingimu saat kamu di masa sedih itu." Mega memeluk kembali sahabatnya itu. Kiara pun membalas pelukan sahabatnya itu.
"Hai, Kiara," sapa seseorang yang baru masuk ke dalam rumah Kiara.
Kedua mata Kiara mendelik melihat siapa yang sekarang ada di hadapannya. Pria yang menjadi cinta di hatinya itu berdiri dengan memakai tongkat seperti apa yang terjadi pada Kiara waktu itu.
"Elang, kamu kenapa bisa ada di sini?"
"Kiara, Elang tadi menemuiku di kelas dan mengajakku ke rumahmu setelah pulang sekolah setelah para guru memberitahu kabar itu, dan mungkin besok wali kelas kita akan ke sini."
Elang berjalan dengan tongkatnya dan salah satu tangannya langsung menarik Kiara dan memeluknya dengan erat.
Kedua mata mba Tam-i mendelik melihat hal itu. Kiara tidak seharusnya malah berpelukan dengan pria lain karena dia sudah menjadi istri Arthur.
Kiara melepaskan pelukan Elang, dan menatap pria yang masih dia cintai itu dengan datar. "Lang, terima kasih atas perhatiannya, tapi aku harap kamu tidak lama-lama berada di sini, aku tidak mau kalau mama kamu mengetahuinya, beliau akan marah."
"Kiara, aku mencintaimu dan nanti aku akan bicara pada mamaku. Mamaku pasti akan merestui hubungan kita nantinya."
Kiara menggeleng perlahan dan dengan memantapkan hatinya secara mendadak, Kiara mengatakan jika dia ingin putus dengan Elang.
"Iya, Elang, aku ingin mengakhiri hubungan kita. Kita lebih baik berteman saja atau anggap saja kita tidak saling kenal." Air mata Kiara menetes begitu saja.
"Kamu bicara apa, Kiara? Aku tidak akan mau putus denganmu karena kita saling mencintai."
"Kamu salah, aku sudah tidak memiliki perasaan apapun sama kamu, Elang."
"Apa? Lucu sekali yang kamu katakan. Kamu bukannya sudah tidak mencintaiku, tapi ini semua karena mamaku, kan?"
"Ini tidak ada hubungannya dengan mama kamu, Elang. Apa yang diinginkan mama kamu itu pasti semua orang tua juga harapkan."
Elang mendekat dan dengan perlahan dia mengusap lembut pipi Kiara. "Sayang, aku akan mempertahankan kamu meskipun mamaku tidak menyetujui kita."
Kiara melepaskan usapan tangan Elang. "Lang, tidak ada yang perlu kamu pertahankan karena aku sudah memutuskan semuanya dengan serius. Hubungan kita sudah berakhir."
"Ara! Kok bicara seperti itu, sih? Kamu yakin ingin putus dengan Elang?"
"Mega, aku sudah memutuskan hal ini dari jauh hari. Aku minta maaf jika keputusanku akan membuat kamu marah, Lang."
"Aku tidak akan mau memutuskan hubungan denganmu, Kiara. Sampai kapanpun kamu itu tetap kekasihku."
"Maaf, ya Lang. Aku bukannya ikut campur, tapi sebaiknya kamu menghormati apa yang sudah Kiara putuskan. Lang, jangan membebani dia dengan keinginanmu yang akan membuat Kiara dalam masalah bahkan kesedihan. Kamu ingin mempertahankan Kiara, apa kamu sanggup melawan kedua orang tuamu? Kamu sanggup menerima dibenci oleh kedua orang tuamu? Kamu masih membutuhkan mereka. Kiara juga membutuhkan ketenangan saat ini. Kasihan dia jika harus berurusan dengan mama kamu, biarlah Kiara bersama dengan seseorang yang nanti bisa menerima dia apa adanya dan keluarganya juga bisa menerimanya dengan baik."
"Kiara, apa kamu mau menunggu? Aku akan kuliah dulu sampai selesai, dan saat sukses nanti aku akan menikahimu, walaupun kedua orang tuaku tidak setuju." Tangan Elang menggenggam tangan Kiara."
Jujur saja dalam hati Kiara ingin menangis dan memeluk Elang, bahkan mengatakan dia mau menunggu Elang, tapi hal itu tidak mungkin dapat terjadi karena Elang belum tentu dapat menerima keadaan Kiara saat ini, apa lagi Kiara sudah menjadi istrinya sah dari Arthur.
"Aku tidak bisa, Lang. Lupakan tentang hubungan yang pernah terjalin di antara kita. Sekarang kita lebih baik menjadi teman saja." Kiara membalikkan badan membelakangi Elang.
Kiara mencoba menguatkan hatinya agar tidak menangis lagi di depan Elang.
"Ya sudah kalau itu memang keputusanmu, terima kasih atas cinta dan perhatianmu selama ini."
Elang berjalan dengan menggunakan tongkatnya keluar menuju mobil Mega karena tadi Elang izin pergi dengan Mega dan mamanya menyetujuinya.