Be Mine

Be Mine
Undangan Ulang Tahun



Gio tampak sedang berpikir mencari solusi dari pertanyaan Arthur saat ini.


"Dia itu gadis yang sangat keras kepala sekali. Aku sendiri sampai kesal kadang dibuatnya."


"Kamu maklum saja jika dia bersikap seperti itu sama kamu Arthur."


"Tapi kami sudah menikah, Gio. Aku ingin bisa menjalani kehidupan rumah tangga yang semestinya. Aku juga akan berusaha menjadi suami yang baik dan mencoba mencintainya."


Gio mendekatkan wajahnya pada Arthur yang sedang duduk tepat di depannya. "Jadi, kamu belum jatuh cinta pada gadis keras kepalamu itu?" Gio melihat dengan wajah penasaran.


"Em ... itu." Arthur tampak bingung.


"Iya, aku tau yang kamu rasakan. Kalau seperti itu memang seharusnya kamu beri waktu saja dulu."


"Sampai kapan? Kalau aku dengan Kiara terus hidup berjauhan sendiri-sendiri seperti ini, apa kami akan bisa menjadi keluarga yang sempurna? Yang ada malah Elang memiliki kesempatan untuk mendekatinya lagi."


"Cemburu ya?"


"Tentu saja. Kiara itu istriku," jelas Arthur cepat.


"Apa selain kamu ingin hidup layaknya sebuah keluarga yang bahagia dengan Kiara, kamu juga sebenarnya sudah ingin merasakan lagi malam pengantin dengannya?"


"Apa maksudmu?"


"Ayolah, Bro, kamu pasti tau yang aku maksud. Itumu sudah tidak tahan, ya karena pernah merasakan sensasi yang luar biasa saat bersama Kiara?"


"****!" Arthur secepat kilat melempar sahabatnya dengan note book yang ada di depannya.


Namun, Gio dengan cepat menghindarinya dan malah tertawa cekikikan. Ini Gio memang mulutnya mesti dipasang saringan yang buat santan ini.


"Aku ini benar-benar ingin agar kamu membantuku mencari solusinya agar Kiara dan aku tidak tinggal berjauhan seperti ini."


"Sebenarnya mudah, Bro. Kenapa kamu tidak paksa saja? Ancam saja dia dengan apapun. Kamu suaminya dan kamu berkuasa, istri kecilmu itu tidak akan berani walaupun dia keras kepala, tapi kalau dia nekat sejati, aku angkat tangan. Cari saja wanita lain yang bisa menuruti apa kata suaminya."


"Jangan asal bicara. Aku tidak akan pernah melepaskan Kiara. Dia sudah menjadi milikku dan selamanya akan menjadi milikku." Wajah Arthur terlihat serius.


"Hem ...! Dia sudah jatuh cinta, tapi tidak sadar," gerutu Gio pelan.


Arthur kembali memikirkan sesuatu. Dia bukannya tidak mau melakukan paksaan pada Kiara, hanya saja, dia tidak mau jika Kiara nanti akan semakin membencinya, jika Arthur selalu mengancam atau melakukan pemaksaan pada istri kecilnya itu.


"Arthur, ponsel kamu berdering." Gio mencoba menyadarkan temannya yang sedang melamun.


"Tami?" Arthur menjawab panggilan dari Tami.


"Halo, Mas Arthur."


"Iya, Tami, ada apa?"


"Mas Arthur, aku hanya ingin memberitahu jika setelah acara pengajian Ibu mertua Mas Arthur, aku akan pergi selama beberapa hari ke desa di mana kedua orang tua kekasihku tinggal. Jadi, Kiara pasti di rumah sendirian. Maksudku, alangkah baiknya jika dia tinggal denganmu, tapi kamu tau sendiri bagaimana sifat istrimu itu."


Arthur terdiam sejenak. Arthur sudah pernah mengajaknya ke apartemennya untuk tinggal di sana sementara, tapi Kiara bersikeras menolaknya.


"Nanti aku akan bicara lagi dengan Kiara. Terima kasih atas informasinya."


"Iya. Aku senang bisa membantu kalian berdua dan berharap Kiara mau bersikap mau menerimamu dan melupakan tentang masa lalu diantara kalian."


"Iya, Tami."


Arthur mematikan panggilan teleponnya. Dia memijit kepalanya yang sebenarnya tidak pusing, hanya saja dia agak kesal dengan sikap istrinya itu.


***


Bel pulang berbunyi. Mega menghampiri meja Kiara yang sedang memasukkan alat tulisnya ke dalam tasnya.


"Kiara, aku minta maaf tadi menghubungi Arthur di jam yang sangat mepet. Kamu tadi berangkat ke sekolah sama siapa? Apa Arthur yang mengantar kamu?"


"Iya, tadi waktu aku menunggu angkutan umum, Arthur datang menghampiriku dan dia mengajakku untuk ikut dengannya."


"Syukur kalau begitu. Kalau begitu sekarang kamu ikut aku saja. Aku akan mengantar kamu pulang."


"Mega, aku tidak bisa karena aku mau jalan kaki melihat toko kue ibuku."


"Kamu sendirian? Mba Tami tidak ikut ke sana?"


"Tadi aku sudah mengirim pesan padanya kalau aku mau ke toko kue untuk membersihkan sisa kue yang ada di sana."


Kiara juga sudah mengirim pesan pada Arthur jika dia tidak perlu dijemput karena mau mampir dulu ke toko kue milik ibunya.


Arthur hanya membaca saja pesan dari Kiara tanpa membalasnya.


"Kalau begitu aku antar saja, daripada kamu jalan, lebih baik aku antarkan kamu ke sana, tapi aku minta maaf tidak bisa membantumu karena mamaku sudah menunggu di rumah. Kiara, sebenarnya aku mau memberikan kamu ini, tapi aku merasa bingung." Mega menyodorkan sebuah kartu undangan ulang tahun


"Ya ampun! Aku sampai lupa kalau sebentar lagi adalah tanggal ulang tahunmu." Kiara memeluk sahabatnya itu.


"Aku tidak enak jika harus mengundang kamu ke acara pesta ulang tahunku, dahal kamu masih berduka. Undangan teman-teman lainnya sudah aku kirim ke rumah mereka, tapi punya kamu aku mau yang memberikan sendiri."


"Tidak apa-apa, Mega. Kamu tidak perlu sungkan begitu, dan terima kasih atas undangannya."


"Tapi kamu datang, kan?" tanya Mega penasaran.


"Aku tidak bisa berjanji."


"Apa karena kamu tidak mau bertemu dengan Elang? Mamanya juga nanti diundang oleh mamaku."


Kiara terdiam sejenak. Sebenarnya itu juga alasan Kiara, tapi selain itu dia juga pasti akan bertemu dengan suami tak dianggapnya itu.


Namun, jika Kiara tidak datang, Mega pasti akan kecewa pada Kiara. "Mega, aku akan datang. Bagaimanapun juga ini ulang tahun sahabat baikku yang sangat aku sayangi."


"Yeah! Aku senang sekali kamu mau datang." Mega kembali memeluk Kiara dengan erat. "Aku senang jika kamu bisa kembali ceria lagi, Ara. Hidup kamu masih panjang untuk mencapai apa yang diinginkan oleh ibumu."


Kiara diantar oleh Mega pergi ke toko kuenya, tapi Mega tidak bisa ikut membantu Kiara di sana karena dia harus pergi dengan mamanya untuk membeli gaun serta memeriksa persiapan pesta ulang tahun Mega yang tahun ini dirayakan dengan sangat megah.


"Toko kue ini kotor sekali, dahal baru beberapa hari tidak aku bersihkan." Kiara mulai mengambil dus besar dan mengeluarkan semua kue yang masih tersisa di dalam etalase yang sudah tidak layak untuk dimakan. Kiara akan membuang semua kue itu dan membersihkan etalase serta alat-alat di sana.


"Ibu, setelah ini Ara tidak bisa lagi menikmati kue buatan ibu." Gadis bernama Kiara itu mengusap air matanya yang menetes perlahan mengingat mending ibunya.


Kiara membawa dus berukuran sedang yang berisi kue yang akan dibuang dengan kedua tangannya memeluk kardus itu. Saat dia berjalan menuju pintu keluar untuk membuang kue itu, dia melihat seseorang masuk dari pintu utama.


"Arthur?" Langkahnya terhenti saat pria yang adalah suaminya mendekatinya.


Arthur mencondongkan tubuhnya dan mendekatkan wajahnya pada wajah Kiara.


Cup