
"Dia masih sangat mencintaimu, Kiara."
"Seiring berjalannya waktu semua akan berubah." Tangan Kiara merangkul pundak Mega. "Kamu tau tidak? Aku dengan pria yang saat ini aku cintai dulunya juga tidak suka, malahan aku membencinya karena sesuatu hal, tapi berjalannya waktu, aku jatuh cinta dengannya, bahkan sangat mencintainya."
"Mungkin kalau sama orang lain aku bisa, tapi dengan Elang? Aku tidak tau, apa lagi aku sendiri juga tidak memiliki perasaan apapun, tapi kita dipaksa untuk menjadi sepasang kekasih, bahkan bisa saja lebih dari itu." Mega menundukkan kepalanya.
Kiara tau sahabatnya itu pasti berat jika nanti akan menjalani kehidupan bersama dengan orang yang sama sekali tidak pernah dia cintai, apalagi lelaki itu adalah mantan dari sahabatnya.
"Kiara," panggil Elang yang ternyata menghampiri Kiara dan Mega yang sedang berbicara.
"Ada apa, Lang?"
"Aku mau minta tanda tangan kamu di bajuku ini."
"Untuk apa?"
"Untuk kenang-kenangan, walaupun kita sudah memiliki banyak kenangan, tapi setidaknya aku memiliki tanda tangan kamu di seragam putih abu-abuku." Elang melirik pada Mega, tapi tangannya menyodorkan spidol pada Kiara.
Kiara tidak mau memperpanjang dengan menolak permintaan Elang. Dia membubuhkan tanda tangannya dan menuliskan pesan di baju Elang tepat di dadanya. Elang memperhatikan wajah Kiara yang tengah fokus menulis.
"Entah kenapa aku melihat kamu semakin cantik, Kiara," puji Elang.
Kiara segera menarik dirinya dan memberikan spidol Elang. "Sudah selesai."
"Kalau begitu aku juga mau memberimu tanda tanganku. Bolehkan?"
Kiara mengangguk dan dia berbalik badan agar Elang bisa memberikan tanda tangan pada punggung Kiara.
Elang sekarang yang tampak fokus menulis sesuatu pada punggung Kiara. Mega yang berdiri di tempatnya dari tadi melihat Kiara dan Elang.
"Sudah selesai. Terima kasih, Kiara, dan aku senang kita masih bisa berteman baik."
"Kamu tidak meminta atau bertukar tanda tangan dengan Mega?" tanya Kiara yang melihat seolah ada jarak antara Mega dan Elang.
Elang menatap ke arah Mega dengan tajam. "Tidak perlu." Elang berjalan pergi dari sana dengan wajah dinginnya.
Kiara mendekat pada Mega, dan Kiara melihat ada kesedihan pada wajah Mega. "Sejak aku menyetujui perjodohan itu, Elang seolah menyalahkan aku, padahal aku sudah berusaha mengatakan pada mamaku, tapi keadaan tidak bisa aku rubah."
"Kenapa dia seperti itu? Dia juga harusnya tau jika kamu sudah berusaha menolak perjodohan ini. Aku akan bicara pada Elang."
"Tidak perlu, Kiara. Kalau kamu terus mendekati Elang, itu artinya kamu memberikan kesempatan untuk Elang terus mengingatmu dan dia akan terus menyalahkan aku." Mega berlari pergi dari hadapan Kiara.
Kiara tampak bingung sekarang, dia pun merasa bersalah pada Mega. Entah kenapa semua ini malah seperti ini?
***
Hari ini Arthur membawa Kiara pergi ke kantornya setelah dia menjemput Kiara di sekolahnya dan tentu saja cara menjemputnya masih sama main kucing-kucingan dengan teman-teman Kiara.
"Mas! Kenapa aku dibawa ke sini? Antarkan saja aku pulang ke apartemen." Kiara yang menunjukan wajah tidak inginnya berada di perusahaan Arthur.
"Kenapa tidak mau ke sini? Bukannya kamu sudah pernah ke sini dan mereka pasti masih mengingatmu."
"Iya, mereka mengingatku sebagai sugar babymu. Mas, aku pulang saja ke apartemen karena aku capek sekali, apa lagi kamu lihat baju seragam yang aku gunakan banyak sekali tulisan dan coretan tanda tangan dari teman-temanku."
Arthur mengambil suitnya dan memakaikan pada Kiara. "Sekarang kamu tidak perlu khawatir masuk ke dalam kantorku. Kiara, aku masih ada sedikit pekerjaan penting. Jadi, aku mau menyelesaikannya dulu dan kemudian kita pulang." Tangan Arthur menggosok lembut pipi istrinya.
"Tapi, aku kamu antarkan pulang dulu, kan, bisa?"
"Aku ingin melihat kamu terus dihadapnku." Arthur menorehkan senyum yang membuat Kiara tidak bisa berkutik lagi.
"Selamat siang, Pak." Wanita yang menjadi sekretaris Arthur itu melihat ke arah Kiara juga dan dia masih mengenali wajah Kiara.
"Siang. Apa dokumennya sudah ada di atas mejaku?"
"Su-sudah, Pak." Wanita itu bingung saat di tanya Arthur sedangkan dia melihat ke arah Kiara yang tangannya digandeng oleh Arthur. Kiara pun sedang melihatnya dan tersenyum manis.
"Aku tidak ada jadwal kegiatan lainnya, kan?"
"Tidak ada, Pak, hanya dokumen penting itu saja setelah itu tidak ada hal lainnya." Sekretaris Arthur pun membalas senyum Kiara.
"Ya sudah kalau begitu, terima kasih." Arthur berjalan masuk ke dalam ruangannya ditemani oleh Kiara.
Di dalam ruangan Arthur, Kiara melepas suit suaminya dan dia duduk di sofa panjang yang ada di sana. "Sekretarismu cantik sekali, apa dia sudah menikah?"
"Belum," jawab Arthur singkat sembari melepas kancing pada lengan kemejanya. Dia duduk di kursi utamanya dan mulai membaca dokumen yang ada di tangannya.
"Kenapa tidak jatuh cinta pada sekretarismu sendiri. Kalian seumuran, dan pasti cocok."
"Dia bukan tipeku," lagi-lagu Arthur menjawab singkat tanpa melihat pada Kiara.
"Aku juga bukan tipemu, kenapa kamu jatuh cinta padaku?"
"Karena aku harus bertanggung jawab dengan apa yang harus aku lakukan."
"Oh ... jadi hanya karena itu." Wajah Kiara cemberut.
"Ara, kemarilah," titah Arthur.
"Untuk apa?" jawab Ara malas.
"Bagaimana menurutmu dengan wanita ini karena aku mau mencari manager untuk restoran yang akan aku buka di luar kota."
"Apa?" Ara terkejut. Ara saja cemburu pada Manda si manager di restorannya itu. Eh, sekarang malah mau mencari calon manager untuk restoran lainnya.
Ara seketika berjalan dengan masih wajah kesal ke arah meja Arthur.
Arthur tiba-tiba menarik tangan Kiara sehingga tubuh gadis itu terduduk pada pangkuannya. "Mas!"
"Kenapa dari tadi pertanyaanmu seolah-olah ingin mencari tau tentang aku mencintai kamu apa tidak? Aku mencintaimu Kiara Tizania, meskipun kamu bukan tipeku, dan aku sendiri tidak tau kenapa bisa sangat mencintaimu."
Arthur menyematkan kecupannya pada bibir Kiara. Kiara pun membalasnya dengan lembut.
"Entah kenapa aku selalu paranoid sendiri sekarang, jika melihat banyak wanita cantik di sekelilingmu."
"Wajar jika kamu merasa takut, aku saja takut setiap kamu ke sekolah dan bertemu dengan mantan kekasihmu itu."
"Aku sudah tidak memiliki perasaan apapun sama dia, Mas. Elang juga akan bertunangan dengan Mega."
"Iya, aku belum bertanya pada mama dan Mega soal itu. Oh ya! Apa yang Elang lakukan tadi saat aku menghubungimu?"
"Dia hanya minta aku memberi kenang-kenangan pada seragam sekolahnya seperti lainnya, dan dia gantian membubuhkan tanda tangan di bajuku."
"Di mana dia menuliskannya?"
"Di punggungku." Kiara menunjukkan punggungnya pada Arthur.
"Kiara, I Will Always Love You."